SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #11

TERJERAT PINJAMAN ONLINE


       Setelah berbulan-bulan menjadi pasien di rumah sakit, saat keuangan keluargaku sudah sangat menipis bahkan kurang, Aku mencoba meminjam uang ke beberapa kenalan bahkan keluarga dekatku tetapi sayangnya tidak ada yang bisa membantuku. Harapan yang perlahan memudar itu terasa lebih menyesakkan daripada aroma obat-obatan yang setiap hari kuhirup. Aku berdiri di koridor rumah sakit yang dingin, menatap layar ponsel yang sepi dari balasan pesan pinjaman, sementara di kantong gamisku hanya tersisa beberapa lembar uang kecil yang bahkan tak cukup untuk menebus satu resep obat tambahan. Rasa lelah ini bukan lagi soal kurang tidur, melainkan beban di pundak yang rasanya ingin membuatku luruh ke lantai. Aku teringat wajah Ibu dan Bapak, selama mereka menemani kak Niswah di rumah sakit, mereka hanya makan seadanya. Mau bagaimana lagi, kami tidak punya penghasilan tambahan saat ini kecuali gaji bulanan ku yang masih harus kutunggu 2 minggu lagi.

​“Tuhan, aku harus mengetuk pintu mana lagi?” bisikku lirih, nyaris tak terdengar di antara deru mesin rumah sakit.

​        Aku memaksakan diri kembali ke ruang perawatan. Di sana, kulihat sosok yang sangat kusayangi sedang terbaring lemah. Meski wajahnya pucat dan badannya benar-benar kurus, ia mencoba mengulas senyum tipis saat melihatku masuk. Senyum itu, yang biasanya menjadi penguatku, justru membuat dadaku kian sesak. Aku harus kuat. Aku tidak boleh menunjukkan bahwa dunia sedang runtuh di luar ruangan ini. Aku duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya yang dingin, dan mulai memutar otak. Akhirnya Aku mengikuti salah satu saran teman kerja di berkah supermarket untuk meminjam uang pada aplikasi pinjaman online ( pinjol). Hal yang sangat tabuh untuk kulakukan tetapi demi keberlangsungan hidupku dan membiayai kebutuhan di rumah sakit, mau tidak mau, Aku harus melakukannya.     

      Jari-jariku gemetar saat menatap layar ponsel yang menyala terang di tengah remang lampu bangsal rumah sakit. Rasanya seperti sedang menggadaikan sisa harga diri yang aku miliki. Selama ini, aku selalu bangga bisa mengelola setiap sen hasil keringatku dengan teliti, namun keadaan memaksa prinsip-prinsip itu luruh satu demi satu. Setelah mengunggah foto identitas dan mengisi berbagai formulir digital yang terasa sangat mengintimidasi, aku hanya bisa terduduk lemas di kursi besi yang dingin. Suara detak jam dinding rumah sakit seolah mengejek keputusasaanku.

​“Hanya untuk kali ini,” bisikku pada diri sendiri, mencoba meredam rasa sesak di dada. “Setelah semua ini selesai, aku akan bekerja dua kali lebih keras untuk melunasinya.”

​Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi muncul. Saldo masuk. Ada rasa lega yang instan karena biaya administrasi di luar BPJS dan biaya kebutuhan di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan akhirnya aman, namun di balik itu, ada kecemasan baru yang mulai merayap. Aku tahu, ini bukan sekadar meminjam uang; ini adalah awal dari perlombaan baru melawan bunga dan waktu yang terus berjalan. Aku memandang keluar jendela, menatap lampu-lampu kota yang tampak buram. Di balik tembok rumah sakit ini, hidup harus terus berlanjut, meski jalannya kini terasa jauh lebih terjal dan penuh risiko. Sambil menghela napas panjang, aku merapikan selimut dan bersiap menghadapi hari esok yang masih menjadi tanda tanya besar.

      Keesokan harinya, aku terbangun oleh aroma obat-obatan yang tajam dan suara roda troli perawat yang berdecit di koridor. Meski urusan administrasi untuk hari ini sudah teratasi, perasaan tenang yang kuharapkan tak kunjung datang. Sebaliknya, setiap kali ponselku bergetar, jantungku berdetak tak karuan, seolah-olah aplikasi itu sudah mulai menagih janji bahkan sebelum uangnya benar-benar kugunakan. Aku mencoba fokus menyuapi kak Niswah makanan rumah sakit yang hambar, menyembunyikan gurat lelah di wajahku sebisa mungkin. Namun, pikiranku terus melayang. Aku membayangkan tumpukan barang yang harus kupindai di meja kasir dan antrean pelanggan yang tak ada habisnya. Dulu, pekerjaan itu terasa melelahkan, tapi sekarang, aku justru merindukan rutinitas itu. Aku merindukan saat di mana satu-satunya beban di pundakku hanyalah memastikan kembalian pelanggan tepat sasaran, bukan beban bunga yang terus berlipat ganda. Sore harinya, salah satu teman kerjaku datang menjenguk. Ia melihatku termenung menatap layar ponsel yang masih menampilkan laman rincian cicilan.

​"Sudah cair?" tanyanya pelan, duduk di kursi kayu di samping bed.

​Aku mengangguk lemah. "Sudah. Tapi rasanya... aku seperti sedang gali lubang yang sangat dalam."

​Ia menepuk bahuku pelan. "Yang penting sekarang bisa bertahan dulu. Soal cicilan, nanti kita atur jadwal lembur di toko kalau kamu sudah kembali bertugas. Pak Manajer pasti mengerti situasimu."

​Kata-katanya sedikit menghibur, tapi aku tahu kenyataan tidak akan semudah itu. Menjadi dewasa ternyata bukan hanya soal bisa mencari uang sendiri, tapi juga soal keberanian mengambil keputusan pahit saat punggung sudah benar-benar terdesak ke dinding. Malam itu, di bawah temaram lampu bangsal, aku membuka buku catatan kecilku. Aku mulai menghitung sisa hari, sisa uang, dan sisa kekuatan yang masih kumiliki untuk bertahan hidup.    

       Hari-hari berikutnya berlalu seperti bayangan yang kabur. Fokusku terpecah antara memantau perkembangan kesehatan di bangsal ini dan menghitung mundur tanggal jatuh tempo yang terus mengejar. Setiap kali aplikasi itu mengirimkan notifikasi pengingat, rasanya seperti ada beban tak kasatmata yang menekan dadaku hingga sesak. Puncaknya terjadi saat aku kembali ke rutinitas di Berkah Supermarket. Berdiri di balik meja kasir, memindai satu demi satu barang belanjaan pelanggan, aku berusaha tetap tersenyum ramah. Namun, di dalam kepala, angka-angka itu menari liar. Aku mulai menghitung berapa banyak jam lembur yang harus kuambil hanya untuk menutupi bunga pinjaman yang mulai membengkak.

​“Totalnya seratus lima puluh ribu, Bu,” ucapku otomatis, sementara tanganku dengan lincah memasukkan belanjaan ke dalam kantong.

​Saat toko sedang sepi, aku menyandarkan tubuh di pinggiran meja kasir yang dingin. Teman yang menyarankanku meminjam uang itu menghampiri, wajahnya tampak sedikit bersalah melihat lingkaran hitam di bawah mataku yang tak bisa lagi disembunyikan oleh bedak tipis.

​“Kamu sudah bayar cicilan pertama?” tanyanya berbisik, takut terdengar oleh staf lain.

​Aku menggeleng pelan. “Uang gajiku bulan ini habis untuk menebus obat tambahan yang tidak ditanggung. Aku bingung, mereka sudah mulai menelepon berkali-kali.”

​Suara dering ponsel di saku celanaku tiba-tiba memecah keheningan. Sebuah nomor tak dikenal. Jantungku berdegup kencang, tanganku dingin seketika. Aku tahu siapa itu. Inilah kenyataan pahit yang harus kuhadapi: lubang yang kugali untuk menyelamatkan diri, kini perlahan-lahan mulai mengancam akan menenggelamkanku. Aku menarik napas panjang, menguatkan hati, lalu menggeser layar untuk menjawab panggilan itu. Apapun yang terjadi, aku tidak boleh menyerah di sini.

Selamat sore, dengan Ibu Nadiah?" Suara di ujung telepon terdengar tajam dan tanpa basa-basi.

​Aku tertegun sejenak, diksi "Ibu" terasa begitu berat di telingaku yang biasanya hanya mendengar panggilan akrab dari rekan kerja. "I-iya, benar," jawabku terbata sambil melangkah menjauh dari meja kasir, mencari sudut gudang yang sepi agar suaraku tidak terdengar oleh pelanggan.

​"Pembayaran Anda sudah jatuh tempo hari ini. Mengapa belum ada dana masuk ke sistem kami? Jangan sampai kami menghubungi kontak darurat Anda," cecar suara itu lagi.

​Ancaman itu seperti siraman air es di siang bolong. Pikiranku langsung melayang pada orang-orang di rumah, pada mereka yang tidak tahu apa-apa tentang beban yang sedang kupikul sendirian ini. Aku tidak ingin mereka cemas, apalagi sampai menanggung malu karena urusanku.

​"Mohon maaf, Pak. Saya sedang mengusahakan dananya. Bisakah saya diberi waktu sampai besok pagi setelah saya menerima bonus lembur?" pintaku memelas. Tanganku memegang erat pinggiran rak stok barang, berusaha menjaga agar kakiku tidak lemas.

​"Besok pagi pukul delapan sudah harus lunas. Jika tidak, prosedur akan berlanjut," klik. Sambungan diputus sepihak.

​Aku menyandarkan kepala pada tumpukan kardus mi instan yang dingin. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh juga. Menjadi kasir dengan predikat cum laude di ijazah yang tersimpan di lemari ternyata tidak memberiku kekebalan terhadap getirnya kemiskinan. Di sini, di antara deretan stok barang supermarket, aku merasa sangat kecil dan tak berdaya.

Namun, saat aku hendak menghapus air mata, tanganku menyentuh saku seragam. Ada secarik kertas doa dari nenek yang selalu kusimpan. Aku teringat pesan beliau tentang ketabahan. Aku tidak boleh hancur sekarang. Aku harus kembali ke depan, menghitung kembalian orang lain dengan teliti, sambil otakku berputar keras mencari cara untuk menyelamatkan harga diriku sendiri besok pagi.

      Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Kamar kos yang sempit terasa makin menghimpit saat angka delapan pagi terus membayang di depan mata seperti vonis mati. Aku menatap saldo di rekeningku; jumlahnya jauh dari kata cukup untuk melunasi tagihan beserta bunga yang mencekik itu. Putus asa adalah bahan bakar yang berbahaya. Dengan tangan gemetar, aku kembali membuka toko aplikasi di ponselku. Aku mengetik kata kunci yang kini terasa seperti kutukan: “Pinjaman Cepat Cair.

​Layar ponselku seketika dipenuhi oleh puluhan aplikasi dengan janji manis—tenor panjang, bunga rendah, proses hitungan menit. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini seperti meminum air laut untuk meredakan dahaga; semakin diminum, akan semakin haus. Namun, bayangan debt collector menghubungi kontak daruratku jauh lebih menakutkan daripada tumpukan utang baru.

​Aku mengunduh satu aplikasi lagi, lalu satu lagi. Aku melewati proses yang sama: mengunggah foto KTP, memindai wajah, dan memberikan izin akses pada seluruh kontak di ponselku. Hatiku perih setiap kali mengklik tombol “Izinkan”. Aku merasa seperti sedang menjual privasi dan keselamatan teman-temanku demi napas buatan selama beberapa minggu ke depan.

​“Tolong, cairkan saja kali ini,” bisikku lirih pada layar yang sedang memproses data.

Lihat selengkapnya