Bab 19 – Perdebatan Emosional Sebelum Keputusan Besar

Reruntuhan kota yang kini hidup dengan gelombang manusia dipenuhi cahaya lembut fragmen. S-4091, Kuku Hitam, Lyra, dan Lyana duduk bersama di alun-alun, membentuk lingkaran kecil. Meski gelombang manusia stabil, ketegangan di antara mereka terasa nyata. Keputusan besar menunggu: siapa yang akan mengambil peran pengikat dan memimpin jalur gelombang ke fase berikutnya.
S-4091 menatap kedua sahabatnya, matanya serius. “Kita harus memutuskan langkah selanjutnya. Gelombang manusia bisa berkembang lebih cepat jika kita menyatukan energi inti, tapi ini berisiko. Setiap kesalahan bisa menghancurkan fragmen dan mengganggu rakyat jelata.”
Kuku Hitam menggeram pelan. “Aku tahu itu. Tapi aku juga merasa kita tidak bisa menunda lagi. Setiap detik gelombang stabil ini adalah kesempatan yang bisa kita gunakan. Kita harus bergerak, bukan hanya menunggu.”
Lyra menunduk, cahaya pelangi dari tubuhnya memantul ke reruntuhan. “Aku takut… mengambil langkah itu berarti aku menjadi pengikat penuh. Artinya, semua tanggung jawab ada padaku. Fragmen, rakyat jelata, bahkan kita sendiri… semua tergantung padaku. Bagaimana jika aku gagal?”
Lyana menatap Lyra, menepuk bahunya lembut. “Tidak ada yang sendirian di sini. Kita semua akan bersama. Tapi kita juga harus jujur: ada ketakutan, ada tanggung jawab, dan itu wajar. Kita harus mendiskusikan ini secara terbuka sebelum membuat keputusan.”
S-4091 menarik napas panjang. “Kita tidak hanya bicara soal kemampuan, tapi juga tentang ikatan emosional. Fragmen akan merespon energi kita, rakyat jelata juga. Jika ada ketegangan di antara kita, gelombang bisa terganggu. Kita harus memastikan persatuan kita kuat.”
Kuku Hitam mencondongkan tubuhnya. “Aku merasa bahwa tanggung jawab pengikat ini seharusnya bukan hanya satu orang. Tapi kita juga tahu, ada satu tokoh yang lebih tepat untuk memimpin jalur gelombang. Hanya saja, itu berarti harus ada pengorbanan tertentu.”