Setengah Muda

Hesti Ary Windiastuti
Chapter #1

Gelap dan Terang

Wajah Hagi beberapa hari ini, seperti kanebo, kaku, seakan lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, bagaimana tidak, baru saja bulan lalu dia di PHK perusahaan tempat dia bekerja, dengan alasan efisiensi, dan yang lebih menyakitkan lagi, tiga bulan sebelumnya, dia di gugat cerai istrinya, alasan istrinya tak tahan dengan omongan keluarga besar Hagi, yang selalu menyudutkan sang istri, karena belum juga memiliki anak.

Kehilangan pekerjaan, dan tempat untuk berbagi cerita, kehidupan Hagi benar-benar apes, sejujurnya Hagi masih ingin mempertahankan pernikahannya, tapi dia jauh lebih sayang istrinya, dan Hagi tidak ingin istrinya hidup dalam tekanan, meskipun Hagi kerap kali membela sang istri, saat keluarga besarnya sering bertanya menikah 10 tahun, belum juga punya anak. Bukannya keturunan itu adalah rahasia Tuhan, manusia hanya bisa berusaha, sisanya urusan Tuhan.

Tapi nampaknya kesabaran sang istri sudah pada batasnya, dia memilih undur diri, dan mengatakan pada Hagi, semoga setelah perpisahan ini, Hagi bisa bertemu dengan wanita yang bisa memberikan banyak keturunan, seperti keinginan keluarga besarnya.

Perpisahan Hagi dan istrinya bukan karena orang ketiga, bukan karena sudah tidak cinta, justru karena cinta lah keduanya berpisah, karena ada kalanya, berpisah lebih baik, dari pada tetap bersama, untuk kebaikan bersama.

Hagi seakan kehilangan harapan hidup, tidur larut malam, bangun tengah hari, bertahan dari pesangon, dan sewa rumah miliknya yang ia tempati bersama istrinya dulu, pesangon yang ia dapat dari perusahaan entah hanya mampu berapa bulan mencukupi kebutuhannya, sementara uang sewa rumah, dia berikan kepada ayahnya.

Hagi tidak lagi tinggal di rumahnya saat bersama istrinya dulu, setelah perpisahan dengan istrinya,dia lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya.

Hagi tinggal bersama ayahnya Sugi, lebih tepatnya menemani sang ayah, yang sebenarnya dibilang lansia, tapi terlihat masih muda, ibu Hagi baru setahun yang lalu meninggal, itu juga yang menjadi alasan kenapa dia memutuskan untuk menemani sang ayah. Kehidupan Hagi dan ayahnya kurang lebih sama, seperti malam tanpa cahaya apapun, gelap gulita.

Hagi tidak terlalu akrab dengan sang ayah, karena memang dari kecil Hagi sering ditinggal ayahnya bekerja keluar kota, untuk sekedar berbincang santai, terkadang terasa kaku, berbeda dengan sang ibu, Hagi bisa bercerita apa saja kepada sang ibu.

"Ayah mau makan apa? Mumpung Hagi mau ke pasar beli sayur jadi aja," tanya Hagi pada ayahnya, Sugi yang sedang menyisir rambutnya, karena baru habis mandi.

Dapur mereka sudah lama tidak megepulkan asap dari kegiatan masak memasak, kalaupun ada, itu dari menghangatkan sayur jadi, atau merebus air untuk membuat kopi.

"Beli untuk kamu saja, ayah mau keluar soalnya sebentar lagi," ucap Sugi sembari merapikan pakaiannya.

"Nggak sarapan dulu?" tanya Hagi

"Udah tadi, minum kopi sedikit, ayah nggak bisa sarapan kalau pagi-pagi begini, paling sekitaran jam 10 baru bisa sarapan sedikit," jawab Sugi.

Padahal seingat Hagi, dulu saat ibunya masih ada, ayahnya justru nggak bisa kalau nggak sarapan pagi, ternyata kehilangan sesuatu yang berharga, bisa merubah sebuah kebiasaan, batin Hagi sembari menatap sejenak ke arah ayahnya yang sedang duduk di meja makan, sembari menyeruput kopi hitam tanpa gula.

Hagi menyalakan sepeda motornya, hasil jerih payahnya dengan memberanikan diri mengambil kredit, agar bisa membawa istrinya jalan-jalan saat libur kerja, soalnya motor tua milik ayahnya, sudah sering masuk bengkel. Tapi yang terjadi setelah kredit motornya lunas, semuanya kandas, tak ada yang ia bonceng untuk sekedar jalan-jalan menikmati udara sore hari atau pergi ke pasar malam, yang ia bonceng hanya kadang-kadang anak tetangga yang ketemu dijalan pas pulang sekolah.

Hagi tak tahu bagaimana kehidupan mantan istrinya sekarang, dia hanya berharap istrinya bahagia itu saja sudah cukup baginya. Setelah akhirnya sang istri menggugat dirinya, Hagi akhirnya sadar, rumah tangga yang terlalu banyak ikut campur orang lain didalamnya, bahkan itu keluarga sendiri, akan berahir nelangsa. Tak perlu orang lain tau tentang apa yang terjadi pada rumah tanggamu, itulah seharusnya yang dari awal Hagi lakukan, tapi Hagi adalah tipe pemikir, yang segala sesuatu selalu menimbang perasaan orang lain terlebih dahulu, orang yang kerap merasa tidak enakan.

Karena sifat tidak enakan nya dan terlalu banyak mikir itulah dia tersingkir dari pekerjaanya, enggan mengatakan punya keahlian yang jauh dari pendidikannya, karena berpikir, dia hanya tamatan SMA, kalaupun bilang bisa melakukan pekerjaan lebih, apa akan dianggap, dan akhirnya dia tersingkir, sementara rekan kerjanya dapat promosi untuk ikut kursus, sementara dia, karena efisiensi anggaran, akhirnya terkena dampak, pengurangan tenaga kerja.

"Eh Hagi, beli sayur apa nih?" tanya pemilik warung nasi yang sudah terbiasa dengan Hagi, karena Hagi adalah langganan tetap warung nya.

"Tumisan, ikan Goreng, sama sayur lodeh juga boleh, bungkus masing-masing 10 ribu sayurnya, ikannya 4 potong ya, Kak," ucap Hagi.

"Cukup gitu, nggak nambah sayur lain lagi?" tanya yang punya warung.

"Udah itu saja kak, makan sendiri soalnya, takutnya kalau kebanyakan mubazir," jawab Hagi sembari tersenyum.

"Semuanya 30 ribu," ucap pemilik warung sembari menyodorkan kantong plastik berisi sayuran dan lauk kepada Hagi.

"Kerupuk boleh kak sama keripik tempe dan telur asin, pas kan aja sisa uangnya 20 ribu." Ucap Hagi sembari menyodorkan uang selembar 50 ribuan.

"Cari istri lagi lah, biar ada yang masakin, 50 ribu kalau beli bahan makanan jadi, bisa jadi banyak loh," ucap pemilik warung sembari tersenyum, "Bercanda loh ya Hagi, jangan dimasukan ke dalam hati," ucap pemilik warung lagi.

"Kalau saya nikah lagi, nanti pelanggan warung kakak hilang satu dong," ujar Hagi.

Lihat selengkapnya