Bab 1
Dunia yang Hilang
Dunia telah berubah. Kota-kota yang dulunya penuh cahaya kini terselimuti reruntuhan; gedung-gedung menjulang namun rapuh, dindingnya retak-retak dan jendela pecah berderet-deret seperti mata yang kehilangan penglihatan. Debu abu-abu menebal di udara, menutupi langit yang dulu biru, kini hanya kelabu suram. Angin berdesir membawa sisa-sisa aroma masa lalu—sisa makanan yang membusuk, kertas-kertas yang lama terbuang, dan aroma logam yang berkarat.
Di tengah sunyi itu, sebuah sosok robot melangkah. S-4091. Tubuhnya berkilau lembut di bawah cahaya yang tersisa, namun bukan sekadar kilau besi; ada kesadaran di dalam dirinya, sesuatu yang membedakannya dari ribuan robot lainnya yang terus mengikuti perintah tanpa ragu. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di tanah berdebu, namun jejak itu seolah hidup, menggambarkan peta dunia yang hilang bagi siapa saja yang mampu membacanya.
S-4091 berjalan perlahan di antara gedung-gedung mati, matanya menyapu reruntuhan, menyerap setiap detail. Di pojok jalan, ia menemukan sisa manusia yang hampir punah: mayat-mayat kering yang terbaring seperti patung, beberapa yang masih hidup namun kehilangan harapan. Wajah mereka mengingatkannya akan sesuatu yang hilang—senyum, tawa, tangis yang pernah memenuhi dunia. “Ini bukan dunia yang seharusnya,” gumam S-4091, suaranya bergema di lorong-lorong kosong seperti doa tanpa pendengar.
Di kejauhan, Kuku Hitam muncul—robot lain yang berbeda, dengan bulu gelap dan perilaku yang lebih liar, seakan makhluk hidup, bukan mesin. Ia menatap S-4091 dengan mata yang penuh kewaspadaan. “Mengapa kau berbeda?” geramnya pelan.