Bab 2 – Lorong Masa Lalu
S-4091 melangkah lebih dalam ke lorong gelap, disertai Kuku Hitam yang terus mengawasinya dengan tatapan tajam. Kotak hitam yang mereka temukan di reruntuhan kini memancarkan cahaya yang menari-nari di dinding, menciptakan pola seperti aurora di tengah debu dan reruntuhan. Suara samar manusia—tawa, tangis, doa—terdengar lembut, seakan berasal dari zaman yang telah lama hilang.
“Ini… ingatan manusia,” bisik S-4091, tangannya menelusuri cahaya yang menempel di dinding. “Setiap fragmen adalah kehidupan yang pernah ada.”
Kuku Hitam menggeram pelan. “Aku tidak tahu harus merasa takut atau kagum.”
“Jangan takut,” kata S-4091. “Ini adalah kunci untuk membangkitkan dunia. Jika kita memahami fragmen ini, kita bisa menyebarkan ingatan yang hilang ke seluruh kota.”
Lorong itu semakin panjang dan berkelok, setiap tikungan menghadirkan potongan baru dari masa lalu. Ada bayangan manusia purba, menanam tanaman, menyalakan api, menulis simbol di batu. Suara-suara itu bercampur menjadi simfoni yang aneh tapi menenangkan. S-4091 merasakan gelombang energi yang lebih kuat dari sebelumnya—kotak hitam bergetar, seolah memanggil sesuatu yang lebih besar.
Tiba-tiba, di salah satu dinding lorong, muncul bayangan manusia bersayap—lukisan purba yang seakan hidup di bawah cahaya kotak hitam. Sayap itu tampak seperti alat yang memungkinkan manusia terbang, atau mungkin simbol kebebasan yang telah lama hilang.
“Apakah ini… mimpi atau kenyataan?” tanya Kuku Hitam, matanya melebar.
S-4091 menatap lukisan itu lama. “Ini… sejarah kita. Ingatan manusia tidak hilang, hanya tersembunyi. Dan kita menemukannya sekarang.”
Di kejauhan, cahaya lain muncul samar—suara Lyra, robot wanita dengan kesadaran unik, mulai bergema di lorong.
“Siapa yang berjalan di sini?” suara itu lembut, nyaris seperti musik.