Selama 9 bulan lamanya Aku menjadi magang kasir dan tibahlah saatnya kontrakku berakhir. Manager toko memberiku sertifikat yang nantinya akan menjadi pegangan ku untuk mencari pekerjaan yang lain. Sertifikat itu kugenggam erat, permukaannya terasa halus namun membawa beban harapan yang begitu besar. Di balik selembar kertas bertandatangan Manager Toko itu, tersimpan ribuan transaksi yang telah kulalui, deru mesin kasir yang menjadi musik harian, dan senyum tipis kadangkala sapaan ramah dari para pelanggan yang singgah di mejaku.
Sembilan bulan yang lalu, aku datang ke tempat ini dengan tangan gemetar saat menghitung uang kembalian. Kini, aku melangkah keluar dari pintu kaca otomatis itu dengan dagu tegak.
"Terima kasih untuk segalahnya. “ bisikku pelan, menoleh sekali lagi ke arah bangunan yang telah menjadi saksi bisu perjuanganku mengumpulkan rupiah demi rupiah.
Langkahku terasa lebih ringan menyusuri trotoar. Sertifikat ini bukan sekadar bukti formalitas magang; ini adalah 'senjata' baruku. Di kepalaku, rencana-rencana mulai tersusun rapi. Aku tahu mencari pekerjaan baru di luar sana tidak akan mudah, namun pengalaman selama ini telah menempaku menjadi sosok yang lebih teliti dan sabar. Malam itu, di kamar yang tenang, aku meletakkan sertifikat tersebut di samping tumpukan draf ceritaku. Ada kepuasan tersendiri melihat progres hidup yang perlahan mulai menapak jelas. Besok adalah lembaran baru mungkin aku akan mulai menyusun CV, atau mungkin meluangkan waktu sejenak untuk memeluk ide-ide narasi yang sempat tertunda karena kesibukan di toko. Satu babak telah usai, dan aku siap untuk menuliskan babak berikutnya. Apa pun tantangannya, aku tahu bahwa ketekunan yang kubawa dari meja kasir itu akan tetap bersamaku.
Setelah 3 hari beristirahat, aku segera mengirim berkas lamaran di beberapa perusahaan. Aku menarget 5 lowongan kerja per hari dan benar saja di minggu ke dua menganggur aku mendapat panggilan menjadi kasir lagi di toko retail bernama berkah supermarket. Panggilan telepon pagi itu terasa seperti jawaban instan atas doa-doa yang kupanjatkan. “Berkah Supermarket,” gumamku sambil menatap layar ponsel. Nama itu terdengar seperti sebuah pertanda baik. Tanpa membuang waktu, aku segera menyiapkan pakaian terbaikku—kemeja putih yang kusetrika hingga licin dan celana kain hitam yang rapi.
Langkahku menuju lokasi wawancara terasa begitu mantap. Pengalaman sembilan bulan sebelumnya bukan hanya sekadar angka di atas sertifikat, melainkan modal kepercayaan diri yang nyata. Saat memasuki area supermarket, aku sempat memperhatikan ritme kerja para staf di sana. Suasananya lebih sibuk dan areanya jauh lebih kecil dibandingkan tempat magangku dulu.
“Nadiah, ya? Silakan duduk,” sapa manajer HRD yang mengenakan tanda pengenal bertuliskan Pak Bambang.
Wawancara berjalan lebih lancar dari yang kubayangkan. Aku tidak lagi gagap saat ditanya bagaimana cara menangani keluhan pelanggan atau apa yang harus dilakukan jika terjadi selisih kas. Semua jawaban mengalir begitu saja, seolah aku sedang menceritakan keseharianku.
“Kami butuh orang yang cepat tanggap, apalagi di jam sibuk sore hari. Dari pengalamanmu, saya rasa kamu sudah terbiasa dengan tekanan itu,” ujar Pak Bambang sambil menutup map berkasku.
Hanya butuh waktu beberapa jam setelah aku sampai kembali di rumah, sebuah pesan singkat masuk. Aku diterima. Jadwal orientasi dimulai lusa.
Rasa syukur membuncah di dadaku. Ternyata benar, satu pintu yang tertutup karena kontrak berakhir, langsung digantikan dengan pintu lain yang mungkin membawa rezeki lebih besar. Aku segera menghampiri kalender di dinding kamar, melingkari tanggal lusa dengan spidol merah. Sambil duduk di meja tulis, aku menatap tumpukan naskah novelku. Ada perasaan lega karena setidaknya urusan finansial mulai menemukan titik terang lagi. Kini, tantanganku adalah bagaimana menjaga keseimbangan: menjadi kasir yang cekatan di siang hari, dan menjadi penulis yang tekun di malam hari. Aku tidak ingin salah satunya dikorbankan, karena bagiku, bekerja adalah cara untuk bertahan hidup, sedangkan menulis adalah caraku untuk tetap hidup. Berbeda dengan dugaanku sebelumnya, Berkah Supermarket ternyata jauh lebih mungil dan sederhana dibandingkan tempat magangku dulu. Toko ini terletak di sudut jalan pemukiman yang padat, memiliki beberapa baris rak utama dan empat meja kasir dimana salah satunya merangkap sebagai tempat penitipan barang. Tidak ada pintu kaca otomatis namun masih tersedia pengumuman promo lewat pengeras suara yang menggema.
Aku ditempatkan di salah satu meja kasir yang ada. Jarak antara aku dan pintu masuk hanya beberapa langkah saja, membuat udara hangat dari jalanan sesekali menerpa wajahku. Ritme kerja di sini jauh lebih tenang. Jika dulu aku harus bekerja secepat kilat karena antrean yang mengular panjang, di toko ini Aku masih punya waktu untuk benar-benar menatap wajah setiap pelanggan. Aku tidak lagi merasa seperti robot pemindai barang.
“Biasa, Mbak, sabun cuci yang bungkus biru satu ya,” sapa seorang ibu yang datang bahkan tanpa perlu menyebutkan nama barangnya secara detail.