BAB 14
SESAL DALAM DEKAPAN
Setelah menjadi sepasang kekasih, kami semakin sering bertukar perhatian lewat layar ponsel. Setiap denting notifikasi menjadi melodi yang paling kunantikan di sela kesibukan. Kadang hanya sekadar ucapan "jangan lupa makan" atau foto langit sore yang ia kirimkan sebagai pengganti kehadirannya. Namun, meski jarak terasa hanya sejauh sentuhan jari di atas kaca, ada semacam kerinduan yang tetap tidak bisa diredam hanya dengan deretan huruf.
"Nadiah, kamu sudah tidur?" pesannya muncul suatu malam, saat aku baru saja merebahkan diri setelah seharian bergelut h dengan tumpukan tanggung jawab di tempat kerja.
Aku tersenyum tipis, mengetik jawaban dengan jempol yang terasa ringan. "Belum. Baru saja ingin memejamkan mata. Ada apa?"
Ponselku tiba-tiba bergetar panjang. Nama yang tertera di layar membuat jantungku berdesir pelan. Aku berdehem sejenak, merapikan bantal, lalu menggeser ikon hijau itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
"Aku hanya ingin mendengar suaramu," bisiknya di seberang sana. Suaranya terdengar berat dan tenang, seolah-olah dia sedang berada tepat di sampingku, bukan dipisahkan oleh jarak yang nyata.
Kami terdiam sejenak, hanya mendengarkan napas satu sama lain. Di saat seperti ini, layar ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan bagi dua hati yang sedang belajar untuk saling memiliki di tengah keterbatasan ruang. Aku mulai menyadari bahwa mencintai seseorang berarti juga belajar untuk merindukannya di setiap detik layar itu meredup. Sapaan hangat di pagi hari dan untaian doa sebelum terlelap menjadi rutinitas baru yang tak pernah absen. Meski raga terpisah oleh jarak, gawai di tangan seolah menjadi jembatan yang memangkas ribuan kilometer. Setiap denting notifikasi yang muncul di layar selalu berhasil menerbitkan senyum kecil, seolah kehadiran sosoknya benar-benar nyata di sampingku.
Suatu sore, saat rona jingga mulai memudar di ufuk barat, sebuah pesan suara masuk.
“Aku sedang melihat langit yang sama denganmu saat ini. Cantik, ya? Tapi tetap saja, ada yang kurang kalau tidak ada kamu di sini,” suaranya terdengar lembut, sedikit parau karena kelelahan setelah seharian beraktivitas.
Aku tertegun sejenak, menatap gedung tinggi di depan toko yang lampunya mulai meredup tertutup bayang-bayang malam. Kalimat sederhana itu sanggup menggetarkan sudut hatiku yang paling dalam. Ada rasa hangat yang menjalar, namun sekaligus terselip rindu yang menyesakkan dada.
“Sabar, ya. Langit itu bukti kalau kita masih berada di bawah naungan yang sama,” balasku pelan setelah menekan tombol rekam.
Namun, di tengah manisnya komunikasi itu, terkadang terselip tanya yang belum berani kuutarakan. Tentang bagaimana masa depan ini akan dirajut, dan apakah restu semesta akan berpihak pada dua jiwa yang hanya bisa saling menggenggam lewat kata-kata?. Setiap kali keraguan itu muncul, aku kembali membuka galeri foto. Melihat potretnya yang tersenyum tenang, seolah memberiku kekuatan untuk terus percaya bahwa jarak hanyalah ujian waktu, bukan penghalang bagi dua hati yang sudah memutuskan untuk menetap.
Hari demi hari berlalu. Hubungan kami tumbuh di antara sela-sela kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Pagi dimulai dengan satu pesan singkat darinya, dan malam ditutup dengan suara beratnya yang menenangkan di telinga. Di tempat kerja, saat aku harus fokus menghadapi hiruk-pikuk operasional dan tumpukan laporan yang menyita perhatian, sosoknya adalah oase kecil dalam kepalaku. Sering kali, di tengah riuhnya suasana toko, aku mendapati diriku tersenyum sendiri hanya karena mengingat gurauan yang ia kirimkan lewat pesan suara. Kebahagiaan ini terasa begitu personal, seolah-olah ada dunia rahasia yang hanya kami berdua yang tahu. Namun, waktu yang terus bergulir juga membawa satu kesadaran: layar ponsel mulai terasa terlalu sempit untuk menampung rindu yang kian membesar. Kami bukan lagi sekadar dua orang yang bertukar kabar, melainkan dua jiwa yang mulai haus akan kehadiran fisik. Suara saja tak lagi cukup; aku ingin melihat bagaimana matanya bergerak saat ia berbicara, dan bagaimana ia tersenyum tanpa melalui perantara piksel. Kami memutuskan untuk bertemu kembali. Bukan karena semua tanya telah menemukan jawabnya, melainkan karena rindu ini sudah terlalu sesak jika hanya disimpan dalam diam.
Sore itu, di sudut kota yang masih menyimpan jejak langkah kami dulu, suasana terasa berbeda. Angin kota Makassar yang biasanya berembus bebas, sore itu terasa lebih menahan diri, seolah tak ingin mengusik sepasang manusia yang tengah canggung merangkai kata. Di meja sudut sebuah restoran, dua minuman dingin perlahan berembun, tak ttersentuh Kuberanikan diri menatap sosok di seberangku. Ada gurat kelelahan yang samar di wajah Taufik, mungkin sisa-sisa dari kerasnya ritme kehidupan yang kami jalani masing-masing. Namun, sorot matanya tetap menyimpan teduh yang sama, teduh yang dulu selalu berhasil melunturkan segala penatku setelah seharian lelah berdiri di balik mesin kasir, meredakan riuh isi kepala.
"Apa kabar?" Suara beratnya akhirnya memecah keheningan, terdengar begitu akrab namun sekaligus berjarak.
Aku tersenyum tipis, berusaha meredam debar di dada yang entah mengapa kembali terasa seperti dulu. "Baik. Hanya sedikit lelah dengan ritme pekerjaan, tapi semuanya berjalan lancar."
Ada jeda yang kembali mengudara di antara kami. Kami sama-sama tahu bahwa kata baik adalah tempat persembunyian paling aman untuk menutupi malam-malam panjang yang dihabiskan untuk sekadar mengenang. Ada ribuan hal yang sebenarnya ingin kuceritakan, tentang kerasnya perjuangan di tanah rantau, tentang tanggung jawab baru yang membuat bahuku terasa lebih berat, dan tentang bagaimana setiap sudut kota ini selalu berhasil memanggil kembali bayangannya. Namun, sore itu, kata-kata tak lagi menjadi pemeran utama. Terkadang, rindu memang tidak butuh dijabarkan lewat kalimat yang panjang. Melihat senyum simpulnya kembali hadir tepat di hadapanku, mendengarkan hela napasnya yang tenang, rasanya sudah cukup untuk membayar lunas segala sesak yang selama ini tertahan.