BAB 15
MAKNA DUA GARIS
Malam-malam setelah pengakuan itu bergulir seperti mimpi yang enggan usai. Setiap detik terasa lebih lambat, lebih berat, dan dipenuhi oleh keheningan yang bicara lebih banyak daripada kata-kata. Kami mencoba berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, namun di balik tawa tipis dan obrolan tentang pekerjaan di toko, ada rahasia yang berdenyut di rahimku, menuntut untuk diakui oleh dunia. Hingga akhirnya, fakta itu benar-benar menghentakkan jiwa kami. Bukan lagi sekadar kecemasan dalam bisikan, tapi sebuah realitas yang tak bisa lagi ditawar.
Dunia seolah berhenti berputar saat hasil itu terpampang nyata. Aku menatap pantulan diriku di cermin kamar kos. Aku, yang selama ini dikenal sebagai gadis yang gigih mengejar gelar Cum Laude, yang kini memegang tanggung jawab sebagai seorang kasir tiba-tiba merasa begitu kerdil. Taufik berdiri mematung di sudut ruangan. Lelaki yang selalu punya kata-kata penenang itu kini kehilangan suaranya. Wajahnya pias. Aku bisa melihat badai di matanya, perpaduan antara rasa tidak percaya, ketakutan, dan rasa bersalah yang teramat dalam.
“Bagaimana dengan Bapak dan Mama?” suaraku pecah, nyaris tak terdengar.
Pikiranku langsung terbang ke kampung, Terkhususnya di kolaka, Terbayang wajah lelah Bapak yang pulang dari kebun, dan senyum tulus Mama yang selalu membanggakan anak bungsunya yang sukses di kota. Gelar akuntansi yang kuraih dengan susah payah seolah kehilangan maknanya dalam sekejap. Harapan mereka yang setinggi langit kini terasa seperti beban yang menghimpit dadaku hingga sesak. Taufik melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahuku, namun tangannya bergetar.
“Nadiah... kita akan cari jalan keluarnya,” bisiknya, meski nada suaranya sendiri tidak menunjukkan keyakinan.
Malam itu, kota Makassar terasa lebih dingin dari biasanya. Deru kendaraan di luar sana terdengar seperti ejekan bagi keheningan kami yang mencekam. Kami berada di persimpangan yang paling menakutkan dalam hidup kami. Ada ketakutan akan penghakiman orang-orang, ketakutan akan mengecewakan keluarga yang telah bertaruh segalanya untuk pendidikanku, namun di sisi lain, ada nyawa kecil yang kini mulai bergantung padaku. Jiwa kami terhentak, tersadar bahwa masa depan yang kami susun dalam khayalan kini harus berhadapan dengan badai yang kami ciptakan sendiri.
Keheningan malam itu terasa jauh lebih mencekam daripada suara badai yang sesekali menghantam atap seng. Aku duduk bersimpuh di sudut tempat tidur, memegangi benda kecil yang baru saja mengubah seluruh garis takdirku. Di hadapanku, Taufik masih terdiam, tatapannya kosong menembus dinding kamar yang kusam.
“Aku takut,” bisikku lirih
Suaraku tenggelam di antara isak yang kutahan sekuat tenaga agar tidak terdengar hingga ke kamar sebelah. Taufik perlahan berlutut di depanku, menggenggam tanganku yang sedingin es. “Nadiah, dengarkan aku. Aku tidak akan lari. Aku di sini.”
Namun, kalimat itu tidak cukup untuk meredam gemuruh di dadaku. Pikiranku justru terbang jauh ke rumah panggung kayu tempat Bapak dan Mama beristirahat setelah seharian memeras keringat di kebun. Aku ingat bagaimana bangganya Bapak saat aku mengenakan toga Cum Laude. Aku ingat harapan di mata Mama saat aku pamit untuk mengejar karier di Makassar hingga dipercaya menjadi seorang karyawan toko.