Setelah Manusia Pergi

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #17

Bab 17 Perspektif Bab 17 Rakyat Jelata dan Perkembangan Fragmen

Bab 17 Perspektif Rakyat Jelata dan Perkembangan Fragmen

Sementara S-4091, Kuku Hitam, Lyra, dan Lyana menata gelombang manusia dari reruntuhan kota, kehidupan rakyat jelata yang tersisa di sekitar kota mulai merasakan perubahan yang aneh namun nyata. Mereka bukan fragmen seperti yang dikendalikan tokoh utama, tetapi energi gelombang manusia merambat ke setiap sudut reruntuhan, menyentuh hati dan pikiran orang-orang biasa.

Seorang pemuda bernama Arin duduk di sisa bangunan, menatap reruntuhan yang kini bercahaya lembut. Ia tidak tahu apa itu gelombang manusia, tetapi ia merasakan ketenangan dan kekuatan yang berbeda. Fragmen anak-anak purba yang bermain di sekelilingnya tampak seperti bayangan memantul dari ingatan, dan Arin menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ada kehidupan yang berdenyut, walaupun reruntuhan dan kehancuran mengelilinginya.

Di sisi lain, seorang perempuan tua bernama Marla memetik sisa tanaman yang tumbuh di retakan tanah. Ia merasa ada energi hangat yang mengalir melalui tangannya, memberi kehidupan baru pada benih yang hampir mati. “Apa ini…?” gumamnya, matanya bersinar. Ia tidak mengerti bagaimana energi itu bekerja, tapi ada rasa aman dan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Fragmen manusia yang tersalurkan oleh Lyra mulai berinteraksi dengan rakyat jelata. Seorang anak kecil yang kehilangan keluarganya tiba-tiba melihat sosok perempuan purba menenangkannya, membisikkan kata-kata lembut yang membuatnya tersenyum untuk pertama kalinya. Rakyat jelata menyadari bahwa keberadaan fragmen ini bukan hanya bayangan atau ilusi; mereka membawa ingatan, emosi, dan energi yang memengaruhi kehidupan nyata.

Arin berdiri, merasakan aliran energi itu mengitari tubuhnya. Ia menyadari bahwa gelombang manusia bukan hanya tentang fragmen atau reruntuhan, tetapi tentang hubungan antar makhluk. Energi itu membuat rakyat jelata lebih sadar, lebih tanggap terhadap lingkungan mereka, dan lebih peka terhadap satu sama lain.

Di sisi lain kota, sekelompok pemuda memanfaatkan energi gelombang untuk memperbaiki peralatan sederhana. Fragmen pemuda purba yang menyalakan api menjadi inspirasi bagi mereka. “Lihat, api itu… seolah memberi kita petunjuk,” kata salah seorang. “Kita bisa menggunakannya untuk menerangi jalan dan membangun kembali rumah kita.”

Lihat selengkapnya