Saat langkah mungilnya semakin jauh, Fei xuan akhirnya berkata "Tidak bisakah kau ikut denganku?" Suaranya terdengar serak, seakan air mata sebentar lagi membanjiri pipinya.
Mendengar kalimat itu, langkah Chao yue terhenti, kepalanya sedikit tertunduk lalu pandangannya kembali lurus. Hatinya bergejolak, ia tahu sebagaimana pun mereka berusaha tidak akan berakhir baik jika menyangkut keyakinan. Chao yue menarik napas dalam, lalu membuat senyuman manis di wajah saat badannya mulai berbalik ke arah Fei xuan.
"Xiao fei," Panggilan kesukaan Chao yue, "Kamu tahu kalau dunia kita berbeda, bahkan lebih dari sebuah perbedaan." Gadis mungil itu kembali berjalan ke arah laki-laki bermantel krem dengan lilitan syal rajut maroon buatannya.
"Simpan lah kenangan bahagiamu sendiri, karena aku pun akan menjadikannya kenangan yang sangat berharga. Aku akan menjadikannya harta karun di saat sedih melanda, menjadikannya harta karun di saat kekalahan menerjang, jadi tanpa kita bersama pun kenangan ini akan terus menemani." Ucap Chao yue, suara seraknya selalu terdengar lembut ditelinga Fei xuan.
Kain penutup kepalanya indah dalam balutan warna biru muda yang serasi dengan kulitnya yang putih nan bersih.
"Bagaimana kalau aku akhirnya melupakanmu seiring berjalannya waktu? Aku tidak ingin itu terjadi." Nada suaranya menyiratkan kegelisahan yang tak berujung.