Hari keberangkatan untuk acara sang ayah akhirnya tiba, Hagi tertegun sejenak melihat orang-orang di dalam bis, hanya dia dan supir saja yang bisa dikatakan muda, tapi sebenarnya, muda sudah lewat, tua belum sampai. Mimpi apa akhirnya dia ikut acara sang ayah, dari cara bercanda saja sudah jauh beda, Hagi memilih untuk tidur disepanjang perjalanan, karena para orang tua yang ada dalam bis, sibuk mengikuti alunan lagu-lagu lawas, yang bahkan Hagi sendiri tidak pernah mendengarnya.
Karena sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh, akhirnya apa yang Hagi takutkan benar terjadi, mabuk perjalanan, jadilah perlengkapan obat-obatan yang ia siapkan untuk sang ayah dan rombongan, justru berakhir untuknya sendiri.
"Biasa itu, faktor umur."
Hagi menoleh ke arah suara salah satu teman ayahnya yang nyeletuk begitu saja, tanpa melihat penderitaan Hagi yang hampir habis tenaganya, dan bicara soal faktor umur, rasanya yang hampir kadaluarsa adalah ayahnya dan juga teman-teman ayahnya.
Untungnya mereka sudah sampai di penginapan, yang memang sudah di booking, kalau saja perjalanan masih jauh, Hagi tak tahu harus bagaimana lagi, soalnya makanan di lambungnya, sudah nyaris keluar semua, dan jangan sampai yang keluar hanya angin kosong.
Hagi tak habis pikir, energi para balita expired ternyata diluar ekspetasinya, hanya istirahat sebentar untuk mandi dan makan, para rombongan bersiap untuk kembali melanjutkan kegiatan jalan-jalan.
"Sudah baikan kamu?" Tanya Sugi pada Hagi yang terlihat bersiap-siap untuk ikut rombongan.
"Lumayan," jawab Hagi yang sudah tampil rapi dan raut wajahnya terlihat jauh lebih baik, ketimbang saat mabuk perjalanan tadi, pucat pasi seperti kehabisan darah. Hagi fokus merapikan obat-obatan yang ia masukan ke dalam slingback nya, takut ada yg tertinggal, karena dalam rombongan, tugas Hagi kurang lebih seperti tim medis, sementara supir bis, yang juga ikut dalam rombongan, mendapatkan tugas, memastikan rombongan tetap sama saat pergi dan begitu juga pulang, tidak lebih dan kurang. Membawa dan mengurus balita alias bayi lima puluh tahun itu susah susah gampang, begitu kata supir bis yang bernama Rahman.
"Ya sudah kalau begitu," ucap Sugi sembari menepuk pudak Hagi.
Hagi mengangkat wajahnya, yang sejurus hanya fokus dengan tasnya, kemudian menoleh ke arah ayahnya yang berdiri membelakanginya, sejenak menghela nafas pendek, sesuatu yang sederhana, tapi selama 41 tahun hidup di bumi, dia tidak pernah merasa agak sedikit dekat dengan sang ayah. Kaku dan bingung ya, interaksi normal ayah dan anak saja Hagi bingung seperti apa seharusnya, tapi dengan mencoba ikut masuk ke dunia sang ayah, seperti saat ini, Hagi berpikir setidaknya, sedikit demi sedikit hubungan keduanya bisa mulai membaik.
"Man," tunggu, sembari Hagi melambaikan tangan dan berlarian kecil ke arah Rahman.
"Serius udah bisa ikutan?"
"Bismillah bisa, soalnya aku nggak bisa membayangkan bagaimana kamu ngurus balita-balita ini nanti sendirian," ujar Hagi sembari tertawa kecil.
"Balita yang ku urus ada tiga di rumah," ucap Rahman sembari menunjuk wallpaper ponselnya, dan di gambar wallpaper ponselnya ada sepasang lansia dan seorang balita perempuan.
"Penyemangat hidup," ujar Rahman, sembari tersenyum, tapi Hagi justru terdiam.
"Kenapa?" Tanya Rahman.