SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #1

KENANGAN DI PUNCAK PATANDE

(20 Tahun Yang Lalu )

Kukkuruyukk....

Kukkuruyuk.....

Kukkuruyukk..." (Sijago berkokok dengan nyaringnya). Ahhh.. Sungguh menyebalkan ketika suara ayam bapakku berkokok seakan tak mengizinkanku menikmati tidurku .

"... Hmm,Mereka benar benar mengganggu ..." (Cetusku).

     Hari ini Bapak dan ibu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke pasar, hal itu tentu saja menjadi kesempatanku agar leluasa tidur hingga siang hari ( Pikirku ) Tetapi sayangnya, suara si jago menghilangkan rasa ngantukku.

"...Arghh, Menyebalkan sekali.

Karna jam sudah menunjukkan pukul 07.45. Akhirnya aku membasuh wajahku dan memilih membersihkan halaman rumah untuk menghilangkan kegabutanku pagi ini. Oh iyaa, perkenalkan namaku Nadiah. Aku berusia 6 tahun. Saat ini aku tinggal di Sulawesi Tenggara, tepatnya di kolaka utara, di pegunungan patande, tempat dimana Bapak dan ibuku mencari nafkah dengan mengharap pada hasil panen dari berkebun cengkeh dan coklat. Aku tinggal di sebuah rumah sederhana di atas pegunungan dimana dindingnya terbuat dari papan dan bambu dengan atap yang terbuat dari daun nipah. Udara yang masih sangat sejuk, jauh dari polusi dan kebisingan menjadikanku merasa sangat betah tinggal di sini.

        Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menampakkan dirinya di balik ufuk Timur, suara gesekan  dedaunan dan kicau burung di hutan sekitar menjadi alarm alami yang membangunkanku. Aku seringkali berdiri di depan pintu rumah, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan wangi khas daun cengkeh yang tertiup angin. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan ruang bagiku untuk merenung di sela-sela kesibukan membantu Bapak dan Ibu. Melihat Bapak bersiap dengan peralatan kebunnya dan Ibu yang sibuk di dapur darurat kami, ada rasa bangga sekaligus haru yang membuncah. Meskipun dinding papan rumah kami mulai dimakan usia dan atap nipah terkadang harus diperbaiki saat musim hujan tiba, kehangatan di dalamnya tidak pernah berkurang.

​        Di meja kayu kecil dekat jendela, biasanya aku duduk terdiam. Dari sana, aku bisa melihat hamparan hijau pegunungan Patande yang seolah tak berujung. Keheningan ini bukan berarti kesepian; bagiku, ini adalah simfoni ketenangan yang memicu imajinasiku.  Tempat ini mengajarkanku bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan kota yang bising. Terkadang, ia hadir dari kesederhanaan sebuah rumah di atas gunung, di mana cinta orang tua mengalir sederas air pegunungan, dan harapan dipupuk bersama tanaman-tanaman kebun yang kami rawat dengan sepenuh hati. Di Patande inilah, aku menemukan jati diri dan keteguhan untuk terus melangkah demi masa depan yang lebih cerah.

       Di tahun ini (2006) kondisi berkebun coklat dan cengkeh cukup menjanjikan, Harganya pun sedang merangkak naik, membawa angin segar bagi kami di Patande. Setiap kali musim panen tiba, suasana di sekitar pegunungan terasa lebih hidup. Bapak terlihat lebih bersemangat saat memikul keranjang berisi buah coklat yang baru dipetik, sementara Ibu dengan telaten memilah biji-biji yang berkualitas baik untuk dijemur. Hamparan terpal di depan rumah kini dipenuhi dengan butiran biji coklat yang berkilauan di bawah sinar matahari. Aroma manis kecokelatan bercampur dengan wangi cengkeh yang sedang dikeringkan memenuhi udara, menciptakan aroma khas kemakmuran yang sangat menenangkan. Kami semua bekerja sama; meski punggung terasa pegal dan tangan menghitam karena getah, senyum tipis di wajah Bapak saat menghitung perkiraan hasil panen adalah obat lelah yang paling ampuh.

​         Uang hasil panen tahun ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan harapan yang menjadi nyata. Bapak mulai merencanakan untuk memperbaiki beberapa bagian dinding rumah yang sudah lapuk, serta menyisihkan tabungan lebih untuk biaya pendidikanku. Ada rasa lega yang menyelimuti rumah kayu kami, seolah-olah alam sedang membalas semua keringat dan doa yang selama ini dipanjatkan di tanah pegunungan ini. Di sela-sela waktu membantunya, aku sering duduk di atas tumpukan karung hasil panen, menatap langit Sulawesi Tenggara yang cerah. Melihat keberhasilan kecil ini, aku semakin sadar bahwa kehidupan di gunung tidak pernah mengkhianati mereka yang bersabar. Tahun 2006 ini akan menjadi catatan penting dalam ingatanku, tentang masa di mana hasil bumi memberikan nafas panjang bagi impian-impian kami yang sederhana namun setinggi puncak Patande.

       Di pasar, biji coklat dan cengkeh memiliki permintaan yang selalu tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini membuat Bapak seringkali harus menempuh perjalanan turun gunung menuju kota, membawa hasil bumi kami dengan penuh kehati-hatian. Mendengar cerita Bapak tentang bagaimana biji coklat dari kebun kami bisa sampai ke pabrik-pabrik besar, bahkan mungkin hingga ke luar negeri, membuatku terpaku. Rasanya ajaib membayangkan bahwa buah yang kami petik dengan tangan yang kasar karena getah ini, pada akhirnya akan dinikmati oleh orang-orang di tempat yang jauh yang bahkan tidak tahu di mana letak Patande. Setiap kali transaksi di pasar selesai, Bapak pulang dengan membawa kebutuhan pokok dan sedikit buah tangan untuk kami di rumah. Namun, yang paling berharga bagi beliau bukanlah uangnya, melainkan rasa hormat dari para pengepul yang mengakui kualitas hasil kebun kami. Di pasar yang ramai dan penuh debu itu, jerih payah petani seperti Bapak adalah penggerak roda ekonomi yang tak terlihat namun sangat krusial.

​      Permintaan yang stabil ini memberiku sebuah pelajaran berharga tentang ketahanan. Meskipun pasar global sering kali fluktuatif, tanah Kolaka Utara seolah memberikan jaminan melalui kesuburannya. Aku melihat bagaimana ketergantungan dunia pada hasil bumi kami memberikan martabat tersendiri bagi para petani di desa. Mereka bukan sekadar orang yang bercocok tanam, melainkan penyokong industri yang melintasi batas-batas negara. Di bawah temaram lampu saat malam tiba, kami sering berbincang tentang masa depan kebun. Bapak selalu berpesan bahwa tanah ini adalah warisan yang harus dijaga. "Selama kita jujur merawat tanah, tanah tidak akan membiarkan kita lapar," begitu ucapnya. Kalimat itu tertanam kuat di benakku, menjadi pondasi semangatku untuk menghadapi hari esok.

    Banyak petani yang mengandalkan hasil panen coklat dan cengkeh sebagai sumber utama pendapatan keluarga. Di Pegunungan Patande, cengkeh dan coklat bukan sekadar tanaman; mereka adalah detak jantung ekonomi bagi hampir seluruh warga di sini. Ketika musim panen tiba, suasana desa yang biasanya sepi berubah menjadi sibuk dan penuh harapan. Para tetangga saling membantu, bertukar kabar tentang harga pasar terbaru, atau sekadar berbagi tenaga untuk mengangkut hasil bumi melewati jalanan setapak yang curam dan licin. Ketergantungan pada alam ini membuat kami belajar tentang arti kesabaran dan syukur. Jika cuaca bersahabat dan hama menjauh, maka dapur-dapur di rumah panggung kami akan terus mengepul. Bagi para petani di Kolaka Utara, keberhasilan panen kedua tanaman ini berarti kemampuan untuk melunasi utang, membeli perlengkapan sekolah anak-anak, atau bahkan memperbaiki rumah agar lebih kokoh menghalau angin gunung.

​      Aku sering memperhatikan bagaimana Bapak dan para petani lainnya menatap langit dengan penuh harap. Setiap tetes hujan atau terik matahari memiliki makna yang dalam bagi mereka. Ada semacam ikatan batin antara tangan mereka yang berurat dengan tanah yang mereka pijak. Mereka tidak memiliki gaji bulanan atau jaminan hari tua, namun mereka memiliki keyakinan yang teguh bahwa bumi tidak akan pernah kikir kepada mereka yang mau berkeringat. Melihat pemandangan itu, aku merasa memikul tanggung jawab yang besar. Pendapatan dari kebun inilah yang membiayai setiap lembar kertas dan tinta yang ketiga kakakku pakai untuk menulis. Di tengah aroma daun cengkeh yang kuat dan hamparan coklat yang sedang di jemur, aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyia-nyiakan setiap butir hasil panen yang telah dikonversi menjadi peluang bagiku. Perjuangan mereka adalah fondasi bagi setiap mimpi yang sedang kurajut di atas gubuk kami.

       Dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan budidaya pohon coklat dan cengkeh, banyak petani mulai menerapkan metode yang lebih ramah lingkungan. Perubahan ini perlahan mulai terasa di lingkungan sekitar rumah kami. Bapak kini tidak lagi sembarangan menggunakan pupuk kimia; beliau mulai belajar mengolah limbah kulit coklat menjadi kompos alami. Pengetahuan baru ini membawa warna berbeda di keseharian kami di Patande. Kami belajar bahwa tanah yang sehat akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan, menjaga kesegaran udara pegunungan yang selama ini kami nikmati agar tetap murni untuk generasi mendatang.

       Banyak tetangga yang juga mulai menerapkan sistem tumpang sari, menanam berbagai jenis tanaman di sela-sela pohon cengkeh untuk menjaga kelembapan tanah. Suasana kebun terasa lebih rimbun dan ekosistem di dalamnya terlihat lebih seimbang. Kicau burung dan serangga yang sempat berkurang kini kembali ramai terdengar, seolah alam memberikan restu atas cara kami yang lebih menghargai keberadaannya. Di sore hari, aku sering melihat Bapak berdiskusi dengan petani lain tentang teknik pemangkasan yang tepat tanpa merusak struktur pohon. Meskipun kami tinggal jauh di atas gunung dengan rumah dinding papan dan bambu, semangat untuk maju tidak pernah surut. Teknologi dan pengetahuan sederhana ini memberikan rasa aman; kami tidak lagi sekadar pasrah pada alam, tapi mulai berjalan beriringan dengannya.

​      Bagiku, transformasi ini memberikan sudut pandang baru. Aku tidak hanya paham tentang perjuangan melawan kemiskinan atau kerasnya hidup di gunung, tapi juga dapat memahami tentang kearifan dan adaptasi. Di bawah atap daun nipah ini, aku mencatat bagaimana teknologi mampu bersatu dengan tradisi, menciptakan sebuah harmoni yang memastikan bahwa harum cengkeh dan manisnya coklat dari tanah Kolaka Utara akan tetap ada, melintasi waktu hingga jauh ke masa depan.

        Aku, Bapak dan ibu merawat kebun menggunakan alat seadanya. Mesin pemotong rumput dan ilalang masih belum ada dikarenakan harganya yang lumayan mahal sehingga bapak membersihkan kebun dari semak belukar hanya menggunakan sabit atau menyemprotnya menggunakan tangkih yang berisi air dan campuran pestisida. Bahkan ditahun ini (2006) sepeda motorpun kami belum punya. Oleh sebab itulah mengapa Bapak dan Ibuku harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh ketika ingin ke pasar atau ke toko retail untuk membeli kebutuhan dapur disebabkan jaraknya yang lumayan jauh dan hanya bisa di akses dengan berjalan kaki karena melewati sungai dan jalan setapak yang jalannya sangat licin apalagi ketika musim hujan tiba.

      Setiap kali Bapak dan Ibu bersiap untuk pergi ke pasar, aku selalu melihat mereka mengenakan sepatu bot karet yang sudah tipis solnya. Mereka memanggul keranjang rotan yang kosong, siap diisi beban berat saat pulang nanti. Perjalanan itu bukan sekadar jalan santai; itu adalah perjuangan fisik menaklukkan medan Patande yang terjal. Menyeberangi sungai dengan arus yang kadang tidak menentu dan mendaki jalan setapak yang berlumpur membutuhkan konsentrasi penuh agar kaki tidak tergelincir.

Lihat selengkapnya