BAB 13
KEJELASAN HUBUNGAN
Setelah sekian lama saling bertukar kabar dan perhatian, Akhirnya benih-benih cinta itu muncul. Benih-benih itu tumbuh tanpa suara, seperti lumut yang perlahan menghijau di sela bebatuan, tenang namun kokoh. Setiap notifikasi pesan yang masuk bukan lagi sekadar informasi, melainkan debaran kecil yang selalu dinanti di tengah hiruk-pikuk pekerjaan di toko. Ada rasa hangat yang menjalar setiap kali nama itu muncul di layar ponsel. Percakapan yang awalnya hanya basa-basi formal tentang keseharian, kini telah bertransformasi menjadi ruang aman untuk berbagi keluh kesah, mimpi-mimpi yang belum terwujud, hingga tawa receh yang hanya di mengerti orang dia orang yang sedang di landa asmara.
Malam itu, di bawah langit yang mulai meremang, Aku menatap layar ponsel cukup lama. Jariku ragu-ragu di atas papan ketik. Perasaan ini terasa berbeda, lebih dalam dari sekadar kagum, lebih kuat dari sekadar nyaman. Ada semacam tarikan tak terlihat yang membuatnya merasa bahwa setiap pencapaian yang kuraih, akan terasa lebih lengkap jika diceritakan kepadanya. Akhirnya, dengan satu helaan napas panjang, Aku mengetikkan sesuatu yang lebih dari sekadar kabar. Bukan sebuah pengakuan yang menggebu, melainkan sebuah kalimat sederhana yang menyiratkan bahwa hatinya kini telah menemukan tempat untuk berlabuh.
“Kau tau, makin hari perasaan ku makin aneh saja, bayangkan, lelahku karena seharian bekerja langsung hilang seketika hanya karena mendengar kabarmu .” Jawabku terkekeh
Di seberang sana, jawaban datang lebih cepat dari dugaan, seolah seseorang memang sedang menunggu di ambang pintu yang sama. Benih itu kini resmi bertunas, siap menghadapi musim-musim yang akan datang. Detik berlalu, dan balasan yang muncul di layar membuat napasku tertahan sejenak.
"Aku juga, Nadiah. Terima kasih sudah selalu menjadikanku tempat pulang untuk semua ceritamu."
Kalimat itu sederhana, namun dampaknya terasa seperti gelombang pasang yang menenangkan. Aku tersenyum tipis, membiarkan jemariku mengusap pinggiran ponsel. Di tengah kesibukannya mengurus laporan keuangan dan tanggung jawab baruku, kehadiran sosok ini menjadi warna yang berbeda, seperti oase di tengah padang sabana yang terik.
Sore itu, suasana di toko sedang sangat sibuk. Aku baru saja menyelesaikan pengecekan stok akhir sebelum shift malam dimulai. Dengan langkah yang sedikit letih, Aku melangkah keluar dari pintu kaca otomatis, berniat menghirup udara segar sejenak sambil membenarkan posisi seragamku. Namun, langkahku mendadak terkunci di ambang pintu. Di dekat deretan motor yang terparkir, seorang pria berdiri menyandar pada motornya sambil sesekali melirik ke arah pintu keluar. Ia mengenakan kemeja santai dengan lengan yang digulung hingga siku. Begitu mata kami bertemu, sebuah senyuman tipis namun hangat terukir di wajah pria itu.
“Taufik?” gumamku, nyaris tak percaya.
Ini adalah pertemuan kedua kami dan sama sekali tidak ada dalam rencana. Terakhir kali kami bertemu, suasana terasa lebih formal dan kaku, namun kali ini, kehadiran Taufik yang tiba-tiba di depan tempat kerjanya membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Maaf ya, muncul tiba-tiba begini,” ucap Taufik sambil melangkah mendekat. “Kebetulan tadi ada urusan di dekat sini, dan aku pikir... kenapa tidak sekalian mampir sebentar?”
Aku masih berusaha menguasai diri. Aku merapikan jilbabku yang sedikit berantakan karena aktivitas toko sejak pagi. “Kamu tahu aku kerja di sini?”