Jam dinding yang tergantung miring di sudut ruangan lembap tempat istirahat di pabrik telah menunjukkan angka yang indah, angka yang mengisyaratkan kepadaku untuk segera menyimpan sisa tenagaku.
Ku gantung kembali pakaian lusuh sisa pertempuran hari ini di dinding kamar mandi ruang ganti, ku basahi lengan serta tungkai kakiku dengan air dari bak yang terdapat puntungan rokok ulah para pekerja yang mencuri waktu untuk menghisap rokok di sela-sela jam kerja.
"Hari ini Arga pulangnya telat lagi, Mah. Mamah pasti ngomel kalau lihat tangan Arga kotor begini, gara-gara tadi dapat kerjaan tambahan, hehe."
Batinku disaat tanganku sedang berusaha mengikat tali rafiah di sela-sela celanaku, ocehan seperti itu sudah menjadi kebiasaanku agar selalu merasa mama masih ada di sini.
Setelah ritual pembersihan diri itu, aku beranjak dengan langkah semangat untuk pulang ke tempat di mana aku bisa merasakan bebasnya dari siksaan yang sebenarnya sudah menjadi hal wajar, "katanya".
Ku susuri lorong demi lorong pabrik, berjalan di atas lantai epoxy yang nampaknya sudah mulai berongga seperti otak bosnya. Di samping berdiri puluhan mesin inject yang tak sempat beristirahat dan terus bekerja di bawah kendali tangan yang berbeda.
Di ujung lorong sebelah gudang stok, dari kejauhan nampaknya terlihat seorang pria lusuh serta berperawakan gembrot yang tak asing sedang menunduk serta menggandengkan tangan di depan, rupanya si Panji. Dan ku lihat pula dia bersama seorang pria tua berkulit putih dan berlapis batik serta celana panjang dan sepatu pantofelnya, ternyata si bos.
Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan, sepertinya salah satu dari mereka sedang mengintimidasi.
Ku teruskan langkah kakiku sampai pintu kecil di sebelah gerbang itu sudah terlihat jelas di mataku. Aneh menurutku, pintu itu memiliki dua sisi yang berbeda. Jika kulihat dari luar seperti terlihat sangat usang dan jelek serta membuat otakku langsung terintimidasi, tetapi jika kulihat dari dalam rasanya pintu itu menjadi sangat indah, seakan mengajakku untuk membukanya dan pergi beristirahat.
"Ceklek~~~"
Pintu itu terbuka dan ku lihat awan senja telah terbentang dari ujung hingga ujung yang indah tapi rasanya keindahan itu bukan untukku. Langit seakan tersenyum mengejek padaku melihat badanku yang lusuh ini.
Ku berjalan di bawah lewat awan senja dengan langkah yang pasti menyusuri hiruk pikuknya khas pinggiran Kota Jakarta.
"Tinn-tinnnnnn~~~"
Suara klakson motor seakan tepat di belakang telingaku.
"DUARRRR"
"Eh sialan, Bang Tomi ternyata," refleksku menoleh kaget.
"Haha ayo naik cepet, udah ayok ikut, kaga tega gue liatnya, haha," tawar Bang Tomi dengan wajah khas sumringahnya.
"Gas, Bang," jawabku dengan antusias.
Kita berdua berjalan pulang menuju kediaman yang sama dari arah yang berbeda sembari berbincang di perjalanan.
"Tong, tumben lauu pulang jam segini, kaga biasanye."
"Dapet jam tambahan, Bang, tadi."
"Wah Alhamdulillah ya, Tong. Lembur dong itungannya."
"Lembur gimana, Bang. Cuma dikasih jam tambahan doang, itupun ga dibayar. Loyalitas katanya."
"Buset, ora danta pisan pabrik lu, Tong."
"Udah, Abang yang gantiin uang lembur lu, Tong. Gini aja deh, Abang traktir makan, mau kaga lu?" tawar Bang Tomi sembari menoleh kanan kiri di tikungan.
"Bener, Bang? Gausah lah ngrepotin nanti, Bang. Gua juga masih ada mie instan yang dari Abang tadi pagi aja belum kemakan."
"Buset dah, bocah batu bener. Dibilangin ayo udah ikut Abang aja, sante. Mie instannya bisa buat besok sarapan, lau Tong," sangkal Om Tomi.
"Yaudah gasskenn, Om. Btw mau makan di mana, Om?" tanyaku penasaran
"Biasa gado-gado Neng Lely yang gede itunya loh, hehehihi."
"Gede apanya, Om? Susunya? Apa apanya nih? Hahaha."
"Porsinya lah, ngeres amat pikiran lu, Tong."
"Hahaha, bercanda, Bang." Aku terkekeh dengan lelucon yang kubuat sendiri.
Mereka berdua pun tertawa sepanjang sisa perjalanan.
Motor tua milik Bang Tomi melaju pelan membelah jalanan yang mulai dipenuhi lampu-lampu toko. Angin sore membawa aroma gorengan, asap knalpot, dan debu yang bercampur menjadi bau khas Jakarta pinggiran.