BAB 12
PERKENALAN
LEWAT PINTU APLIKASI
Tahun ini usiaku sudah 25 tahun dan selama kak Niswah jauh sakit, Aku terbiasa tinggal sendiri. Suatu hari muncul rasa bosan, Aku tertarik pada iklan aplikasi pencari jodoh yang sekali kali muncul Dan entah mengapa Aku iseng mendownload aplikasi tersebut. Jari-jariku bergerak ragu di atas layar ponsel yang berpendar di tengah remangnya kamar. Nama aplikasi itu terdengar asing, namun testimoni yang muncul di iklan tadi seolah menjanjikan sebuah dunia baru di luar tumpukan laporan dan rutinitas yang membosankan. Setelah proses instalasi selesai, aku diminta mengisi biodata singkat. Aku terdiam sejenak saat menatap kolom "Pekerjaan" dan "Hobi". Ada keinginan untuk menampilkan sisi diriku yang paling ideal, namun akhirnya aku memilih untuk menulis apa adanya. Aku mengunggah sebuah foto yang menurutku paling sopan, senyum tipis dengan latar belakang dinding rumah yang sederhana.
Begitu akun aktif, wajah-wajah asing mulai bermunculan di layar. Ada rasa canggung yang aneh; seperti sedang berdiri di pasar malam namun tidak tahu ingin membeli apa. Setiap profil menawarkan cerita yang berbeda: ada yang memamerkan hobi mendaki gunung, ada yang terang-terangan mencari hubungan serius, dan ada pula yang hanya sekadar mencari teman mengobrol. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar.
"Seseorang menyukai profilmu."
Jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Di titik ini, aku mulai bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah ini hanya sekadar pelarian dari rasa jenuh, atau mungkinkah ini awal dari babak baru yang selama ini tidak pernah berani kutuliskan dalam hidupku? Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memberanikan diri untuk mengetuk ikon pesan tersebut. Ponselku terus bergetar. Dalam hitungan jam, kolom pesan mulai terisi oleh berbagai macam sapaan. Ada yang mengirim pesan singkat seperti “Halo, boleh kenalan?”, ada yang langsung mengirimkan gombalan kaku yang membuatku mengernyit, dan ada pula yang tanpa basa-basi menanyakan kriteria pasangan idaman.
Aku membacanya satu per satu sambil merebahkan diri, merasa sedikit kewalahan. Sebagian besar terasa seperti percakapan basa-basi yang melelahkan, tipe obrolan yang kemungkinan besar akan berakhir dalam dua hari. Namun, perhatianku terhenti pada satu notifikasi yang berbeda. Pria itu bernama Taufik. Foto profilnya tidak berlebihan, hanya foto diri dengan jaket hitam duduk santai di atas kursi lipat di depan sebuah tenda oranye yang mencolok. Ia mengenakan kacamata hitam, wajahnya sedikit mendongak seolah tengah menikmati semilir angin pegunungan yang menjadi latar belakangnya. Hijau lembah dan megahnya tebing di foto itu tampak begitu tenang, seolah sanggup meredam segala kebisingan yang ada di kepalaku.
Ada sesuatu dari tatapannya meski tersembunyi di balik lensa gelap yang membuatku terpaku. Ia tampak begitu bebas di sana, di antara alam yang luas, jauh dari rutinitas yang menjemukan. Kontras sekali dengan suasana di sekitarku saat ini, di mana suara deru kendaraan dan tumpukan tanggung jawab seringkali membuat napas terasa pendek. Aku mengamati foto itu lebih lama dari yang seharusnya. Jempolku tertahan, ragu apakah harus menutup aplikasi atau justru mencari tahu lebih jauh. Nama itu, Taufik, terasa asing namun entah mengapa memicu sedikit rasa penasaran yang sudah lama tidak kurasakan. Di dunia yang serba terburu-buru ini, melihat seseorang yang bisa duduk diam dan hanya ada di tengah alam terasa seperti sebuah kemewahan yang tak tergapai.
Apakah dia juga mencari ketenangan yang sama? Ataukah gunung itu hanyalah pelariannya dari hiruk-pikuk yang sama denganku? Aku menghela napas pelan, mematikan layar ponsel, namun bayangan tenda oranye di tengah lembah hijau itu tetap membekas di benakku. Ia mengirimkan pesan yang membuatku berhenti menggulir layar:
“Melihat fotomu, sepertinya kamu tipe orang yang lebih suka ketenangan daripada keramaian. Saya juga baru pertama kali mencoba aplikasi ini karena merasa sedikit ‘tersesat’ dengan rutinitas. Salam kenal, ya.”
Kalimatnya sederhana, tapi entah mengapa terasa lebih tulus dibandingkan pesan-pesan lainnya. Aku mulai membuka profil lengkapnya. Ia menuliskan deskripsi diri yang cukup singkat, seakan tidak mengizinkan dunia untuk mengenalnya lebih dalam. Tidak ada deretan prestasi, tidak ada kutipan motivasi yang berlebihan. Hanya satu kalimat pendek yang seolah-olah menjadi dinding pelindung sekaligus undangan tipis bagi siapa pun yang ingin mengenalnya lebih dalam.
Aku kembali menatap foto itu. Pemandangan tebing di belakangnya yang kuduga adalah daerah pegunungan di Sulawesi terlihat begitu megah, namun ia tetap menjadi pusat yang tenang di sana. Di usianya yang tampak matang, ada kesan bahwa ia sudah selesai dengan drama-drama kehidupan yang melelahkan. Ia tidak butuh validasi lewat foto-foto mewah atau keterangan profil yang panjang lebar. Cukup sebuah kursi lipat, satu tenda, dan kacamata hitam untuk menutupi lelah yang mungkin ia bawa dari kota. Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di dadaku. Di tengah tumpukan pesan dari orang-orang yang sibuk memamerkan apa yang mereka miliki, kesederhanaan Taufik justru terasa sangat berisik di kepalaku. Ia mengingatkanku pada jenis ketenangan yang selama ini kucari namun selalu gagal kutemukan di antara rutinitas yang menyesakkan.
Jemariku tertahan di atas layar. Entah dorongan dari mana, aku merasa deskripsi singkatnya itu bukan sekadar tulisan, melainkan sebuah pernyataan sikap. Bahwa di dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, menjadi 'biasa saja' dan menikmati alam adalah sebuah kemewahan yang paling jujur. ku menarik napas panjang, mencoba menimbang-nimbang. Haruskah aku hanya menjadi pengamat yang lewat, atau memberanikan diri untuk masuk ke dalam sunyi yang ia tawarkan? Namun, rasa bosanku yang akut terhadap rutinitas pekerjaan mengalahkan rasa takut itu. Jari-jariku mulai mengetik balasan di kolom percakapan Arlan, mengabaikan belasan pesan lain yang masuk sebelumnya.
“Salam kenal, Taufik. Tebakanmu benar, aku memang lebih suka ketenangan. Ternyata aku tidak sendirian yang merasa ‘tersesat’ di sini...”
Aku menekan tombol kirim, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan debaran antisipasi yang menyenangkan di balik cahaya layar ponsel ini.Tidak butuh waktu lama sampai ponselku bergetar kembali. Sebuah balasan masuk dari Rezki, dan kali ini ia membalas dengan sebuah pertanyaan yang membuat percakapan kami mengalir lebih dalam.
“Terima kasih sudah merespons,” tulisnya. “Banyak orang di sini hanya mencari kesenangan sesaat, tapi aku melihat ada ketulusan di matamu lewat foto itu. Kalau boleh tahu, apa yang biasanya kamu lakukan untuk mengusir rasa jenuh selain ‘tersesat’ di aplikasi ini?”
Aku tersenyum tipis. Pertanyaannya tidak klise. Aku mulai menceritakan sedikit tentang kegemaranku menulis, tentang bagaimana aku sering menuangkan imajinasi ke dalam rangkaian kalimat saat dunia nyata terasa terlalu bising. Aku tidak menceritakan semuanya, namun cukup untuk membuatnya tahu bahwa aku memiliki dunia kecil yang kucintai. Ternyata, Taufik adalah pendengar atau lebih tepatnya, pembaca yang baik. Ia bercerita bahwa ia bekerja di bidang yang cukup menyita waktu, yang membuatnya harus memiliki kewarasan untuk bertemu banyak orang baru.
“Aku menghargai kerja keras,” katanya dalam salah satu pesan. “Bagiku, wanita yang tahu caranya berjuang dan tetap rendah hati adalah sosok yang luar biasa.”
Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun kantukku hilang entah ke mana. Kami beralih dari sekadar basa-basi ke obrolan tentang impian masa kecil dan pandangan kami tentang keluarga. Ada kecocokan pemikiran yang membuatku merasa seolah sudah mengenalnya lebih dari sekadar hitungan jam. Hingga akhirnya, Taufik mengirimkan sebuah pesan yang membuat jantungku mencelos.
“Aku merasa nyaman mengobrol denganmu. Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah kita beralih ke WhatsApp? Aku ingin mengenalmu lebih jauh, tanpa perantara aplikasi pencari jodoh ini.”