Minggu terakhir di bulan ke-12 masa kontraknya tiba lebih cepat dari perkiraan. Di kantor pusat Hyperion di BSD, April merapikan berkas Exit Interview dan mengembalikan beberapa fasilitas kerja divisi HSE. Usai mengantongi surat keterangan selesai masa tugas dan menyelesaikan pencairan sisa tunjangan lapangan Cilacap, April tidak menaiki travel menuju rumah Nivir di Serpong. Sebaliknya, ia melangkah ke Stasiun Gambir, memesan tiket kereta eksekutif malam tujuan Cirebon tanpa memuat satu pun kabar di grup obrolan bersama kedua kakaknya.
Rencana pemulihan kondisi finansial dan kariernya berjalan sesuai kalkulasi rasional, sertifikat lima puluh bata rumah di Tegalwangi sudah resmi berada di tangan mereka bertiga dan rekam jejak kinerjanya di Hyperion memberi peluang besar bagi jenjang berikutnya. Namun, ada satu variabel kritis yang belum pernah selesai dalam persamaannya, yaitu kondisi Mahendra.
April sengaja menyembunyikan kepulangannya dari Nivir dan Tian. Ia tahu betul jika kedua kakaknya mendengar ia kembali hanya untuk merawat pria yang pernah meninggalkan serta memaki mereka, penolakan keras pasti akan membendung langkahnya.
Tiba di Cirebon menjelang subuh, April tidak langsung menuju Tegalwangi, melainkan berbelok ke rumah Mahesa. Suasana rumah paman kandungnya itu hening, hanya ada kepulan asap teh panas di meja teras dan bau minyak angin yang menyengat. Ketika pintu kamar depan dibuka pelan oleh pamannya, napas April seketika tertahan di ambang pintu.
Di atas kasur tipis yang tergelar di lantai, Mahendra terbaring miring dengan selimut lusuh menutupi badannya yang menyusut drastis. Pria yang dulu bahunya begitu tegap saat memikul ikatan rotan mentah di workshop, kini tampak begitu ringkih... pipinya kempot, tulangnya menonjol kaku, dan sepasang matanya celong menatap kosong ke arah dinding keramik.
Dinding pembatas yang selama setahun penuh April bangun dengan rasa benci seketika retak, membiarkan air mata yang ia tahan sejak dari Gambir menetes deras membasahi pipinya. April berlutut di samping kasur, jemarinya yang bergetar menjangkau telapak tangan Mahendra yang dingin dan kasar oleh bekas kapalan kerja puluhan tahun.
"Papa..." bisik April, suaranya pecah di tengah keheningan kamar.
Mahendra berkedip cepat, mengalihkan pandangannya yang redup ke arah wajah putri bungsunya. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergetar hebat saat mencoba mengujarkan nama April, namun tak ada suara nyaring yang keluar selain hembusan napas parau. Air mata pria tua itu menetes menyamping, basah di sudut bantal lusuh yang ia gunakan. Pria yang dulu membiarkan anak kandungnya dipojokkan dan diancam somasi demi membela Roqirix, kini ditinggalkan sendirian saat pinggangnya cederai akibat jatuh dan tak lagi sanggup menghasilkan uang.
"Kenapa Papa bisa sampai kayak gini?" pangkas April seraya menyapu air mata dengan punggung tangannya, jemarinya cekatan meraih wadah air hangat dan kain lap untuk membersihkan lengan serta wajah ayahnya. "Mana janji wanita itu yang katanya cuma butuh teman masa tua? Mana wanita yang Papa belain habis-habisan sampai Papa pergi ninggalin kita dan ngatai aku anak durhaka?"
Mahendra menggeleng lambat, dadanya kempis-kembang oleh isakan tanpa suara. "Papa emang salah, Dek... Papa minta maaf... Papa dosa sama kalian..."
April meremas kain lap di dalam mangkuk air hingga jemarinya memutih, menahan gemuruh emosi yang memuncak di dadanya. Pikirannya bekerja cepat, menimbang setiap risiko dan luka mendalam yang ditanggung Nivir serta Tian hingga detik ini.