Denting halus sendok makan yang bertumbukan dengan piring porselen menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruang makan rumah Nivir di kompleks perumahan BSD sore itu. Setiap tiga bulan sekali, seluruh perwakilan HSE Officer dari berbagai wilayah operasi Hyperion dikumpulkan ke kantor pusat untuk evaluasi kinerja kuartalan. Momentum tiga bulanan ini selalu dimanfaatkan April untuk mudik... bukan lagi ke Cirebon, melainkan ke kediaman kakak tertuanya di Tangerang Selatan.
Dua bulan setelah Mahendra mengikat janji dengan Roqirix, Nivir memutuskan angkat kaki dari Tegalwangi. Kepindahan Adhika yang mendapat promosi dan dikembalikan ke kantor pusat Indonesia menjadi momentum pas bagi Nivir untuk memutus dinding interaksi dengan ayahnya, membawa Rissa keluar dari rumah yang kian meracuni ingatan.
Empat bulan berikutnya, tepat setelah en bulan April bekerja, Tian mengekor langkah sang kakak. Istri dari seorang penghafal Al-Qur'an itu memboyong Tafi ke Jakarta mengikuti Rasyid yang resmi diterima sebagai Account Manager di Pegadaian Syariah pusat.
Rumah tua Tegalwangi, bangunan megah seluas lima puluh bata atau tujuh ratus meter persegi dengan rumah utama sepuluh bata di dasar dan sepuluh bata di lantai atas, serta workshop finishing sepuluh bata di samping hingga belakangnya... kini berdiri kosong tanpa penghuni. Rumah yang beralaskan kenangan almarhumah Rokasya itu kini memungut debu dalam keheningan, ditinggalkan ketiga putri kandung Mahendra yang memilih mengungsi dari kepedihan. Hanya sesekali dibantu nenek Zaskia untuk menyapu halaman.
Nivir meletakkan cangkir teh hangatnya ke tatakan, menatap April yang baru saja selesai membalas pesan dari rekan kerjanya di Cilacap.
Dari arah dapur, Tian melangkah mendekat seraya menimang Tafi yang sudah makin menggemaskan, disusul Rasyid yang membawa buku catatan kecil bersampul hitam. "Kebetulan kita lagi ngumpul begini," ujar Rasyid pelan seraya menarik kursi di samping Nivir. "Soal penawaran restrukturisasi dan pelunasan sertifikat rumah Tegalwangi di Cirebon kemarin, aku udah minta rincian akhirnya dari orang legal."
April mendadak memajukan posisi duduknya, fokus mental perminyakan yang biasa ia pakai untuk menghitung laju alir fluida seketika aktif. "Berapa rincian akhirnya, Kak?"
Rasyid membuka buku catatan hitamnya, menunjukkan deretan angka yang ditulis rapi. Pinjaman modal kerja usaha rotan Mahendra yang ditarik sejak 2016 itu semula berpokok awal lima ratus juta rupiah dengan agunan sertifikat tanah lima puluh bata. Sebelum Mahendra lupa diri oleh kehadiran Roqirix dan membiarkan pembayaran angsurannya macet total, sang ayah sebenarnya sempat mencicil angsuran. Namun, karena macet total dari tahun 2020 hingga pertengahan 2024, bank menerapkan "pembunuh berdarah dingin" berupa akumulasi bunga tunggakan, denda keterlambatan, serta biaya penalti administrasi hukum sepuluh juta rupiah.
"Total yang ditagihkan bank sempat menyentuh dua ratus tujuh puluh juta," terang Rasyid dengan nada tenang khas orang keuangan. "Tapi ternyata sebelum nikah, sekitar tujuh bulan yang lalu Papa sempat mencicil. Setelah aku negosiasi potong denda dan penalti pelunasan dipercepat, sisa bersih yang wajib kita setor tinggal seratus tiga puluh juta rupiah pas."
"Seratus tiga puluh juta..." gumam April pelan, menghitung dengan cepat di dalam kepalanya. Dengan gaji pokok delapan juta rupiah sebagai HSE Officer kontrak satu tahun di Hyperion Cilacap, ditambah tunjangan harian lapangan sebesar dua ratus ribu rupiah per hari yang mendongkrak pendapatannya menyentuh belasan juta rupiah per bulan, angka itu sangat rasional untuk dituntaskan.