SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #7

MASA KULIAH

BAB 7

MASA KULIAH

​   Pengalaman bekerja sebagai waiters di Makassar benar-benar menempa mentalku sebelum benar-benar terjun ke dunia kampus. Uang hasil keringat sendiri itu kurasakan bukan sekadar nominal, melainkan bentuk kehormatan diri. Namun, waktu tiga bulan berlalu begitu cepat. Kini tibalah saatnya aku menanggalkan seragam kerja dan bersiap mengenakan almamater. Karena Aku tidak lulus SNMPTN di kampus negeri impianku sehingga Bapak dan Ibu memutuskan agar Aku mendaftar jalur mandiri di salah satu kampus islam negri di kota Makassar dan Alhamdulillah Aku dinyatakan lolos dan memilih jurusan Akuntansi. Kabar kelulusan itu rasanya seperti embusan angin segar di tengah teriknya cuaca Makassar. Meski awalnya ada ganjalan di hati karena gagal di jalur SNMPTN, melihat binar bahagia di mata Bapak dan Ibu saat mendengar pengumuman jalur mandiri ini membuat sisa-sisa kekecewaanku luntur seketika. Aku sadar, rencana Tuhan mungkin tidak selalu sama dengan ambisiku, tapi pasti ini yang terbaik untukku.

       Hari pertama perkuliahan dimulai dengan rasa canggung yang luar biasa. Aku melangkah memasuki gerbang kampus dengan tas ransel yang terasa lebih berat dari biasanya bukan karena isinya, tapi karena harapan besar yang kupikul dari kampung. Kak Niswah melepas keberangkatanku pagi itu dengan senyum bangga. Dia adalah cerminanku; jika dia bisa mandiri, aku pun harus bisa. Aku resmi menjadi mahasiswa di jurusan yang kini kucintai, jurusan yang berfokus pada dinamika manusia dan masyarakat. Di dalam kelas, aku duduk di barisan tengah, mengamati sekeliling. Teman-teman baruku berasal dari berbagai daerah, dengan dialek yang beragam—mulai dari Bugis yang tegas, Makassar yang cepat, hingga Mandar yang lembut. Awalnya, aku merasa sedikit rendah diri saat melihat beberapa teman dengan gawai terbaru atau pakaian yang bermerek. Namun, aku segera meraba cincin di jari manisku—bukan, itu bukan cincin untukku. Aku teringat cincin emas yang kubelikan untuk Ibu dan ponsel hasil kerja keras yang kini ada di saku. Tanganku mungkin memang tidak sehalus mereka, tapi tangan inilah yang sudah tahu rasanya mengangkat nampan berat dan melayani ratusan orang saat berbuka puasa. Rasa bangga itu seketika menghapus rasa insecure-ku.

     Dosen pertama yang masuk adalah seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal. Beliau berbicara tentang bagaimana seorang mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial.

"Kalian di sini bukan hanya untuk mengejar IPK 4.0, tapi untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya," ucapnya tegas.

Kata-kata itu bergema di kepalaku. Aku teringat Faidah, teringat keputusan "belok" ke IPS, dan teringat nasehat Nenek. Ternyata, semua kepahitan masa lalu adalah laboratorium sosial yang nyata bagiku. Kuliah bukan lagi soal teori di buku, tapi soal bagaimana aku membedah realitas yang pernah kuhadapi sendiri.

        Setiap sore setelah kelas usai, aku tidak langsung pulang. Aku sering mampir ke perpustakaan kampus atau duduk di koridor, membuka laptop, dan mulai menulis. Kota Makassar dengan segala kebisingannya—klakson yang sahut-menyahut dan debu jalanan—justru menjadi inspirasi baru bagiku. Aku mulai menyusun draf narasi tentang seorang gadis desa yang mencoba menaklukkan beton-beton kota. Malamnya, di kamar kost 3×3 itu, aku dan Kak Niswah sering berbagi cerita. Sambil menikmati sisa sayuran kiriman Nenek yang kami masak seadanya, kami bicara tentang masa depan. Aku berjanji dalam hati, gelar sarjana yang akan kuraih nanti bukan hanya untuk pajangan di dinding rumah, tapi sebagai bukti pada Nenek bahwa doa-doanya di subuh hari telah sampai ke langit dan kembali membumi dalam bentuk kesuksesan cucunya. Masa kuliah ini baru saja dimulai, dan aku tahu tantangannya akan jauh lebih besar daripada sekadar menghadapi pelanggan restoran yang tidak sabar. Namun, dengan "bekal" resiliensi dari masa putih abu-abu dan kemandirian dari aspal Makassar, aku siap mengukir cerita yang lebih bermakna.

     Hari kedua kuliah kulalui dengan berbagai kegiatan pengenalan lingkungan kampus dan pengenalan dosen jurusan. Aku dan mahasiswa baru yang lain menggunakan pakaian hitam putih dengan memakai pita orange. Kami semua sangat antusias mengikuti kegiatan. Karena jarak kost dan kampusku lumayan jauh sehingga Aku memutuskan untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Aku bersahabat dengan Dani, Yusni, Anti dan Rezki. Bagiku mereka layaknya saudara, selalu mensupport segala hal yang kulakukan. Memasuki semester kedua, ritme hidupku di Makassar semakin terpola. Pagi hingga siang aku bergelut dengan teori akuntansi dan antropologi di ruang kelas.  Suatu hari, ada tugas besar dari dosen mata kuliah Pengembangan Diri. Kami diminta melakukan observasi lapangan mengenai pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil. Saat teman-temanku sibuk mencari objek penelitian yang megah, pikiranku langsung melayang ke pasar tradisional di Somba Opu, tempat aku membeli cincin untuk Ibu. Aku teringat para pedagang kecil yang bertahan di tengah gempuran toko modern. Aku memutuskan untuk mengangkat kisah mereka. Pengalamanku menjadi waitress selama tiga bulan ternyata menjadi kunci; aku tidak canggung mendekati orang asing, aku tahu cara bertanya tanpa menyinggung, dan aku punya empati yang terasah dari rasa lelah yang pernah kurasakan sendiri.     

        Saat aku mempresentasikan hasil laporanku di depan kelas, aku tidak hanya menyajikan angka inflasi atau data statistik. Aku menyisipkan narasi tentang "tangan-tangan keriput yang menggenggam harapan", sebuah metafora yang terinspirasi dari tangan Nenek.

"Data mungkin memberi kita angka, tapi cerita memberi kita jiwa," ucapku menutup presentasi.

Satu kelas hening sejenak sebelum riuh tepuk tangan pecah. Dosenku memberikan apresiasi tinggi, bahkan menyarankan agar tulisanku dikirim ke jurnal kampus atau portal berita lokal. Di momen itu, aku merasa jalur IPS yang kupilih benar-benar telah menemukan muaranya. Aku bukan lagi sekadar pelari dari masa lalu, tapi seorang penutur masa depan.

      Namun, di balik keberhasilan akademis itu, ada rindu yang kadang menyesak. Malam-malam di kost 3×3 terasa lebih dingin saat aku teringat Nenek yang mungkin sedang duduk sendirian di teras rumah di kampung. Aku mengambil HP 2 jutaan hasil keringatku, lalu melakukan panggilan video.

"Nenek, lihat... Nadiah sudah pakai almamater," kataku sambil memperlihatkan jas kampusku lewat kamera.

Nenek tersenyum, matanya yang sayu tampak berkaca-kaca di layar ponsel. "Jaga diri, Nak. Jangan lupa shalat dan jangan terlalu lelah " pesannya lirih.

Aku menutup telepon dengan janji baru di dalam hati. Aku tidak boleh hanya membelikannya daster baru. Aku harus menjadi orang yang bisa membawanya melihat dunia yang lebih luas dari sekadar kebun pepaya di belakang rumah.

        Kota Makassar yang dulu terasa asing dengan debu dan kebisingannya, kini mulai terasa seperti rumah kedua. Aku mulai terbiasa dengan simfoni klakson dan aroma coto yang menguar di sudut jalan. Di sini, di antara gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk manusia, Nadiah si gadis desa sedang bertransformasi. Aku belajar bahwa martabat tidak diukur dari seberapa halus tangan kita, tapi dari seberapa tangguh kita berdiri di atas kaki sendiri untuk mengangkat harkat orang-orang yang kita cintai. Masa kuliah ini masih panjang, penuh dengan ujian dan revisi yang mungkin akan menguras air mata. Tapi setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku akan menyentuh layar ponselku, melihat foto Nenek, dan kembali melangkah. Karena bagiku, setiap huruf yang kutik dan setiap ilmu yang kuserap adalah bata-bata yang sedang kususun untuk membangun rumah impian bagi keluargaku.

     Selama kuliah Aku sering menahan diri ketika melihat teman-temanku yang lain bisa jajan sepuasnya. Mereka selalu terlihat menggunakan outfit yang serba mahal. Membeli tas dan pakaian bermerek sudah menjadi kebiasaan sebagian teman kelasku. Hal tersebut tentunya menjadi sesuatu yang hanya bisa ku tonton sambil berdoa semoga kelak tuhan memberkatiku dengan rezeki berlimpah agar Akupun bisa merasakan membeli barang mahal agar dapat lama kugunakan. Baju yang sering kukenakan dikampus kubeli di toko cakar dimana dengan menggunakan uang 100.000 Aku bisa mendapat 5 baju. kadang hanya 4 sampai 5 kali ku cuci sudah sobek. Hal tersebutlah yang menjadi alasanku sangat ingin membeli barang yang mahal agar masa penggunaannya pun jauh lebih tahan lama.

    Karena selama kuliah Aku sudah tidak bekerja dan penghasilan Bapak dan Ibu tidak menentu maka terpaksa kak Niswah yang membiayai kehidupan sehari-hariku selama di Makassar. Agar tidak terlalu membebani kakakku, Aku hanya meminta jatah Rp 50.000 selama 1 minggu. Bisa dibilang hanya cukup membeli bensin 2,5 liter dan hanya tersisa Rp 25.000. Jika mata kuliah ku dalam seminggu dari senin sampai jumat, maka Aku hanya punya jatah Rp 5.000 per hari. Cukup memprihatinkan bukan, tetapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau Aku harus sering menolak ajakan sahabat-sahabatku dengan alasan kenyang hanya karna tidak sanggup membayar makanan di warung yang seharga Rp 10.000 keatas. Aku lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan, membaca puluhan novel secara gratis. Dengan bekal sarapan pagi yang kadang di masak kak Niswah sudah cukup membuat Aku tidak kelaparan hingga sore hari. Sesekali Aku menangis, mengapa untuk hidup yang hanya sekali ini, Aku harus merasakan yang namanya kekurangan. Tetapi Aku sadar menjadi mahasiswa di salah satu kampus negeri sudah menjadi sesuatu yang sangat kusyukuri, Mana mungkin hanya perkara uang jajanku yang kurang, Aku mengabaikan nikmat tuhan yang lain seperti nikmat kesehatan.     

~

        Selama 3 tahun Aku mengikuti rutinitas menjadi seorang mahasiswa. Dan ketika memasuki semester 6 saat teman-temanku yang lain sibuk dengan mata kuliah yang tersedia, di waktu kosong Aku sudah mempersiapkan proposal yang nantinya akan menjadi acuanku untuk menyusun skripsi di semester 7. Dan sesuai harapanku pas memasuki awal semester 7, ketika teman angkatanku yang lain masih sibuk mencari judul proposal, Aku dengan mantap sudah mengikuti seminar proposal dan sudah sibuk menyusun skripsi. Bukannya tidak mengajak teman-teman yang lain, dari awal Aku sudah mempringatkannya agar mempersiapkan proposal lebih awal tetapi katanya, mereka ingin fokus pada mata kuliah yang berjalan.

      Aku memilih mengambil penelitian kualitatif untuk menghindari angka. Penelitian kualitatif yang kupilih bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan sebuah perjalanan menggali kembali akar budayaku sendiri. Aku mengangkat judul tentang Internalisasi Budaya Ada Tongeng (perkataan yang benar), Lempu (kejujuran), Getteng (ketegasan/keteguhan), dan Pamali dalam kepatuhan pajak UMKM di Kota Makassar. Bagiku, nilai-nilai Pangadereng/adat ini adalah kompas yang diajarkan Ibu dan Kakek sejak aku kecil, dan kini aku mencoba melihatnya dalam kacamata akademis.

​       Setiap hari, aku menyusuri lorong-lorong pasar dan deretan ruko di Makassar untuk mewawancarai para pelaku usaha. Ada rasa hangat yang menjalar setiap kali seorang pedagang berkata, "Iyye' nak, kalau kita berdagang harus ada Lempu, karena jujur itu modal utama supaya berkah." Kata-kata mereka seolah menyembuhkan lukaku. Di luar sana, orang-orang menghargai integritas, sementara di dalam kost, aku justru dianggap tidak berharga oleh kakakku sendiri.

​Suatu sore, aku duduk di sebuah kedai kopi kecil milik seorang informan. Ia bercerita bagaimana prinsip Getteng membuatnya tetap teguh membayar pajak meski usahanya sedang sulit.

"Kalau kita sudah berjanji pada negara, itu adalah amanah yang harus ditepati, nak. Itu namanya Ada Tongeng," tuturnya mantap.

​Aku tertegun. Nilai-nilai ini begitu luhur. Aku pun merenung, bukankah aku juga harus Getteng pada impianku sendiri? Bukankah aku harus memiliki Lempu dimanapun kakiku ku pejamkan?

Lihat selengkapnya