Setengah Tiga Pagi

maulana
Chapter #9

Chapter 6. Ruang jeda

21.00


Handuk basah sudah tergantung di paku tembok belakang ,akhirnya malam ini air sudah kembali mengalir ,rambut yang basah,tubuh yang telah di usap sabun batang ini terasa lebih segar sejak dari hari kemarin.

Aku duduk di lantai beralaskan karpet tipis , entah kenapa tiba tibaaa perut kembali berbunyi rasanya gado-gado pemberian bang Tomi belum impas menebus tenaga ku yang seharian ku keluarkan.

"Mi goreng instan" tiba tiba terlintas diingatan ku

"oh iya...aku masih ada mie instan tadi pagi,masak aja kali ya"

aku beranjak mengambil mie instan yang ku letakan di sebelah tumpukan baju lusuh ku

"hehe Alhamdulillah untung aja Masi ada mie , kan ga jadi laper" seru ku antusias

niat ku beranjak menuju kompor di luar kost itu seakan tak lagi bisa ku tunda ,aku berdiri dan melangkahkan kakiku menuju pintu kost dengan tangan yang sudah memegang mie dan piring.

sesaat ketika aku hendak membuka pintu aku menyadari sebuah panggilan telpon dari ponsel ku ,belum sempat ku angkat telpon itu ,entah kenapa panggilan itu berakhir dengan sendirinya,sampai beberapa detik setelah panggilan itu berakhir tiba tiba masuk sebuah notif pesan via SMS

"Ditunggu ya mas tanggal 25"

aku terdiam sejenak, lalu kemudian menghitung jariku seakan menerka beberapa hari lagi tanggal itu tiba

" 16...17...18....ah Masi lama 10 hari lagi "gumam ku

ponsel itu kembali ku letakan dan aku beranjak kembali menuju kompor untuk meracik mie goreng instan pemberian bang tomi.

Kepulan asap dari panci berkarat itu seakan menjadi tanda bahwa sebentar lagi perutku tidak akan berbunyi lapar lagi,jari ku meraih bumbu dan ku gigit bungkus nya lalu ku tuangkan ke piring plastik yang masih sedikit berminyak.

tak selang lama mie yang ku masak di antara kepulan uap itu siap untuk ku makan.

"Ma.. , Arga malam ini makan mie lagi tapi ora Karo Sego ma hehe,Soale Miki wes di traktir gado-gado Nang bang Tomi ,jadi Arga udah makan nasi sebelum nya ya ma,mama jangan marah ya biasane kan mama pasti marah nek deleng Arga makan mie ga pake nasi hihi"

batin Arga sembari menatap kepulan uap di sepiring mi instan

"bismilah,moga wae wetengku Ra kencot maning..Aminn.."

Arga mengaduk mi goreng itu hingga bumbunya tercampur rata. Aroma bawang goreng langsung memenuhi kamar sempitnya.

Suapan pertama terasa nikmat.

Suapan kedua membuat perutnya yang brontak sedikit lebih tenang.

Namun saat suapan ketiga masuk ke mulut, tiba-tiba rasa perih menusuk dari ulu hati.

"Hnghh..."

Refleks tangannya berhenti di udara.

Telapak tangan kirinya menekan pelan bagian atas perut.

Rasa perih itu datang hanya beberapa detik, lalu menghilang perlahan.

Arga mengambil gelas plastik berisi air putih dan meneguknya sampai habis.

"Paling gara-gara telat makan lagi..." gumamnya pelan.

Ia kembali menyuap mi goreng yang mulai dingin, seolah rasa sakit barusan tidak pernah terjadi.

" arrgghgg...Alhamdulillah wareg tenan"

setelah hidangan khas anak kost itu habis reflek tanganku mengambil bungkusan rokok geboy ilegal tepat di sebelah ponsel ,ku tarik satu batang dari sisa 5 batang lagi , langsung saja rokok itu mendarat di kedua bibir ku

"suuurttttttt...ahhhh ,nikmat mana lagi yang kau dustakan" sambil ku kecap kan mulut ku

ngggg...nggggg suara kipas tua setengah rusak itu seakan menjadi teman disaat saat malam malam panjang tak usah lah internet ponselku untuk membuka wa saja sudah protes.

Tak terasa jam sudah mendarat di pukul 22.00 sayang rasanya jika ku terus menahan diri untuk tetap terjaga ku rebahkan tubuh lelah ku di secarik kain karpet tipis itu dan tak terasa kesadaran ku mulai diambil oleh angin malam

Kesadaranku perlahan tenggelam bersama suara kipas tua yang terus berdengung.

Entah sejak kapan...

Aku berdiri di halaman rumah yang sudah bertahun-tahun tak lagi kudatangi.

Angin pagi berembus pelan, membawa aroma tanah yang masih basah dan wangi nasi yang baru matang dari dapur.

Jantungku berdegup pelan.

Rumah itu...

Rumahku.

Aku melangkah masuk tanpa ragu.

Dari balik dapur terdengar suara minyak yang sedang mendesis.

Lihat selengkapnya