SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #8

SETELAH JADI SARJANA


     Pagi ini Aku berada di salah satu rumah MUA yang akan merias wajahku untuk acara wisuda ku. Aku berhasil lulus tepat waktu dan mendapat predikat CUMLAUDE. Aku menjadi salah satu dari tujuh orang di kelasku yang berhasil lulus tepat waktu. Segala usahaku tidaklah mudah tetapi Aku berhasil melaluinya dan membuktikan bahwa AKU BISA. Aku mengenakan pakaian kebaya yang ku sewa di sebuah toko di kota Makassar dengan harga yang sedikit terjangkau. Di momen wisuda ku, Aku meneteskan air mata ketika melihat Ibuku dengan senyum yang terpancar seakan berterima kasih karena Aku bisa membuatnya bangga. Ibuku memakai pakaian kebaya sederhana dengan warna biru toska sepertiku. Begitupun dengan kak Niswah dan keponakanku, Alifah ( Anak kedua dari Kak Nisa). Bapakku tidak bisa hadir dikarenakan sedang memanen di kampung. Tetapi ia menyampaikan rasa bangga dan harunya lewat ibuku.

     Riuh suara musik gamelan dan tepuk tangan di dalam gedung serbaguna itu seolah menjadi latar belakang yang samar bagi pikiranku yang masih melayang. Aku meraba kain kebaya yang kukenakan, merasa bersyukur bahwa pilihan sederhana ini tetap mampu membuatku merasa istimewa di hari paling bersejarah dalam hidupku. Di tengah barisan wisudawan, mataku kembali mencari sosok Ibu. Saat namaku dipanggil dengan predikat Cum Laude melalui pengeras suara, aku melihat Ibu berdiri sekilas, menyeka sudut matanya dengan sapu tangan yang sudah lusuh. Senyumnya adalah segalanya bagiku, sebuah imbalan yang jauh lebih berharga daripada medali yang kini melingkar di leherku. Setelah prosesi pemindahan kuncir toga selesai, aku segera menghambur ke arah keluargaku. Kak Niswah langsung memelukku erat, sementara Alifah yang menggemaskan sesekali menarik-narik ujung kebayaku, mungkin bingung melihat tantenya menangis sambil tertawa.

"Ibu bangga sekali, Nak," bisik Ibu pelan di telingaku. Aroma minyak telon dan bedak dingin khas Ibu seketika menenangkanku.

Meski Bapak tidak ada di sini karena tanggung jawabnya di sawah, aku tahu di kejauhan sana, ia sedang bekerja keras dengan hati yang lapang. Aku bisa membayangkan Bapak bercerita dengan bangga kepada tetangga di kampung bahwa anaknya kini sudah menyandang gelar sarjana.

         Sambil memegang ijazah di tangan kiri dan menggenggam tangan Ibu di tangan kanan, aku menyadari bahwa ini bukanlah akhir. Ini adalah babak baru. Perjalananku dari menjadi mahasiswi yang harus berhemat di Makassar hingga berhasil lulus tepat waktu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih tangguh. Keberhasilan ini bukan hanya tentang nilai di atas kertas, tapi tentang pembuktian bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi mereka yang mau berjuang. Kami pun melangkah menuju area foto studio sederhana di sudut gedung. Aku ingin mengabadikan momen ini, aku, Ibu, Kak Niswah, dan Alifah dalam balutan kebaya sederhana dengan warna biru toska yang seragam, sebagai simbol harmoni dan cinta yang telah membawaku sampai ke titik ini.

     Selesai berfoto, kami duduk sejenak di selasar gedung, mencari embusan angin di tengah keramaian wisudawan lainnya. Aku melihat Ibu yang terus-menerus mengusap ijazahku seolah benda itu adalah barang paling rapuh di dunia.

"Ibu ingat tidak?" tanyaku pelan, "Waktu aku pertama kali menginjakkan kaki di Makassar untuk kuliah, aku sempat ragu apa aku bisa sampai di tahap ini."

Ibu hanya tersenyum tipis, matanya masih berkaca-kaca. "Ibu selalu tahu kamu kuat. Bapakmu juga bilang begitu di telepon tadi pagi.

Tiba-tiba ponsel di tas kecilku bergetar. Sebuah panggilan video dari Bapak. Aku segera mengangkatnya, memperlihatkan toga dan medali yang masih menggantung di leherku. Di layar, kulihat Bapak sedang beristirahat di gubuk sawah, topi capingnya diletakkan di samping. Wajahnya yang terbakar matahari tampak berseri-seri.

"Selamat, Nak," suara Bapak terdengar parau, menahan haru. "Maaf Bapak tidak bisa ke sana. Panen tahun ini harus dijaga supaya tidak gagal panen seperti tahun kemarin nak " Kata bapakku seakan merasa bersalah karena tidak sempat menghadiri wisuda ku.

Tidak apa-apa, Pak. Doa Bapak sampai ke sini kok," jawabku, berusaha menahan agar air mataku tidak jatuh lagi di depan kamera.   

 Matahari Makassar siang itu terasa sangat terik, namun hatiku justru terasa sejuk. Aku bukan lagi mahasiswi yang penuh keraguan; aku adalah seorang sarjana yang siap menaklukkan dunia, membawa sejuta harapan yang kutitipkan pada setiap helai kain kebaya yang kukenakan hari ini.

Lihat selengkapnya