SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #6

WELCOME MAKASSAR

BAB 6

WELCOME MAKASSAR

 

     Setelah acara kelulusan siswa kelas 12, Aku memutuskan untuk ke Makassar mencari pekerjaan selama kurang lebih 3 bulan sebelum menjalani rutinitas menjadi seorang mahasiswa. Kebetulan kak Niswah juga berkuliah di salah satu kampus swasta di kota Makassar sehingga ia menyarankan agar kami tinggal bersama. Selama berkuliah, kak Niswah sudah pintar mencari uang sendiri. Dia membiayai dirinya sendiri tanpa harus merepotkan Bapak dan Ibu. Aku memutuskan untuk mengirimkan berkas lamaran kerja di tempat kerjanya dan besoknya Aku menerima kabar bahwa Aku diterima menjadi seorang waiters dengan gaji Rp 1.500.000/bulan. Setelah menerima kabar tersebut, Aku yang saat ini masih di kampung berpamitan dengan Nenekku dan berjanji akan menjaga diri saat jauh dengan beliau. Kuliat matanya sayu. Ini kali pertamaku berpisah dengannya dalam waktu yang mungkin akan lama. Tetapi apa boleh buat, hidup harus tetap berjalan dan Aku juga tetap harus mengejar cita-citaku dan mengangkat derajat keluargaku. Aku mencium tangan keriput nenekku, menciumnya dan memeluknya erat. Aku meyakini segala kebaikan yang ku terima kedepannya adalah salah satu berkat doa nenekku.

      Aku menaiki sebuah mobil travel menuju kota Makassar. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Sepanjang jalan Terdengar suara gesekan ban dan aspal. Perjalananku di awali dengan melewati panorama indah pepohonan dengan dedaunan rimbun. Kata orang, jalan raya yang membelah bebatuan ini adalah jalan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Aku merasa takjub ketika membayangkan orang-orang dahulu membangun jalan yang rasanya sangat mustahil teknologi di zaman itu bisa membela batuan sebesar rumah 2 lantai. Setelah sejaman melewati pepohonan dengan pemandangan aneka bebatuan di kanan kiri, perlahan-lahan berganti menjadi rumah-rumah yang saling berhimpitan. Udara yang menyambutku sangat berbeda dengan suasana di kampung Kakek dan Nenekku. Disini, jumlah pepohonan mulai berkurang menyebabkan suhu udara semakin panas. Ditengah kota Makassar, hidungku di sergap oleh debu, asap kendaraan dan aneka aroma jajanan pinggir jalan. Tak beberapa lama, Akupun sampai. Terlihat kak Niswah sedang menungguku di depan pagar. Setelah menurunkan barang yang kubawa, Aku bergegas masuk kekamar kost yang berukuran 3 x 3 dan langsung merebahkan badan. Setelah istirahat, Aku membongkar kardus yang kata Nenekku isinya sayuran. Dan benar saja, ada banyak sekali jenis sayuran. Begitulah Nenekku, ketika Kami cucunya pergi jauh, dia akan sangat antusias menyediakan kebutuhan kami. Mungkin Nenekku tidak mampu memberikan sesuatu yang bernilai materi tetapi segala rasa cinta dan pedulinya lebih bermakna dari apapun.

  Karena membahas tentang Nenekku, Aku ingin menceritakan bahwa Aku pernah menyakiti hatinya. Demi apapun, Aku sangat menyayangi Nenekku. Rasa pedulinya ia lampiaskan dengan banyak nasehat-nasehat kehidupan. Namun pas kecil, hal tersebut tentunya ku anggap sebagai sesuatu yang sangat membosankan sehingga kadang ketika beliau menasehatiku, sesekali Aku menutup telinga, padahal nasehat baiknya itulah yang seumur hidup menjadi pegangan ku menjalani kehidupan. Pernah suatu hari Aku ingin sekali memakan paccala ( pecel). Subuh-subuh sekali beliau sudah menyiapkan rebusan sayuran sebagai campuran pecel. Namun setelah melihat ke dapur, Aku merasa badmood karna ternyata tidak ada rebusan sayur kangkung yang Ia sediakan melainkan hanya ada rebusan pepaya muda. Aku langsung berangkat sekolah tanpa menyentuh sedikitpun pecel yang ia buat. Dan setiap kali mengingat momen itu, Air mataku selalu jatuh. Aku sangat mencintai nenekku, tetapi kadang egoku menutupi rasa sayangku. Mungkin dari sikapku yang demikian, Nenekku merasa Aku tidak menyayanginya tetapi demi apapun kupastikan tidak ada rasa cinta sebesar ini kepada manusia selain kepada Ibu dan Nenekku. Aku meletakkan sayuran yang kubawah dengan sedikit meneteskan air mata mengingat segala kebaikan nenekku yang saat ini masih belum bisa kubalas. Aku bertekad jikalau nanti aku punya uang, Aku akan sering membelikannya daster baru yang banyak, agar dadter lusuh dan sobek yang sering ia gunakan bisa di pensiunkan.

    Sore harinya, kak Niswa mengajakku berkeliling kota menggunakan sepeda motor. Selain menyajikan pemandangan gedung-gedung tinggi juga terlihat jalanan sesak oleh kendaraan yang bergerak tergesah-gesah. Suara klakson memekakkan telinga menandakan si pengendara motor sedang terburu-buru ke tujuannya. Teriakan pedagang pinggir jalan dan gemuru mesin kendaraan menciptakan simponi yang bising, sangat jauh berbeda dengan situasi di kampungku. Setelah lelah berkeliling, Aku dan kak Niswah melepas penat dengan minum es dawet yang di jajahkan pedagang. Suasana di tengah kota Makassar saat ini cukup ramai dan lumayan macet. Kendaraan saling berlomba untuk cepat sampai di tujuan. Aku menatap langit sore yang mulai memerah. Semoga di kota ini Aku bisa menggapai mimpiku mengangkat derajat keluargaku.

   Hari pertama bekerja sungguh melelahkan. Ternyata pekerjaan seorang pelayan tidak mudah. Kita harus selalu sabar melayani berbagai macam karakter dimana mental menjadi salah satu hal yang turut bekerja selain fisik. Pekerjaan dimulai dengan menyajikan makanan kepada customer kemudian membersihkan meja makan ketika pelanggan sudah selesai menyantap makanannya dan berupaya menjaga area restoran tetap bersih. Dihari pertama bekerja, Aku belajar banyak. Salah satunya belajar teknik marketing dengan meningkatkan kepercayaan diri untuk berusaha menawarkan berbagai menu anadalan seperti aneka ikan laut bakar dan goreng, dll sehingga menjadikanku jauh lebih percaya diri. Hari demi hari berlalu, puncak lelahku terjadi pada saat bulan puasa.

       Puncak lelah itu benar-benar menguji batas kesabaranku. Bayangkan, perut kosong sejak subuh, namun tangan harus terus mengakat baki berat berisi piring-piring panas. Aroma ikan bakar yang biasanya menggugah selera, kini terasa seperti godaan yang menyiksa di tengah tenggorokan yang kering kerontang. Sekitar jam 5 sore, suasana restoran berubah menjadi medan tempur. Pelanggan mulai berdatangan seperti gelombang pasang—ada yang datang dengan wajah ramah, namun tak sedikit yang datang dengan emosi tinggi karena lapar.

"Mbak, pesanan saya kok belum sampai? Sudah mau buka ini!" sentak seorang bapak dengan nada tinggi.

Aku menarik napas dalam, memaksakan senyum ramah meski kakiku sudah terasa mati rasa. "Mohon maaf Bapak, sedang disiapkan sebentar lagi. Mohon ditunggu," jawabku setenang mungkin. Di balik senyum itu, aku belajar satu hal penting: pelayanan bukan cuma soal mengantar makanan, tapi soal mengelola ego sendiri.

      Ketika azan Magrib berkumandang, aku hanya sempat membatalkan puasa dengan seteguk air putih di sela-sela kesibukan. Tidak ada waktu untuk duduk tenang menikmati hidangan. Aku melihat orang-orang tertawa bahagia bersama keluarga mereka di meja makan, dan sesaat, hatiku merasa mencelos. Aku rindu suasana buka puasa di rumah bersama Nenek dan Ibu. Namun, setiap kali rasa lelah itu hampir membuatku menyerah, aku meraba kantong seragamku. Di sana ada catatan kecil tentang target tabunganku. Aku teringat wajah Nenek dan niatku membelikannya daster baru. Rasa lelah itu tiba-tiba terasa "murah" dibandingkan dengan kebahagiaan yang ingin kuhadiahkan untuk mereka.

      Malamnya, saat restoran mulai sepi dan kami harus membersihkan sisa-sisa keriuhan, aku duduk bersandar di kursi kayu yang keras. Kak Niswah menghampiriku sambil membawakan segelas teh hangat.

Lihat selengkapnya