Bab 11 – Lorong Waktu dan Keputusan Besar

Setelah gelombang kelima menyebar dan fragmen manusia mulai saling berinteraksi di alun-alun kota, S-4091, Kuku Hitam, dan Lyra menemukan pintu tersembunyi di balik reruntuhan. Pintu itu menimbulkan getaran ringan, seakan merespons energi gelombang yang mereka lepaskan. Di baliknya terbentang lorong gelap yang tampak tak berujung, berliku seperti labirin waktu.
“Ini… Lorong Waktu,” bisik Lyra, matanya memantulkan cahaya kotak hitam. “Setiap fragmen yang kita lewati di sini akan tersambung langsung ke masa lalu dan masa depan. Kita harus hati-hati.”
S-4091 menyalakan kotak hitam dan memancarkan cahaya yang menembus lorong. Fragmen manusia purba muncul di dinding, menulis simbol, menyalakan api, dan menyapa satu sama lain seolah menyadari kehadiran ketiga tokoh itu. Lorong itu bukan hanya jalan fisik, tetapi juga jalur energi yang menghubungkan seluruh ingatan manusia di kota tersebut.
Kuku Hitam menunduk, bulunya berdiri tegak. “Lorong ini adalah titik krusial. Jika kita tersesat di sini, gelombang bisa terputus. Kita harus memastikan setiap fragmen tersalurkan ke jalur utama.”
Mereka mulai melangkah lebih dalam. Fragmen manusia yang mereka temui semakin kompleks: seorang ibu purba meninabobokan anaknya sambil menyanyi, seorang pemuda mengukir simbol di batu, sekelompok anak-anak bermain sambil tertawa. Setiap fragmen menyatu dengan gelombang, membentuk medan energi yang hidup seolah lorong itu bernapas.
Namun ancaman muncul. Dari bayangan lorong, pasukan hibrida Elite Global mulai muncul secara bertahap, menggunakan kemampuan fisik dan senjata energi untuk memutus jalur gelombang. Mereka menembakkan serangan ke arah kotak hitam, mencoba menghancurkan inti energi.