Dalam hidup tentunya Tuhan senantiasa menguji keimanan hamba-Nya dengan menghadirkan duka di antara selingan tawa. Kebahagiaan pun kadang sekejap saja dapat menjelma menjadi air mata. Namun, di balik setiap tetes air mata yang jatuh, terselip sebuah rahasia yang hanya bisa dibaca oleh hati yang berserah. Ujian bukanlah bentuk hukuman dari Sang Pencipta, melainkan cara semesta mengupas lapisan-lapisan keduniawian kita agar kita menemukan inti dari kekuatan yang sesungguhnya: KESABARAN.
Begitu pun saat usiaku 9 tahun, saat aku sudah duduk di kelas 3 SD. Saat itu kelasku mendapat mata pelajaran olahraga. Semua murid berkumpul di lapangan dan serentak memakai pakaian olahraga. Pak Udin mengisyaratkan kepada kami untuk melakukan pemanasan yang dipimpin oleh Irpan, ketua kelas 3. Kami mengikuti instruksi Irpan dengan sangat antusias. Hari ini kami akan belajar tentang permainan bola voli. Tak beberapa lama, wali kelasku yang bernama Ibu Kurnia datang berbisik kepada Pak Udin. Entah apa yang menjadi topik percakapan mereka sehingga membuat tangis Pak Udin pecah, begitu pun dengan Ibu Kurnia. Mukanya memerah dan tatapannya langsung tertuju padaku.
"... Nadiah, sini, Nak ..." panggil Pak Udin.
Aku pun segera bergegas menuju tempat Pak Udin dan Ibu Kurnia berdiri. Dengan raut kebingungan aku bertanya untuk menjawab rasa penasaranku atas sebab kesedihan mereka. Ibu Kurnia segera memelukku.
"... Sabar, ya, Nak, kakak kamu, Nikmah, sudah tidak ada ..." ucapnya sesenggukan.
Aku merasa seperti disambar petir, tubuhku kaku seakan hanya tersisa raga. Kakakku, Nikmah.
"... Tidak mungkin ...."
Aku baru saja berbicara dengan dia tadi pagi. Aku berharap hanya tersesat di salah satu alur cerita di mimpi burukku.
"... Aku ingin bangun ..."
Aku berusaha mencubit paha dan pipiku tapi ...
"Oh Tuhan ini nyataaa. Tidak, tidak mungkin ..." Aku berteriak, tapi suaraku nyaris tertahan. Aku linglung, seperti kehilangan arah. Ibu Kurnia memelukku erat dan menjelaskan bahwa Kak Nikmah mengalami kecelakaan motor. Ia terjatuh saat berboncengan dengan temannya saat berangkat ke sekolah. Aku hanya bisa menangis di pelukan Bu Kurnia, meluapkan segala ketidakpercayaanku melalui tangisan. Pak Udin dan teman-temanku mencoba menenangkanku,
"... Nadiah, sabar, ya, Nak ... Insyaallah kepergian kakakmu husnulkhatimah, doakan ia semoga segala amal baiknya diterima dan dilipatgandakan pahalanya, Nak ..." ucap Pak Udin sambil mengelus punggungku.
Aku hanya terus menangis seakan air mataku enggan untuk berhenti. Aku merasa seperti kehilangan bagian dari diriku. Kakakku, Nikmah ... Aku betul-betul tidak siap kehilangan dia. Tak berapa lama terdengar bunyi mobil ambulans di depan sekolah. Terlihat ratusan orang mengekori mobil tersebut dengan raut wajah yang sedih. Kebanyakan dari mereka adalah kerabat dan teman-teman Kak Nikmah. Seseorang yang kukenal memanggilku. Dia adalah Om Haris. Om Haris menyuruhku mengambil tas dan bergegas pulang dengan menaiki mobil sedan miliknya. Aku pun mengangguk. Dengan mata bengkak, aku naik di mobil Om Haris. Terlihat sudah ada beberapa orang di mobil tersebut. Salah satu dari ibu-ibu yang tidak kuketahui namanya terus mengelus pundakku seakan menyalurkan kekuatan. Tetapi rasanya setiap kalimat sabar yang diucapkan orang-orang tersebut malah membuatku semakin tak berdaya.
Selama perjalanan pulang, aku hanya bisa terdiam. Rasanya sekarang air mataku sudah malas mengalir. Hanya ada rasa kosong yang membanjiri dadaku, seolah-olah bagian dari diriku juga ikut pergi bersama Kak Nikmah. Om Haris tidak berkata apa-apa, kadang ia hanya memecah keheningan dengan memutar murottal Surah Al-Baqarah dan Surah Yasin.
Sesampai di rumah, kulihat Kak Annisa tidak sadarkan diri, begitu pun dengan Kakekku. Bapakku terdengar sesekali berteriak dalam tangisannya. Sedangkan Kak Niswah dan Ibuku terus-menerus menangis memeluk jasad Kak Nikmah. Orang-orang terus memeluk Ibuku, menguatkannya agar beliau bisa ikhlas. Kulihat Nenekku pun sudah terbaring pasrah di samping jasad Kak Nikmah, ia melantunkan Surah Yasin di samping jasad cucunya. Suaranya sesekali melemah karena diselingi suara tangisannya. Aku berdiri di pojok ruangan, tidak berani mendekat. Mataku hanya terpaku pada wajah Kak Nikmah, kakak kesayanganku. Wajahnya begitu tenang, seolah-olah dia hanya tertidur dan dapat bangun kapan saja.
Air mataku yang semula mengering tiba-tiba kembali meluapkan kesedihan. Salah satu ibu-ibu memanggilku untuk mendekat. Dengan hati-hati, aku memaksakan diri melangkahkan kaki menuju jasad Kak Nikmah. Setiap jengkal langkah terasa begitu berat, seolah-olah bumi yang kupijak sedang menarikku ke dasar duka yang paling dalam. Suara isak tangis yang memenuhi ruangan itu mendadak terdengar samar, tertutup oleh gemuruh detak jantungku sendiri. Di depan sana, tubuh yang kini kaku itu terbujur tenang di bawah balutan kain jarik.
Aku berlutut di sampingnya. Tanganku yang gemetar ragu-ragu terangkat, menyentuh tepian kain yang menutupi wajahnya. Ada ketakutan yang luar biasa, ketakutan untuk menerima kenyataan bahwa senyum yang biasanya menyambut kepulanganku, kini telah membeku selamanya. Saat kain itu perlahan tersingkap, duniaku seakan berhenti berputar. Kak Nikmah terlihat begitu damai, seolah ia hanya sedang tertidur pulas setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Tidak ada lagi gurat kelelahan atau rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi di balik tawa renyahnya. Aku memberanikan diri memeluknya, meluapkan segala ketidakpercayaanku bahwa dia benar-benar sudah pergi dan tidak bisa bangun lagi. Aku menangis sejadi-jadinya, Kak Nikmah yang selalu kuanggap pengganti Ibuku sudah pergi. Aku tidak dapat membayangkan sepinya hari esok tanpa sosok Kak Nikmah.
"... Oh Tuhan, mengapa harus Kak Nikmah ..." batinku.