Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #18

18. Setelah Mama Pergi

Karpet merah Sasana Budaya Ganesha riuh oleh gaung musik gamelan dan langkah ribuan wisudawan. Di antara barisan lulusan Magister Teknik Geologi ITB, April berdiri tegap dalam balutan toga hitam bermanset kuning emas. Pada usianya yang sudah menginjak dua puluh tujuh tahun, gelar S2 resmi tersemat di belakang namanya. Dua tahun menggembleng diri di PT LAPI ITB sembari menuntaskan tesisnya menempanya menjadi tenaga ahli yang matang... memadukan ilmu Teknik Perminyakan S1 dan analisis geologi bawah permukaan S2 untuk simulasi reservoir berpresisi tinggi.

Di pelataran luar Sabuga, suasana kehangatan keluarga menyambut langkahnya. Mahendra, yang kini melangkah dengan bantuan tongkat kayunya, berdiri bangga didampingi Tian, Rasyid, serta Tafi yang sibuk berlarian. Nivir datang memboyong Adhika dan Rissa dari BSD. Tak ada lagi sisa-sisa badai Tegalwangi atau raut tegang dari masa lalu; keluarga itu kini berkumpul dalam keutuhan yang berhasil mereka rajut kembali.

"Selamat, Bu Magister," sebuah suara hangat menyapa dari arah samping.

Julian melangkah mendekat seraya mengulurkan seikat buket bunga hydrangea biru yang cantik. Kali ini, tidak ada lagi jarak atau penolakan... April menyambut buket itu dengan senyuman lebar yang mekar tulus dari bibirnya.

Nivir yang berdiri di sebelah Adhika melipat tangan di dada, menatap Julian dengan kening terangkat setengah menggoda. "Ngomong-ngomong, Jul ih... utang lima belas juta si April yang waktu itu gimana? Udah kamu tagih belum?"

Julian terkekeh pelan, mengusap tengkuknya seraya melirik April. "Udah lunas dari lama, Kak. Lagian bunga utangnya juga cuma diganti kopi susu tiap kali saya mampir ke LAPI."

Lihat selengkapnya