Hari ini merupakan hari pertamaku menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar. Pagi-pagi sekali Aku sudah di bangunkan kakek dan nenekku. Ketiga kakakku pun sangat antusias menyiapkan perlengkapan sekolahku. Aku segera mandi dan mengenakan seragam putih merah yang dibelikan ibu pada salah satu toko seragam sekolah pekan lalu. Ibu sengaja membeli ukuran yang sedikit kebesaran agar Aku bisa memakainya sampai beberapa tahun ke depan. Aku mengenakan tas berwarna pink dengan motif Hello Kitty yang didalamnya berisi 2 buku tulis, dia buah pensil yang sudah di raut dan satu roti unyil pemberian kak Nikmah.
Aku ke sekolah di temani Ibu. Kami berjalan kaki melewati jalan setapak yang berlumpur tipis karena embun pagi. Aroma tanah basah dan dedaunan kering mulai tercium di sepanjang jalan, menemani langkah kecilku yang sesekali nyaris terpeleset. Ibu menggandeng erat tanganku seakan tak membiarkan lumpur-lumpur itu mengotori seragam sekolahku. Dari kejauhan Aku melihat gedung sekolah berwarna krem dengan bendera merah putih berkibar yang meliuk-liuk. Suara riuh terdengar samar-samar. Tak beberapa lama kemudian, kami sudah keluar dari jalan setapak dan telah sampai pada jalan desa dengan bebatuan yang di tersusun rapi. Ibu sengaja tidak melewati jalan desa tersebut karna jaraknya 5 kali lebih jauh ketimbang melewati jalan setapak tadi. Aku sesekali memperhatikan raut wajah Ibu. Senyumnya begitu meyakinkan membuatku pun semakin bertambah berani. Aku sedikit membusungkan dada dan melangkah dengan mantap menuju sekolah.
Sesampai di sekolah, Aku dan ibu langsung memasuki ruang kelas yang nantinya akan menjadi kelasku. Bau cat tercium samar-samar berpadu dengan aroma buku dan debu. Aku duduk paling depan dengan seorang anak perempuan dengan rambut di kepang dua. Namanya Yuniar. Dia sepupu dua kaliku dan tiga bulan lebih tua dariku. Setelah mendudukkanku di kursi, Ibu berpamitan untuk menungguku di warung belakang sekolah. Karna hari ini merupakan hari pertamaku sekolah sehingga seminggu kedepan Ibu berjanji akan mengantarku kesekolah setiap hari.
Saat Aku dan Yuniar sedang asyik mengobrol, seorang guru berusia sekitar 40-an masuk ke kelas. Ia telihat membawa buku absen tebal. Seketika suasana kelas yang tadi sangat riuh kini berubah menjadi senyap. Aroma cat, buku dan debu kini terasa semakin pekat.
"...Selamat pagi anak-anak..." (Sapanya dengan suara lembut tapi tegas) "...Perkenalkan Saya Ibu Rajang, wali kelas kalian untuk satu tahun kedepan..."
"...Selamat pagi bu..." (Kami menyapanya beramai-ramai dengan penuh semangat ).
Jumlah murid di kelasku ada 21 orang. Ibu Rajang menyebutkan nama kami satu persatu dan menyuruh Kami berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Ketika tiba namaku di sebut, Aku mengangkat tangan dengan canggung dan memperkenalkan diri dengan mantap. Setelah menyebutkan namaku Nadiah, rasanya darah di sekujur tubuhku berdesis dan pipiku sedikit memanas. Ini merupakan pengalaman pertamaku berdiri di depan banyak orang asing. Bu Rajang tersenyum hangat ke arahku dan meminta murid selanjutnya untuk memperkenalkan diri.
Aku bergegas menuju kursiku, rasanya seperti sedang melarikan diri dari hal memalukan. Begitu duduk, Aku menunduk, pura-pura terlihat sibuk membereskan isi tas, padahal telingaku tetap fokus mendengarkan perkenalan murid yang lain. Murid ke-17 bernama Mulya, Ia tampak lebih percaya diri dariku. Suaranya terdengar sangat lantang dan terlihat sesekali melempar senyum ke beberapa teman yang menyambut perkenalannya. Setelah Mulya, ada murid bernama Putri. Ia memperkenalkan diri dengan sangat singkat. Putri terlihat sangat kikuk dan terus menerus menunduk membuat beberapa murid di belakang tertawa pelan.
Setelah semua murid sudah memperkenalkan diri, Aku berani menatap wajah mereka satu per satu. Dari perkenalan tadi, Aku melihat banyak sekali karakter. Ada yang sangat bersemangat, ada yang pemalu, ada yang suaranya hampir tidak terdengar dan ada juga murid yang berbicara sangat cepat.
"...Nah, sekarang kita sudah saling mengenal..." (ujar bu Rajang sambil tersenyum lebar).
"...Dan mulai hari ini, kita semua adalah satu keluarga..." ( tegasnya lagi)
Suasana kelas yang tadinya sangat tegang kini mulai sedikit mencair. Terlihat beberapa murid mulai saling menyapa dengan teman sebangkunya. Aku mulai berkenalan dengan Mulya dan Putri. Dan ada juga Pira dan Anti dan teman-teman yang lain.
Setelah bel tanda istirahat berbunyi. Semua murid di persilahkan untuk istirahat. Ada murid yang langsung membeli jajanan dan ada juga yang bermain. Karena merasa agak lapar, Aku segera berlari menuju warung di belakang sekolah, tempat Ibu menunggu. Ibu mengeluarkan bekal nasi yang masih hangat dengan lauk ayam goreng dan tempe. Aku menyantapnya dengan sangat lahap. Setelah makan, Aku minta izin kepada Ibu untuk bermain dengan teman-teman baruku.
Di bawah pohon ketapang, Aku, Niar, Mulya dan Putri memperhatikan beberapa murid laki-laki yang bermain kelereng. Dari Cara bermain mereka, Aku akhirnya tau salah satu cara dan teknik bermain kelereng . Pertama, membuat lingkaran di tanah dengan jari atau tongkat Kemudian, meletakkan beberapa kelereng masing-masing pemain di dalam lingkaran tersebut. Pemain pertama akan melempar kelerengnya dari luar lingkaran, akan berusaha untuk mengenai kelereng lain di dalam lingkaran. Apabila kelerengnya mengenai kelereng yang lain, maka pemain tersebut bisa mengambil kelereng yang terkena dan yang keluar dari lingkaran. Begitupun sebaliknya Jika tidak mengenai satu kelerengpun, maka giliran pemain lain yang melempar. Permainan tersebut akan terus berlanjut hingga semua kelereng di dalam lingkaran habis dan pemain yang memiliki kelereng terbanyak di akhir permainan adalah pemenangnya.