SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #2

PULANG KE KAMPUNG KAKEK DAN NENEK

(Setahun kemudian)

 

Waktu berlalu begitu cepat dan hari ini adalah hari terakhirku menetap di pegunungan Patande. Tak terasa bulir bening menetes di pipiku. Rasanya ingin sekali kukecup dahan pohon coklat dan cengkehku satu per satu. Kenanganku menanam dan merawat mereka, terbayang di ingatanku.

 

"... Semoga ketika aku meninggalkan kalian, hama-hama itu tidak lagi mengganggu, berbuahlah yang banyak, ya, agar Bapak dan Ibu bisa menyekolahkanku hingga jadi sarjana ..." ucapku sambil melambai pada semua pohon coklat dan cengkeh di hadapanku. Tak lupa aku berpamitan pada pohon kedondongku yang sudah berbunga. Letaknya tak jauh dari rumah. Sepertinya tidak lama lagi tumbuhan kesayanganku ini akan berbuah.

 

Terdengar Ibu memanggilku.

 

"... Nadiah, ayo cepat. Nanti mobilnya kelamaan menunggu, loh ..." teriak Ibuku.

 

Aku pun menyeka air mata dan segera menghampiri Bapak dan Ibuku. Hanya Ibu yang menemaniku pulang ke rumah Nenek di kampung dikarenakan Bapak harus tetap tinggal di sini. Bapak tetap harus menjaga kebun kami agar tetap aman dan terhindar dari kera-kera usil yang sering merusak tanaman coklat dan memakan buahnya. Biasanya tugas mengusir kera adalah tanggung jawabku. Dengan tongkat panjang di tanganku, aku selalu duduk di atas batu besar di samping pohon kedondongku kemudian mengayunkan tongkat panjangku ketika ada kera-kera usil yang mendekat. Bahkan saking gregetnya sesekali aku mengejar mereka ke pinggir hutan.

 

"... Ahhh, sayangnya aku harus meninggalkan semua kenanganku di sini ..."

 

Kami berjalan kaki menuju jalan poros yang memakan waktu kurang lebih 3-4 jam. Kami sampai di tujuan tidak lama setelah azan asar berkumandang. Meski lelah, aku sama sekali tidak pernah mengeluh karena Bapak dan Ibu sedari kecil sudah membiasakanku menjadi perempuan mandiri. Oleh sebab itulah berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh menurutku biasa saja.

 

"... Lumayan lelah memang, tetapi lelahnya, yah, hanya sebentar ..."

 

Aku memasuki salah satu warung di pinggir jalan poros, meneguk segelas air dingin sudah sangat cukup untuk menghilangkan dahagaku karena kelelahan berjalan. Setelah mobil membunyikan klakson tanda akan berangkat, aku memeluk Bapak erat-erat. Aroma tanah dan getah cokelat melekat pada kemeja lusuh yang ia kenakan. Aku berpamitan dan mencium punggung tangannya lumayan lama.

 

"... Nadiah pamit dulu, Pak, doakan Nadiah semoga kelak bisa membanggakan Bapak, ya ..." ucapku sambil memeluk Bapak.

 

Aku tak kuasa menahan tangisku ketika tangan keriput Bapak membalas pelukanku. Kerut di keningnya menandakan bahwa selama ini beliau amat sangat kelelahan. Banyak kepahitan hidup yang Bapak sembunyikan hanya karena tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Sesekali beliau melampiaskannya di atas sajadah lusuh di lima waktu. Cucuran air mata Bapak kepada Sang Pencipta membuat beban di pundaknya lebih ringan. Di saat usianya semakin menua, anak-anaknya tak dapat bebas bersamanya bahkan sekarang aku dan ketiga kakakku tak punya kesempatan lagi untuk menemaninya. Karena kami harus bersekolah.

 

"... Semoga kelak, kita bisa punya waktu yang lama untuk seatap lagi, ya, Pak ..." batinku.

 

Aku bergegas naik ke mobil, sudah ada beberapa penumpang di dalamnya. Aku duduk di kursi bagian depan bersama Ibu. Mobil pun melaju dengan pelan dan aku melambaikan tangan ke Bapak dan berteriak dengan keras.

 

"... Dahhh, Pak, jaga diri, ya, Pak, jaga pohon coklat, cengkeh, dan kedondongku, Pak ..." teriakku sambil menangis, kudengar beberapa penumpang di belakangku ikut tertawa mendengar teriakanku. Aku menoleh ke belakang, melihat Bapak berdiri tegak dan melambai ke arahku. Siluetnya perlahan mengecil, namun janji dan harapan yang ia titipkan terasa begitu besar membebani pundakku. Mobil mulai bergerak, hutan dan perkebunan Patande, rumah masa kecilku, perlahan hilang setelah melewati tikungan jalan. Di dalam mobil yang berguncang, aku memejamkan mata. Aku tahu, perpisahan ini merupakan awal dari sebuah babak baru. Aku bukan hanya membawa tas berisi pakaian, melainkan juga mimpi yang harus kubawa pulang.

 

"... Jangan melamun terus, Nak ..." ujar Ibu pelan, tangannya menggenggam tanganku.

 

Jarak tempat tinggalku saat ini dengan rumah Kakek Nenekku lumayan jauh. Bisa ditempuh menggunakan jalur darat maupun laut. Namun kali ini aku dan Ibu menaiki salah satu mobil sewa yang khusus mengantar penumpang dari Sulawesi Tenggara ke Sulawesi Selatan ataupun sebaliknya. Biasanya perjalanan dengan menggunakan mobil ditempuh kurang lebih 15 jam dan membayar sekitar 500 ribu per orang.

 

Apabila ingin menggunakan jalur laut maka perjalanan dimulai dari Pelabuhan Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara menuju ke Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Waktu tempuhnya sekitar 1-2 jam. Dari Kendari kemudian kita melanjutkan perjalanan ke Bau-Bau, sebuah kota pelabuhan di Sulawesi Tenggara. Waktu tempuhnya sekitar 2-3 jam. Dari Bau-Bau, kemudian kita melanjutkan lagi perjalanan ke Selayar, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan. Waktu tempuh sekitar 4-5 jam. Dari Pulau Selayarlah, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Waktu tempuh sekitar 2-3 jam. Menurut Ibuku menggunakan jalur laut lumayan ribet dan bertele-tele sehingga Ibu lebih memilih menggunakan jalur darat ketika ingin pulang kampung.

 

Aku menikmati perjalananku di setiap kilometernya, menurunkan kaca mobil kemudian mengulurkan tangan membelai hembusan angin sore yang turut menerpa tangan dan pipiku. Meski sedih meninggalkan Bapak, tetapi di sisi lain aku bahagia karena akan segera bertemu ketiga kakakku dan tentunya bertemu Kakek dan Nenekku. Tak terasa langit hendak berubah menjadi gelap tetapi senja terlihat masih sangat enggan meninggalkan guratan oranyenya di langit. Pemandangan pantai yang dihiasi pohon kelapa di sepanjang jalan menghilangkan rasa ngantuk yang kutahan sedari tadi. Rugi rasanya pemandangan seindah ini tak dinikmati oleh kedua mataku. Suara deburan ombak, gemerisik dedaunan, dan kicau burung selama di perjalanan membentuk irama yang sangat membuai di telinga.

 

"... Ahh, indahnya ..." batinku.

 

Lihat selengkapnya