SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #10

ALIRAN DOA, DI SETIAP KANTONG DARAH


    Beberapa bulan berlalu tepat d akhir tahun 2024 keluargaku kembali di beri ujian. Kakakku kak Niswah terkena penyakit langkah dimana diagnosa awalnya Ia menderita anemia aplastik. Setiap detik yang berlalu di penghujung tahun itu terasa begitu berat. Rumah yang biasanya hangat dengan percakapan ringan, mendadak sunyi, digantikan oleh aroma obat-obatan dan kecemasan yang menggantung di udara. Kabar mengenai kondisi Kak Niswah seperti badai yang datang tanpa peringatan, memorak-porandakan ketenangan yang selama ini kami jaga.

​     Anemia aplastik. Nama penyakit itu terdengar asing di telinga kami, namun efeknya begitu nyata merampas rona merah di wajah Kakak. Tubuhnya yang biasanya tegap kini tampak begitu rapuh dan kurus, seolah-olah seluruh kekuatannya telah terserap habis oleh sel-sel darah yang enggan berproduksi. Melihatnya terbaring lemah, aku menyadari bahwa ujian kali ini bukan hanya tentang fisik Kak Niswah, melainkan tentang ketangguhan hati kami sekeluarga. Ibu dan Ayah berusaha tetap tegak di depan kami, meski aku tahu, di sudut-sudut kamar yang gelap, doa-doa mereka terucap dalam isak tangis yang tertahan. Kami semua dipaksa untuk belajar bersabar lebih dalam, menguatkan satu sama lain di saat dunia seolah sedang menguji batas kemampuan kami untuk bertahan.

​   Setiap kunjungan ke rumah sakit dan setiap hasil laboratorium yang keluar menjadi penentu suasana hati kami. Namun, di tengah keputus-asaan itu, ada satu hal yang tetap menyala: harapan bahwa kesembuhan itu pasti ada, meski jalan menuju ke sana harus ditempuh dengan air mata. Hari-hari kami kemudian berubah menjadi rutinitas antara bangsal rumah sakit dan ruang tunggu yang dingin. Akhir tahun yang seharusnya penuh dengan rencana syukur, kini berganti dengan deretan jadwal transfusi darah dan pencarian pendonor yang mendesak. Aku sering mendapati diriku terdiam di samping tempat tidurnya, menatap punggung tangannya yang mulai memar akibat tusukan jarum yang tak terhitung jumlahnya.

​"Sakit, Kak?" tanyaku suatu sore dengan suara yang nyaris berbisik.

​Kak Niswah hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan hanya agar kami tidak merasa hancur. "Hanya sedikit haus," jawabnya pelan, padahal aku tahu tubuhnya sedang berjuang hebat melawan rasa lemas yang luar biasa. Kondisi ini benar-benar memukul mental kami. Biaya pengobatan yang tidak sedikit dan proses observasi yang panjang membuat kami harus memutar otak dan tenaga. Kami semua lebih banyak diam, namun tangan kami saling menggenggam lebih erat dari biasanya. Kami berbagi tugas, siapa yang menjaga di rumah sakit, siapa yang mengurus keperluan rumah, dan siapa yang tetap memberi kekuatan untuk Ibu. Keadaan ini memaksa kami dewasa lebih cepat. Di balik ujian ini, aku mulai melihat sisi lain dari keluarga kami: sebuah kesetiaan yang tak bersuara. Kami tidak banyak mengeluh di depan satu sama lain, karena kami tahu, jika satu saja dari kami tumbang, maka seluruh pertahanan ini akan runtuh. Kami hanya bisa bersujud lebih lama, memohon agar keajaiban itu menyapa Kak Niswah di awal tahun yang baru nanti.

     Di tengah perjuangan medis yang kian pelik, suasana semakin keruh ketika bisik-bisik tetangga mulai sampai ke telinga kami. Penyakit Kak Niswah yang tergolong langka dan sulit dijelaskan secara awam oleh orang-orang di sekitar, memicu spekulasi yang menyakitkan. Kabar miring mulai berembus, menyebar dari satu mulut ke mulut lain bahwa Kak Niswah bukan sakit karena medis, melainkan terkena “kiriman” atau pelet.

​“Masa anak muda sehat tiba-tiba pucat begitu? Pasti ada yang iri,” begitu kalimat yang sering terdengar sayup-sayup saat aku berjalan di sekitar rumah.

​Tuduhan-tuduhan tak berdasar itu seperti garam yang ditaburkan di atas luka. Rasanya sangat menyesakkan ketika kami sedang berjuang mati-matian mengikuti prosedur dokter di rumah sakit, namun di luar sana, orang-orang justru sibuk mengaitkan penderitaan kakakku dengan hal-hal mistis yang tidak masuk akal. Berita itu seolah menyudutkan keluarga kami, seakan-akan ada kesalahan di masa lalu yang membuat Kak Niswah menjadi sasaran empuk ilmu hitam. Ibu adalah yang paling terpukul. Di satu sisi beliau harus kuat mendampingi Kak Niswah di bangsal perawatan, di sisi lain beliau harus menahan telinga dari fitnah yang tak berujung. Pernah suatu hari, seorang kerabat datang bukan membawa doa kesembuhan, melainkan menyarankan kami pergi ke “orang pintar” karena yakin ini adalah perbuatan orang yang sakit hati.

​      Aku melihat kemarahan sekaligus kesedihan di mata Ayah. Beliau adalah sosok yang realistis, namun sebagai kepala keluarga, fitnah seperti itu benar-benar menguji harga dirinya. Kami dipaksa berada di persimpangan yang membingungkan: tetap fokus pada pengobatan anemia aplastik yang butuh biaya dan energi besar, atau meladeni ocehan orang yang hanya menambah beban mental. Namun, di tengah hiruk-pikuk berita miring itu, kami memilih untuk saling menguatkan. Kami tahu siapa Kak Niswah dan bagaimana perjuangannya. Fitnah itu memang tajam, tapi kasih sayang kami jauh lebih kuat untuk membentenginya dari segala prasangka buruk yang ada di luar sana. Beberapa bulan di rumah sakit Keadaan Kak Niswah kian kritis. Tubuhnya yang semula hanya nampak pucat, kini benar-benar terlihat sangat rapuh seolah tak lagi memiliki daya untuk menopang nyawa. Hasil laboratorium menunjukkan angka-angka yang kian terjun bebas, memaksa dokter untuk mengambil tindakan yang menguras emosi dan tenaga kami: transfusi darah besar-besaran.

​      Hari demi hari, kantong demi kantong darah mulai mengalir masuk ke tubuhnya. Rasanya tidak terhitung lagi berapa banyak relawan, keluarga, hingga orang asing yang datang untuk mendonorkan darah mereka. Puluhan, ratusan, hingga secara akumulatif terasa seperti beribu-ribu kantong darah telah diupayakan demi menyambung napas Kak Niswah. Setiap kali melihat kantong merah itu tergantung di tiang infus, jantungku berdegup kencang, antara rasa syukur karena bantuan datang dan rasa ngeri membayangkan betapa rusaknya sistem di dalam tubuh kakakku sehingga ia terus-menerus membutuhkan asupan dari luar.

​“Kenapa belum ada perubahan, Dok?” tanya Ibu dengan suara bergetar saat melihat Kak Niswah kembali menggigil hebat meski transfusi baru saja selesai.

​Dokter hanya bisa memberikan penjelasan medis yang rumit tentang bagaimana tubuh Kak Niswah menolak atau tidak mampu memproses sel darah baru tersebut. Di saat itulah, beban kami terasa berlipat ganda. Di luar sana, fitnah tentang pelet semakin liar terdengar karena orang-orang menganggap tidak wajar ada penyakit yang memakan begitu banyak darah tanpa kesembuhan yang jelas. Kami terjebak dalam keletihan yang luar biasa. Ayah harus bolak-balik mengurus administrasi dan mencari pendonor, sementara kami para saudara bergantian berjaga, memastikan Kak Niswah tidak merasa sendirian di saat-saat paling menyakitkan itu. Setiap malam, di ruang tunggu rumah sakit yang pengap, aku hanya bisa menatap langit-langit, membayangkan kapan kiranya aliran darah ini benar-benar bisa mengembalikan binar di mata kakakku. Ujian ini bukan lagi sekadar mencari obat, tapi tentang bagaimana kami bertahan dalam ketidakpastian yang seolah tak berujung, di mana setiap kantong darah adalah harapan yang kami panjatkan dalam doa-doa panjang di sepertiga malam.

      Di tengah kepungan kabar miring dan kondisi kesehatan yang kian menurun, Tuhan seolah mengirimkan titik-titik cahaya melalui cara yang tidak terduga. Salah satu beban berat yang menghimpit dada kami sedikit terangkat ketika mengetahui bahwa BPJS Kesehatan Kak Niswah masih aktif dan ditanggung sepenuhnya oleh tempat kerjanya. Di saat biaya rumah sakit terus membengkak dan prosedur transfusi yang tak henti-hentinya dilakukan, jaminan itu menjadi napas tambahan bagi keluarga kami.

​"Alhamdulillah, setidaknya kita tidak perlu memikirkan angka-angka di atas kertas itu sekarang," bisik Ayah saat membereskan berkas administrasi. Kami tahu, tanpa bantuan itu, entah bagaimana cara kami bertahan menghadapi tagihan medis yang kian melambung. Namun, keajaiban tidak berhenti di sana. Dukungan yang mengalir dari teman-teman kerja Kak Niswah dan orang-orang di sekitar kami sungguh luar biasa. Mereka yang mendengar kabar tentang kelangkaan penyakit Kak Niswah tidak datang membawa penghakiman, melainkan membawa uluran tangan.

​      Ponsel kami tak henti-hentinya bergetar menerima pesan dari teman-teman sekolah dan rekan kantornya. Ada yang datang berkelompok untuk mendonorkan darah secara sukarela, ada yang menggalang dana tanpa kami minta, dan ada pula yang sekadar datang membawa makanan serta semangat agar kami tidak menyerah. Melihat antusiasme mereka, segala berita miring tentang pelet perlahan-lahan terasa kerdil. Kebaikan yang mereka tunjukkan menjadi bukti nyata bahwa Kak Niswah adalah orang baik yang dicintai banyak orang.  Aku terharu melihat bagaimana orang-orang yang bahkan tidak kami kenal secara dekat, rela mengantre di Palang Merah hanya demi memastikan satu kantong darah untuk kakakku. Solidaritas ini memberikan kami kekuatan mental yang luar biasa. Di koridor rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan sepi, kini terasa lebih hangat karena doa dan dukungan yang terus mengalir. Kami sadar, meski penyakit ini sangat langka dan berat, kami tidak sedang berjalan sendirian di lorong yang gelap ini. Tuhan mengirimkan mereka sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk menjaga harapan kami tetap menyala.

       Namun setengah tahun di rumah sakit, Realita hidup yang pahit mulai menampakkan wajahnya. Meskipun biaya pengobatan tertutup oleh BPJS, kebutuhan sehari-hari di luar ruang perawatan seolah menjadi monster baru yang siap menerkam. Sebagai seorang kasir dengan gaji yang hanya Rp2,1 juta perbulan, aku dipaksa melakukan perhitungan matematis yang mustahil setiap harinya. Uang sejumlah itu, yang biasanya cukup untuk kebutuhan pribadiku, kini terasa menguap begitu saja. Biaya bensin motor untuk bolak-balik dari kost ke rumah sakit atau dari rumah sakit ke banyak PMI yang jaraknya tidak dekat, uang parkir yang receh demi receh menumpuk, hingga biaya makan keluarga yang menjaga Kak Niswah di bangsal, semuanya menuntut jatah dari dompetku yang kian menipis.

​“Cukup tidak ya sampai akhir bulan?” gumamku setiap kali melihat sisa saldo di ATM.

Lihat selengkapnya