Aroma minyak kayu putih dan keheningan kaku menyelimuti kamar Tegalwangi malam itu. Usai pertengkaran hebat di ruang tengah yang menyisakan isak tangis histeris, April terduduk di tepi ranjang dengan mata sembap dan hidung kemerahan. Di sampingnya, Nivir menyandarkan punggung ke dinding kamar seraya memeluk Rissa, menatap nanar pintu lemari kayu milik orang tua mereka yang kini menganga lebar. Sebagian besar pakaian Mahendra sudah lenyap dari gantungan, hanya menyisakan beberapa helai kemeja tua berbau pelitur dan tumpukan nota workshop rotan yang tercecer kaku di atas meja.
Dengan jemari gemetar, April menekan nomor Tian. Begitu sambungan terhubung, suara April pecah sebelum ia sempat mengumpulkan udara untuk berbicara.
"Teh... Papa beneran pergi," bisik April, suara parau dan bergetar hebat. "Aku sama Kak Nivir nggak pernah nyangka Papa bakal tega nikah secepat ini... Baru tadi sore kita tahlilan dua tahun Mama, Teh."
Di seberang saluran, napas Tian mendadak tercekat. "Pergi gimana maksudnya?"
"Papa kabur! Entah dia pergi ke rumah wanita itu atau ke rumah Om Mahesa, aku gak tahu!"
"Kenapa dia jadi kayak gitu? Roqirix itu wanita macam apa sih, sampai bikin orang tua kita kehilangan iktikad baik buat duduk bareng kita?"
"Kami gak ada yang tahu awalnya, Teh," April menghela napas. "Cuma habis magrib tadi, setelah Papa ngasih tahu mau nikah ... aku sama Kak Nivir nangis. Gak lama ada neneknya Zaskia. Beliau ngasih tahu kalau Papa pergi. Anehnya gak bilang-bilang kami, Teh!"
Keheningan malam itu berganti menjadi rentetan jam yang berjalan amat lambat. Usai sambungan telepon terputus, April terbaring menatap langit-langit kamar yang remang, mendengarkan deru angin malam yang menyelusup di sela-sela jendela. Sebagai anak bungsu yang baru saja memegang ijazah kelulusan, dadanya dihimpit beban yang teramat berat.
Bayangan tumpukan utang bahan baku rotan keluarga, nota tagihan workshop yang belum terbayar, serta ketidakpastian nasib rumah tua ini berputar-putar di kepalanya bagai lingkaran tanpa muara. Di saat teman-teman seusianya memikirkan karier awal dengan tenang, April harus mengepal jemarinya sendiri, menatap kemeja wearpack yang belum terpakai, menyadari bahwa mulai besok, ia harus berdiri di atas kakinya sendiri tanpa lagi memiliki tempat bersandar. Rasa nelangsa sebagai anak bungsu yang dipaksa dewasa sebelum waktunya merembes pelan bersama air mata yang mengering di ujung bantal.
Di kegelapan kamar, pandangan April tertambat pada pigura kayu rotan di atas meja belajar, foto keluarga utuh saat resepsi Tian beberapa tahun lalu. Di sana, mamanya tersenyum anggun memangku Rissa, sementara sang papa merangkul bahunya dan kedua kakaknya dengan binar bangga.
Dulu, rumah Tegalwangi adalah benteng paling kokoh yang tak tersentuh kekecewaan. Mahendra adalah pelindung utama yang selalu memastikan piring anak-anaknya terisi dan impian mereka terjaga. April teringat betapa antusiasnya Rokasya saat menyiapkan bekal saat pendaftaran kuliahnya. Ia juga tringat janji ayahnya yang ingin melihat putri bungsunya memakai helm proyek di tengah kilang minyak. Namun kini, baru dua tahun tanah makam Mama mengering, fondasi 'Keluarga Cemara' yang mereka banggakan runtuh berkeping-keping.
Pintu kamar berderit pelan, Nivir melangkah masuk tanpa suara lalu duduk bersandar di pinggir ranjang, menatap April dalam temaram lampu tidur.
"Dek... kamu jadi masukin lamaran ke Cilacap?" tanya Nivir.
April mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, mengangguk lambat. "Jadi, Kak. Perusahaan yang aku impikan selama ini, Kak. Rencananya kalau udah diterima aku mau langsung nabung untuk bayar tunggakan nebus rumah ini. Papa udah gak bisa diharapkan lagi."
"Kamu punya janji mau bantu Papa bayar utang lainnya, kan?"
April mengangguk.
"Gak usah! Utang lain biarin aja gak perlu dibayar. Kalau memang serius, fokus aja untuk Nebus sertifikat rumah." Nivir memalingkan wajah, mengusap kasar dadanya sendiri yang terasa sesak. "Maafin Kakak ya, Dek... sebagai anak sulung, Kakak belum bisa ngasih yang terbaik dan gak bisa tanggung semuanya."
"Bukan salah Kak Nivir," bisik April dengan suara pecah, meraba jemari kakaknya lalu menggenggamnya erat. "Kita semua kan kehilangan Mama, tapi kenapa cuma Papa yang merasa paling berhak lari dan nyari kebahagiaan sendiri? Kenapa Papa tega hancurin rumah yang udah dibangun puluhan tahun?"
"Udah sekarang kita bertiga fokus membahagiakan diri aja, kamu, kakak, Tian...." Nivir menghela napas. "Kakak suruh Tian liburan di kampung Rasyid. Kita juga nanti liburan ya, sebelum Kak Dhika balik kerja lagi."
April mengangguk. Setelah itu Nivir kembali ke kamarnya, menyisakan keheningan menggantung yang diselingi isak pelan April. Impian sederhananya untuk menikmati gaji pertama bersama keluarga yang utuh, membelikan Papa kemeja baru, dan merayakan kelulusan bersama-sama kini menguap bagai fluida yang menguap di udara terbuka.
Malam berikutnya, kebenaran pahit itu akhirnya berlabuh tanpa bisa ditawar lagi. Suasana rumah terasa kian hampa usai siang harinya prosesi pernikahan Mahendra berlangsung di tempat lain, tanpa kehadiran, restu, maupun sapuan senyum dari ketiga putri kandungnya.
Suara Tian di panggilan grup terdengar nyaring. April menyimak penjelasan kakaknya dengan baik. "Mang Ragil baru saja telepon Teteh, dia bilang Papa udah di rumah wanita itu, lagi layanin pelanggan di kiosnya."
"Ohh... kios bensin yang besarnya ngalahin kilang minyak itu?"
April selalu bicara sarkasme seperti itu jika ada yang menyebut kios Roqirix. Pasalnya, Mahendra sering menceritakan pada banyak orang mulai dari Tian, karyawan di workshop, Mahesa, Ragil juga para tetangga bahwa salah satu yang membuatnya tertarik pada Roqirix adalah sikapnya yang mandiri dan pekerja keras. Wanita yang lebih tua dari Mahendra itu mengatakan bahwa kios bensinnya sehari bisa laku 200 liter.
Namun, saat April memata-matai lokasi kios sekaligus rumah Roqirix, tempatnya kecil. Lokasinya memang pinggir jalan utama, tetapi sangat sepi. Dari mana pelanggan yang membeli hingga 200 liter itu? Sehingga April menggerutu, "Kenapa gak sekalian aja 10.000 liter biar ngalahin kilang minyak!"
"Intinya Mang Ragil cuma ngasih tahu kalau Papa udah resmi nikah sama Roqirix itu!"
Suara di ujung telepon berubah menjadi deru napas berburu yang sarat akan kepedihan. April refleks meremas ponselnya erat-erat, membayangkan wajah almarhumah ibunya yang seolah tak lagi dihargai sedikit pun oleh pria yang puluhan tahun mendampinginya.