SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #5

MASA PUTIH BIRU DAN PUTIH ABU-ABU

(Beberapa Tahun Kemudian)

Hari ini adalah hari penerimaan rapor semester akhir sekaligus acara penamatan murid kelas 6. Aku yang menjadi salah satu murid kelas 6 merasa sangat sedih ketika harus meninggalkan sekolahku, madrasah pertama yang telah menyaksikan setiap langkah kecilku mengais ilmu selama 6 tahun lamanya. Acara diawali dengan pengumuman juara kelas dari kelas 1 sampai kelas 6 dan alhamdulillah 6 tahun lamanya aku masih mempertahankan predikat juara pertamaku dan tentunya kali ini Bapak dan Ibuku bisa hadir. Rasa bangga di mata mereka menjadikanku semakin bersemangat. Setelah acara penerimaan rapor dan pengumuman juara kelas maka tibalah saatnya aku dipanggil ke depan kelas untuk menyampaikan kesan dan pesanku selama bersekolah di SDN 26 Maddenge ini, aku pun dengan berani berdiri di depan semua hadirin yang hadir.

 

"Assalamualaikum http://wr.wb, Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah, seluruh rekan guru, orang tua murid, dan teman-teman semua. Alhamdulillah tentunya kita semua bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama di tempat ini. Pertama-tama, saya mewakili seluruh teman-teman kelas 6 ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak dan Ibu guru yang telah membimbing dan mengajar kami tanpa pamrih selama 6 tahun lamanya. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah mendukung kami dalam setiap langkah kecil kami menuju gerbang kesuksesan.

 

Kami merasa sangat bersyukur karena telah diberikan kesempatan menjadi bagian dari SDN 26 Maddenge, sekolah yang telah menjadi rumah kedua bagi kami. Tempat kami belajar, bermain, dan bertumbuh. Kami akan selalu mengingat kenangan-kenangan indah yang kami buat di sini. Semoga sekolah ini akan menjadi jauh lebih baik ke depannya dan terus mencetak siswa-siswi berprestasi yang akan mengharumkan dan memperindah citra SDN 26 Maddenge.

 

Untuk teman-temanku, terima kasih untuk segala kenangan indah kita, tetap semangat bagi kalian yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta bantuan dari Allah agar kemudahan selalu menyertai langkah kita. Terima kasih, dan Wassalamualaikum http://wr.wb."

 

Aku pun mengakhiri pidato singkatku sebelum akhirnya semua orang mulai bertepuk tangan. Banyak dari ibu-ibu dan teman-temanku yang terisak membuatku senang karena telah menyampaikan makna pidatoku dengan baik. Ibu Kepala Sekolah memelukku dan menasihatiku agar tetap rajin belajar. Kulihat Bapak dan Ibuku yang duduk di pojok ruangan tersenyum dan aku tahu bahwa hari ini aku telah membuat mereka bangga. Segala prestasiku kupersembahkan untuk Bapak dan Ibuku.

 

(Beberapa Bulan Kemudian)

 

Hari ini Ibu dan Bapak menemaniku ke pasar membeli seragam SMP yang akan kukenakan minggu depan. Ibu lagi-lagi sengaja membelikanku 2 seragam yang ukurannya agak besar agar aku bisa memakainya untuk 2 sampai 3 tahun ke depan. Aku berencana bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di kampungku. Letaknya lumayan jauh dan hanya dapat ditempuh menggunakan sepeda motor atau mobil pete-pete, kendaraan umum, dengan membayar ongkos 2 ribu rupiah. Sepulang dari pasar aku langsung memamerkan seragam baruku pada Nenekku. Beliau menyambutnya dengan bahagia dan bangga. Katanya aku harus rajin belajar agar ketika besar nanti aku bisa menjadi orang yang sukses.

 

Seminggu kemudian, aku bersama Niar dan teman-teman yang lain berjalan kaki menuju jalan poros. Sebelum berangkat, tak lupa aku menjabat tangan Nenekku dan meminta restu agar hari pertamaku di sekolah bisa kulewati dengan lancar dan tanpa kendala. Karena letak rumahku yang berada di atas gunung maka meskipun sudah SMP, aku masih harus tetap berjalan kaki sekitar 30 menit menuju jalan poros. Sesampai di jalan poros, aku dan teman-teman yang lain melambaikan tangan pada sopir pete-pete yang lewat. Kami menumpanginya dengan raut wajah yang senang karena gerbang kedua menuju kesuksesan akan kami lewati.

 

Tak beberapa lama terlihat gerbang sekolah dengan tulisan yang lumayan besar. Setelah membayar ongkos mobil, aku turun dengan mengucap salam. Suasananya amat sangat berbeda dengan suasana sekolahku kemarin. Jumlah murid pun sangat banyak sehingga menjadikanku lebih bersemangat karena akan bertemu teman-teman baru. Saat memasuki halaman sekolah, aku melihat beberapa guru menyapa kami. Mereka membimbing kami ke lapangan untuk melakukan upacara sekaligus penyambutan murid baru. Kami dipersilakan berdiri dengan papan nama yang melekat di baju seragam di sebelah kiri. Kepala sekolah memberikan sambutan yang penuh semangat seakan menyampaikan harapannya agar kami semua bisa belajar dengan tekun serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai sekolah. Setelah sambutan selesai, kami pun diizinkan untuk ke kelas masing-masing. Aku ditempatkan di kelas 7B dan duduk paling depan bersama teman baruku yang bernama Karramah. Seperti pengalaman hari pertama di sekolah dasar dulu, kami juga dipersilakan untuk memperkenalkan diri sehingga aku pun mengetahui nama teman-teman baruku satu per satu.

 

Hari pertama di sekolah memberikan kesan yang amat sangat berharga. Dikelilingi teman-teman baru dengan latar tempat tinggal berbeda menjadikanku banyak mendapat cerita baru tentang keseharian mereka. Dan segala ilmu yang kudapat di sekolah hari ini tidak lupa kuceritakan dengan runtut pada Nenekku. Beliau sangat antusias mendengar ceritaku seakan setiap kata yang kuutarakan adalah cerita yang amat sangat membanggakan. Begitulah Nenekku, sepertinya ada banyak harapan beliau di pundakku, kegagalannya menyekolahkan Ibuku ke jenjang yang lebih tinggi, seakan memberinya harapan baru padaku. Tangan keriputnya senantiasa menyuguhkan makanan sederhana di mana setiap bulir nasi yang kumakan tersirat doa mulia agar aku bisa sukses dan menjadi anak yang cerdas serta berakhlak mulia.

 

~

 

Waktu berlalu begitu cepat hingga tiba saatnya pembagian rapor semester pertama. Suasana aula sekolah kembali tegang, mirip dengan hari kelulusanku dulu, namun kali ini ada rasa penasaran yang berbeda. Aku duduk di barisan kelas 7B bersama Karramah, meremas ujung rok seragamku dengan gugup saat kepala sekolah naik ke podium untuk mengumumkan peringkat paralel. Satu per satu nama disebutkan dari peringkat sepuluh besar. Jantungku berdegup kencang, antara berharap dan takut kecewa. Hingga akhirnya, suara lantang kepala sekolah memecah lamunan:

 

Lihat selengkapnya