Setengah Langkah Kembali

faridhachacha
Chapter #2

KENANGAN SATU

KENANGAN SATU

”Aroma manis buah yang segar”

Tidak ada salahnya menghilang dalam keramaian. Selama kamu masih berdiri diatas kaki sendiri, orang-orang pasti bisa menemukanmu.

Pemandangan di luar jendela pesawat membuat perasaan kami lebih tenang. Satu setengah jam lagi pesawat ini akan mendarat di negeri tirai bambu. Bulan agustus adalah awal musim panas di kota B, orang-orang mulai mengenakan kemeja tipis dan celana pendek untuk menghindari hawa panas yang menyengat. Chao yue datang untuk mengantar adik nya yang tahun ini akan berkuliah di universitas terbaik di kota B. Karena tahun ajaran baru akan segera dimulai, maka pendaftaran ulang perlu dilakukan jauh sebelum perkuliahan dilaksanakan.

"Kak, aku kan sudah bilang kamu tidak perlu mengantarku hingga kesini, umur ku sudah lebih dari cukup untuk melakukan ini sendiri." Ucap Chao xun.

Ia baru saja berusia 18 tahun bulan lalu, meski telah memasuki usia dewasa namun ego masa remajanya belum sepenuhnya hilang.

"Aku juga tidak ingin melakukannya, kalau bukan karna ibu yang terus mendorongku untuk menemani mu aku sudah berbaring dengan penuh kemalasan di kasur empukku itu." Jawab Chao yue sembari memperhatikan situasi disekitar mereka.

Kota B begitu asing untuknya, sehingga perlu waktu untuk mengerti alur transportasi disana. Kampus itu terletak di tengah kota, mereka hanya perlu mengambil taksi online untuk menuju kesana. Setelah tiba dikampus, tampak kampus yang sangat besar dan memiliki begitu banyak hiburan. Chao Yue bahkan iri saat melihatnya.

"Andai saja..." gumam Chao yue, namun ia tidak ingin hari bahagia adiknya menjadi terganggu.

Chao xun melakukan registrasi mahasiswa baru lalu mendapatkan kamar asramanya. Karena asrama laki laki dan perempuan terpisah dengan peraturan yang ketat membuat Chao yue tidak bisa mengantar hingga ke kamar.

"Angkat barang mu sendiri, kau bahkan lebih tinggi dariku tapi koper pun masih harus aku yang bawa," gerutu Chao yue.

"Iyaa, berisik banget sih, udah sampai asrama kok. Mending kakak pulang secepatnya deh," ujar Chao xun sedikit mengusir kakaknya itu.

"Siapa bilang aku mau langsung pulang? Rugi dong kalau tidak keliling dulu."

Chao yue membalas ucapan Chao xun dengan ejekannya.

Chao xun berdecak pelan lalu berjalan masuk ke asrama meninggalkannya sendirian. Ia paham kakaknya itu punya jiwa petualang yang cukup aneh.

Matahari sebentar lagi berpamitan diujung langit, suasana kampus mulai semakin ramai membuat Chao yue sedikit canggung berjalan disana. Langkahnya tidak cepat ditambah tubuhnya yang terbilang pendek membuat perjalanannya menjadi lebih lama. Agar tidak salah jalan, ia lebih memperhatikan peta online diponselnya hingga tanpa sadar menabrak seseorang yang sedang berjalan dan membuat ponselnya terjatuh.

"Astaga." Chao yue terkejut.

"Aduh maaf kak, aku sedang buru-buru. Ah, ini nomorku kalau ponselmu rusak kabari aku." Kata pria tersebut, suaranya terdengar tidak beraturan.

Menurut Chao yue yang ia tabrak adalah orang aneh. Orang itu hanya memberikan kartu namanya sambil kembali berlari mengejar seseorang yang tampak jalan begitu angkuh. Untungnya ia memiliki tingkat kesabaran yang cukup tinggi sehingga hal seperti ini tidak perlu diperpanjang, lagipula ponselnya memang sudah memilik banyak retakan.

Menghabiskan malam di kota B sungguh menyenangkan, Chao yue bahkan memecahkan rekor langkah terbanyaknya hari ini. Kota B penuh dengan berbagai macam hiburan, restoran, bahkan wahana bermain. Tudung kremnya mulai terasa lepek setelah hampir seharian menutup kepalanya. Chao yue segera pulang ke apartemen yang sudah di sewanya untuk beberapa hari—atau mungkin beberapa bulan—kedepan. Jiwanya begitu bebas dengan sifat yang sangat ekspresif, namun tidak sensitif terhadap emosi orang lain sehingga orang bisa melihatnya hidup tanpa pusing mencampuri urusan orang.

"Wah, ternyata dunia ini sangat luas, kenapa tidak dari dulu saja seperti ini?" Ucapnya.

Senyuman manis muncul di wajah Chao yue membuat mata bulatnya hampir menghilang. Ia lupa kapan terakhir kali merasakan kebahagiaan seperti ini. Apakah saat Chao xun lahir? Atau saat pertukaran pelajar tahun 2020?

Ah sudahlah, semua sudah berlalu. Pikirnya.

Apartemen Chao yue tidak jauh dari kampus Chao xun dan ia tiba tidak terlalu malam. Saat membersihkan badan, ia terpikir untuk ikut Chao xun berkeliling kampus. Mereka belum melakukan tur universitas karena tempat asal mereka yang sangat jauh, jadi Chao yue berpikir untuk bergabung dengan Chao xun keesokan harinya.

Chao Xun tidak percaya kalau kakaknya kemungkinan tinggal lebih lama. Dengan raut wajah kesal ia berkata, "Kak, ngapain lama-lama disini? Ini kota besar loh. Ayolah hilang kan kebiasaan petualangan aneh mu itu."

Chao yue terkekeh.

Ia tahu adiknya sangat benci dengan hobi nya ini. Dulu saat pertukaran pelajar, saking senangnya Chao yue sempat hilang 3 hari tanpa tahu jalan pulang sampai membuat panitia bingung mencarinya. Tapi ternyata ia sedang menumpang dirumah seorang nenek di desa sebelah. Tentu saja saat pulang orangtuanya marah besar terhadap kelakuan anak perempuannya itu.

"Kamu tenang aja, meski tidak tahu jalan kakakmu ini tidak akan kehilangan arah lagi," ucap Chao yue dengan penuh percaya diri, sedangkan Chao xun mendengar hal itu hanya bisa menggelengkan kepala.

Masa penerimaan mahasiswa baru masih cukup lama sehingga Chao xun memiliki lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Chao yue mengajak adiknya untuk melihat-lihat klub yang ada di kampus itu, ia sangat penasaran adik kecilnya ini akan mengambil ekskul apa nanti.

"A xun," panggil Chao yue.

"Hmm," jawab Chao xun dengan pandangannya yang terpaku pada ponsel.

"Kampus mu besar loh, klubnya juga banyak, kamu gk tertarik ikut salah satunya?" Tanya Chao yue.

Ia tahu adiknya sangat pendiam diluar. Meski wajahnya cukup tampan dengan tubuh yang menjulang tinggi tapi apa guna nya kalau dia memiliki pribadi yang tertutup seperti ini.

"Gak tertarik." Jawab Chao xun dengan wajah yang sangat santai.

Chao xun sangat pintar, namun ia juga penggila game. Satu-satunya hal yang paling menarik dalam hidup nya hanya bermain game. Namun, bukankah game itu adalah kegiatan yang apatis? Ia hanya bermain seharian penuh tanpa menghiraukan sekitarnya. Bagi Chao yue itu sangat membosankan dan tidak seru.

"A xun, kamu tinggi loh, coba masuk basket saja, aku akan mengajari mu teknik dasar bermainnya." Suara serak Chao yue terdengar heboh ditelinga Chao xun.

"Gak. Kalau kakak mau main basket, pergi aja sendiri." Chao xun menjawab kakaknya dengan sinis.

Dasar adik tidak sopan! Batin Chao yue.

Jika melihat penampilan luarnya yang cukup feminim, tidak akan ada yang menyangka bahwa cewek seperti Chao yue selain punya jiwa petualang, dia juga mempunyai pribadi yang tomboi.

"Kak, sudah sore, aku harus kembali ke asrama, malam ini ada pesta sambutan anak baru disana," ujar Chao xun yang langsung berbalik menuju asrama.

Mereka sudah berkeliling kampus seharian bahkan tidak menyadari langit sebentar lagi gelap. Chao yue hanya mengangguk dan membiarkan Chao xun kembali. Helaan nafas panjang terdengar spontan saat Chao yue berbalik menuju gerbang utama. Ada perasaan sedih ketika Chao xun pergi. Mereka sudah hidup bersama tanpa berpisah selama 20 tahun, pantas lah jika ia sedih kalau adik kecil nya itu harus tinggal diluar jangkauannya.

Pemandangan menuju gerbang utama tampak sama seperti lingkungan sekitar asrama Chao xun, hanya saja pohon-pohonnya terasa lebih rindang hingga dapat menangkal hawa panas disore hari. Setelah tadi menyinggung basket, Chao yue tiba tiba ingin mengunjungi lapangan basket dikampus itu. Rasa penasarannya muncul. Kira-kira sebesar apa lapangan basket di kampus ini? Dulu saat masih kuliah ia hanya bisa menyewa GOR di daerah mereka sehingga suasananya terasa kurang leluasa.

Langkah Chao yue tanpa sadar menjadi lebih cepat saat ring basket mulai terlihat dalam pandangannya. Ia sangat bersemangat untuk melihat lapangan yang sangat di idamkannya dulu. Senyumannya tidak luntur bahkan semakin lebar saat suara drible memantul ditelinganya. Ini adalah perasaan yang dirindukannya. Gadis remaja yang masih terperangkap dalam tubuh Chao yue seketika menyeruak keluar. Jantungnya berdebar kencang. Apa yang sedang ia lihat adalah impian masa remajanya.

Lapangan basket universitas!

Bola terpantul merdu, hentakan kaki yang tegas, hingga bola yang berhasil melewati ring akan memancing sorakan heboh para penonton. Melihat adanya pertandingan, mahasiswa disekitar lapangan terlihat mendekat untuk menontonnya.

Masih dengan perasaan kagum Chao yue bergumam, "Andai saja saat itu aku tidak mengalah." Kalimat itu seperti melunturkan semangat Chao yue akan lapangan basket.

Kenangan yang tidak menyenangkan di masa lalu ikut muncul di tengah rasa bahagianya. Ia berjalan menghampiri barisan penonton. Karena badannya yang sedikit mungil, ia dapat dengan mudah mencapai barisan pertama. Pandanganya terus mengikuti alur pertandingan, ia akan ikut bersorak saat bola yang dilempar masuk dengan mulus, ia juga akan kecewa saat bolanya tidak masuk.

Suasana lapangan semakin ramai saat pertandingan akan berakhir. Para pemain segera terburu buru mengejar waktu yang sebentar lagi habis. Ketika suasana semakin tegang, sebuah bola tidak terduga terpantul ke arah penonton. Pantulan itu tidak mengarah ke Chao yue, meski akan mengenainya ia pasti bisa menghindar. Namun saat melihat bola itu mengarah ke arah dua perempuan yang sedang duduk tidak jauh darinya, Chao yue secara naluriah berlari menangkap bola itu. Gerakannya cepat, larinya tegas dan lompatannya tinggi hingga menggapai bola tersebut, lalu mendarat dengan sempurna.

Chao yue berhasil menangkap bolanya.

Nafasnya tersengal, keringat mulai membasahi dahinya, saat Chao yue masih mengatur perasaannya ia mendengar sorakan yang sangat ramai.

"Wah, siapa dia, gerakannya keren sekali." Satu kalimat yang memicu lebih banyak teriakan.

"Lompatan nya sangat tinggi, apakah dia juga seorang atlet?" Sahut yang lain.

"Keren sekali kak. Kamu sangat keren."

Suara demi suara diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Chao yue tidak menyadari bahwa tindakannya membuat seluruh lapangan terpukau padanya, bahkan para pemain pun ikut terkejut. Ketika Chao yue menyadari hasil dari tindakannya, ia langsung merasa canggung.

"Kakak. Terima kasih sudah menyelamatkan kami," ucap seorang perempuan cantik yang tadi menjadi sasaran bola.

"Oh iya... ya sama sama," balasnya dengan gugup.

Chao yue memberikan bola yang ditangkapnya kepada salah satu pemain dilapangan, "Ini bolanya, maaf saya jadi mengganggu permainan."

Sambil menyerahkan bola tadi, Chao yue membungkuk sungkan.

"Tidak apa apa. Kami justru berterima kasih atas tindakanmu tadi," jawab laki laki yang tingginya lebih 20 cm dari tinggi Chao yue.

Suaranya berat, bahunya lebar dan wajahnya sangat tampan.

"Hmm, aku ketua klub basket disini. Namaku Fei xuan," lanjutnya sambil menyodorkan tangan untuk berjabatan.

Chao yue bingung dengan perkenalan dirinya yang tiba-tiba, bukan karena dirinya yang tampan melainkan ia bingung bagaimana menolak jabatan tangan tersebut. Seperti menyadari kebingungan Chao yue, Fei xuan akhirnya mengerti kesalahannya.

“Ah maaf, aku tidak bermaksud—” ujarnya dengan raut wajah bersalah.

“Nggak apa apa, tenang saja. Oh, namaku Chao yue, salam kenal.” Chao yue mengangguk gugup.

Tanpa menunggu jawaban Fei xuan, Chao yue kembali ke barisan penonton. Karena hari sudah semakin malam, pertandingan akhirnya selesai. Para peserta mulai beristirahat dan membersihkan badan. Penonton yang sebagian besar adalah mahasiswa juga kembali ke asrama masing-masing. Chao yue bergegas keluar kampus untuk mencari bus malam. Ia merasa kebahagiaannya hari ini menyisakan rasa lelah yang berat sehingga pulang menggunakan bus adalah jalan terbaik. Di kejauhan seseorang mengamati tubuh kecil itu berjalan menembus gelapnya pepohonan. Langkah Chao yue kecil sehingga saat ia berjalan cepat gerakannya terlihat menggemaskan.

“Imut sekali,” gumam Fei xuan dengan senyum tipis yang tersirat.

“Kak Xuan ngomong apa? Aku tidak mendengarnya.” Zhou han mengira Fei xuan berbicara dengannya, namun Fei xuan tidak menghiraukannya dan pergi meninggalkan lapangan.

Fei xuan tidak menyadari gerak geriknya membuat semua peserta dilapangan tampak keheranan. Setelah berganti baju, Fei xuan segera menuju parkiran kampus. Manajer Zhang sudah menerornya dengan puluhan panggilan, sehingga ia harus menurutinya untuk jadwal malam ini.

Saat mobilnya melewati gerbang utama, ia tidak sengaja melihat gadis kecil tadi di halte bus. Chao yue masih setia menunggu bus malam. Tiba-tiba sebuah mobil hitam mengkilap berhenti didepannya.

“Chao yue, benarkan?” Tanya Fei xuan.

Seorang pria dengan wajah yang sangat tampan membuka jendela mobil itu, Chao yue pun terkejut dengan pertemuan yang dadakan ini.

“Iya benar, ada apa ya?” Chao yue mendekatkan diri ke mobil.

“Masuklah. Aku akan mengantar mu pulang,” ucap Fei xuan, suaranya berat berpadu dengan tatapan mata yang jernih memandang ke arah Chao yue.

Chao yue merasa canggung dengan situasi ini, ia belum pernah berada satu mobil dengan orang lain—walau sudah saling kenal—selain dengan ayahnya ataupun Chao xun.

“Hmm, maaf Xiao fei nggak apa-apa aku bisa menunggu bus malam. Kamu jalan duluan saja,” Jawab Chao yue kembali dengan rasa sungkan.

Penolakan Chao yue membuat Fei xuan sedikit terkejut. Selama ini hampir semua wanita mengejarnya dan berlomba untuk mendekatinya tapi mengapa sejak berkenalan tadi Chao yue terus menolaknya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Fei xuan, akhirnya ia mengalah.

“Baiklah, lain kali aku harap kamu mau menerima ku.”

Mata jernih itu menghilang dibalik jendela mobil, meninggalkan Chao yue sendiri disana.

Melewati musim panas di kota B, malah membuat Chao yue semakin betah berada disana. Awal bulan september Chao xun resmi menjadi mahasiswa di universitas P. Ia telah disibukkan dengan berbagai perkuliahan dan agenda jurusan, membuat Chao yue jarang bisa menemuinya. Siang itu langit tampak gelap menandakan hujan sebentar lagi turun. Chao yue berencana pergi ke kampus Chao xun, namun bukan untuk menemui adik kecilnya itu, tetapi hari ini akan diadakan pertandingan basket antar jurusan. Bukan pertandingan besar, sebut saja sparring antar tim agar peserta bisa mengetahui kemampuan masing-masing. Langkahnya bergegas menuju universitas P untuk menghindari hujan turun lebih awal.

Angin sudah berhembus kencang saat Chao yue tiba di kampus. Ia sudah familiar dengan lingkungan kampus, meski tidak berkuliah disana namun sudah beberapa kali ia datang untuk adiknya membuat Chao yue hafal dengan denah kampus itu. Pertandingan dimulai setelah kelas selesai dan masih tersisa satu jam lagi. Chao yue rasa ia harus segera berteduh. Agar tidak kehujanan, Chao yue memilih pergi ke sebuah minimarket lalu mengambil kopi botolan dan beberapa snack.

"Semoga hujannya cepet berhenti deh, jangan sampai sparring-nya batal," ujarnya sambil memandang hujan yang semakin deras.

Saat matanya masih terpaku pada hujan, ia melihat Fei xuan berjalan melewati minimarket. Chao yue baru dua kali bertemu dengannya, namun ia tidak akan pernah lupa postur tubuh pria itu. Fei xuan terlihat berjalan cepat dibawah derasnya hujan.

Kenapa dia tidak memakai payung? Pikir Chao yue.

Setelahnya ia melihat seseorang mengejarnya sambil menyodorkan payung. Seketika ia teringat dengan pria yang ditabraknya bulan lalu.

"Oh jadi pria yang berjalan angkuh itu Fei xuan?"

Setelah teringat kejadian kemarin, ia menebak-nebak situasinya saat itu. Chao yue belum tahu siapa pria yang rela mengejar Fei xuan terus menerus, namun jika dilihat mungkin saat ini Xiao fei sedang dalam suasana hati yang buruk.

Hujan berhenti tepat setelah bel pulang berbunyi. Sore itu para mahasiswa langsung berhamburan keluar kelas. Raut wajah lelah keluar setelah mengikuti berbagai perkuliahan dalam sehari, apalagi mereka juga harus mengurus klub. Pepohonan dijalan gerbang utama masih basah karena hujan, jalanan juga dipenuhi berbagai genangan air. Chao yue bergegas menuju lapangan agar tidak ketinggalan pertandingan.

Para pemain masih bersiap-siap, namun kursi penonton sudah dipenuhi oleh mahasiswa. Sekali lagi, Chao yue mengincar barisan paling depan namun sepertinya ia terlambat. Barisan depan penonton sudah penuh. Ia pun sesekali mengecek apakah masih ada ruang untuknya. Sayangnya, tidak tersisa sama sekali. Saat langkahnya akan berbalik, tiba-tiba ia merasa terpanggil.

"Kak. Kakak yang kemarin nangkap bola, kan?" Suara perempuan yang menggemaskan seperti menyapanya. 

"Iya, begitulah." Chao yue berbalik dengan wajah bingung.

"Wah kita ketemu lagi. Namaku Xu chi, pacarku akan bermain lagi, kakak duduk disampingku saja," ujar Xu chi sambil menatapnya dengan penuh harap.

Anak itu sangat menggemaskan, Chao yue tidak enak hati menolak ajakannya. Maka dengan penuh sukacita, Chao yue mengangguk dan duduk bersama Xu chi. Pertandingan pun dimulai. Quarter pertama dipimpin oleh grup A, membuat grup B sedikit kewalahan. Sekali lagi, Chao yue berbaur dengan suasana penonton. Ia tidak memiliki grup yang ingin didukung, menurutnya kedua grup memiliki kemampuan yang sama-sama kuat. Hingga akhir pertandingan, grup A lah yang memenangkannya.

"Kak, ini pacarku Zhou han. Zhou han ini Kak Yue yang tangkap bola kemarin." Xu chi tanpa basa basi menarikku berkenalan dengan pacarnya.

Meski sedikit sungkan, Chao yue tetap menjawabnya, "Oh iya, namaku Chao yue, salam kenal."

"Aku tahu, kamu yang ngasih bola ke kak Xuan, kan? Terima kasih sudah nyelamatin Xu chi," balas Zhou han.

"Ah, nggak apa apa," jawab Chao yue.

Xu chi berkata bahwa ia dan Zhou han akan pergi berkencan, jadi mereka pun berpamitan padanya. Yah, mereka masih masa pubertas, pantas saja terlihat romantis. Lapangan tampak sepi setelah pertandingan berakhir. Chao yue kembali berdiam diri dikursi penonton. Sore tadi langit masih gelap, tapi malam ini sinar bulan sudah muncul dibalik awan.

Malam tiba begitu cepat, suasana lapangan menjadi sangat sunyi. Lampu jalan satu per satu dinyalakan seolah kegelapan tidak boleh berkeliaran. Fei xuan melewatkan sparring sore ini setelah bertengkar dengan keluarganya. Pertengkaran itu cukup memberi dampak negatif untuknya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa seperti ayahnya tapi bukan berarti mereka boleh mengatur segala hal.

Setelah berjalan tanpa arah, ia menyadari bahwa langkahnya tiba di lapangan basket. Sedikit helaan nafas telah mewakili isi hatinya hari ini. Fei xuan menatap lapangan yang kosong, ia belum tahu hasil pertandingan tadi sore. Tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang masih terduduk di bangku penonton. Menyadari itu adalah Chao yue, perasaannya menjadi lega. Tanpa pikir panjang ia berjalan mendekati gadis itu dengan penuh semangat. Chao yue yang telah duduk begitu lama. Ia cukup terkejut akan kedatangan Fei xuan. Entah darimana datangnya, namun Chao yue merasa Fei xuan selalu bisa menemukannya.

“Kamu tidak bermain hari ini,” ucap Chao yue.

Ia tahu bahwa pria yang lebih tinggi 20 cm darinya ini tidak ada diantara para pemain.

“Aku ada urusan, jadi tidak ikut sparring,” jawab Fei xuan dengan santai.

Ia tidak menunjukkan apa yang terjadi hari ini, Fei xuan hanya akan memandang Chao yue dengan ekspresi yang ceria.

“Oh.” Chao yue tidak bertanya lebih lanjut.

Hembusan angin malam membawa aroma manis buah yang segar berasal dari Chao yue. Fei xuan bahkan tidak bisa mengatasi rasa senangnya saat duduk disebelah gadis itu.

“Mau main?” Tanya Fei xuan saat melihat satu bola tertinggal di pinggiran bangku.

Lihat selengkapnya