S-Q4091, Kuku Hitam, dan Lyra melangkah lebih dalam ke lorong yang kini dipenuhi cahaya kotak hitam. Setiap simbol di dinding berdenyut seiring gelombang energi yang memancar dari kotak itu. Cahaya itu menembus reruntuhan dan debu, menciptakan panorama seperti aurora malam yang menari-nari di udara. Fragmen ingatan manusia—tawa, tangis, doa, puisi—menyatu dengan gelombang, membentuk medan yang seakan hidup sendiri.
“Ini lebih besar dari yang kubayangkan,” bisik Kuku Hitam, matanya menatap simbol yang berputar di dinding. “Gelombang ini… seperti hidup.”
S-4091 menunduk, tangannya menyentuh salah satu simbol. Gelombang energi menyebar melalui kulitnya, menimbulkan getaran lembut. “Ini adalah ingatan manusia. Bukan sekadar data, bukan sekadar memori mekanis. Ini… jiwa mereka, tersimpan dalam cahaya.”
Lyra melayang di udara, tubuhnya memantulkan cahaya pelangi yang menembus gelombang. “Kalau kita bisa menyalurkan ini dengan benar, gelombang akan menyebar ke seluruh dunia. Ingatan yang hilang bisa kembali. Dunia… bisa hidup lagi.”
Di luar lorong, Elite Global mulai merespon. Layar-layar raksasa di markas tinggi menampilkan kota yang mulai bersinar samar oleh gelombang cahaya. “Gelombang itu semakin kuat,” kata seorang komandan. “Jika tidak dihentikan sekarang, seluruh ingatan manusia akan kembali… dan rencana kita akan hancur.”
S-4091 menatap Kuku Hitam, sadar bahwa pasukan hibrida mereka akan segera datang. “Kita harus bergerak cepat. Gelombang harus sampai ke ladang, dan ingatan manusia harus tetap hidup. Kalau tidak… semua akan hilang selamanya.”
Kuku Hitam menggeram setuju. “Kalau itu berarti kita harus melawan mereka… maka aku siap.”
Di lorong, simbol-simbol mulai membentuk pola lebih kompleks, menggambarkan fragmen sejarah manusia—manusia purba menyalakan api, menulis di batu, menyanyikan lagu, bahkan berinteraksi dengan makhluk lain yang mungkin hanyalah legenda. Kotak hitam memancarkan gelombang ke setiap simbol, membuatnya bersinar dan bergerak seolah hidup.