"Setiap putaran mesin adalah pengingat bahwa kehidupan tak selalu memberi jeda. Ada orang-orang yang menitipkan mimpi pada suara bising, meski setiap hari sedikit demi sedikit kehilangan dirinya."
Gedung tinggi nampak usang itu bercat debu dan berlapis karat dengan gerbang baja yang tampak bengis seakan menatapku dan siap menghajar ku sekali lagi tiap harinya.
Aku melangkah masuk dengan celana pendek Yang ku ikat menggunakan tali rafiah ,karena tak sempat ku membeli gesper
tak perlu waktu lama dengungan bising mesin penghancur plastik mulai menyelimuti telingaku , suaranya memekakan telinga dan beradu dengan suara kroncong perutku
"Ga kemarin pas lu shift malam cetakan ember bak dapet berapa ?" tanya Bang Panji mandor yang sudah sok sibuk pagi pagi seakan menjilat lewat cctv pabrik sambil menghitung target kemarin
"400 bang"jawabku gugup
"400? LU TIDUR??,kan gua udah bilang target nya 700 tolol!!"
"Mesinnya eror bang semalem, tau sendiri mesin yang nomor 23 kan suka eror bang ,kalau ga percaya tanya kepala shift" belaku sembari gugup
percakapan yang memecah keheningan pagi itu masih berlanjut
"bodoamat,gua gamau tau alasan lu, pokoknya hari ini waktu lu gua tambahin buat ngejar ketinggalan kemarin" ucap angkuh si Panji
"Tapi bang,yang lain ko engga di tambahin kalau ga target" tanyaku memohon