SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #16

FAKTA MENYAKITKAN

BAB 16

FAKTA MENYAKITKAN

         Setelah memutuskan tetap mempertahankan kehamilan Aku merasa kuat dan tidak sendirian karna taufik tidak pernah lari dan hilang seperti yang selalu kukhawatirkan, dia justru menjadi jangkar di tengah badai yang sempat membuatku linglung. Di saat dunia luar terasa begitu menghakimi dan ketakutan akan masa depan menghantui setiap malamku, Taufik hadir dengan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak hanya menjanjikan kehadiran, tapi membuktikannya lewat tindakan kecil yang bermakna besar. Setiap kali mual menyergap di pagi hari, dia sudah siap dengan segelas air hangat dan usapan lembut di punggungku. Saat aku menangis tanpa alasan karena gejolak hormon yang tak menentu, dia hanya duduk di sampingku, membiarkan bahunya menjadi sandaran tanpa banyak menghakimi.

"Kita jalani ini sama-sama," bisiknya suatu sore, sambil menggenggam tanganku erat. Kalimat sederhana itu menjadi mantra yang menghalau keraguanku.

Kehadirannya membuatku sadar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak merasa takut, melainkan berani melangkah meski gemetar, karena tahu ada tangan yang tidak akan pernah melepasmu. Bersamanya, bayi dalam kandunganku bukan lagi sebuah 'beban' yang harus disembunyikan, melainkan sebuah anugerah yang sedang kami perjuangkan keberadaannya.

    Perlahan, rasa malu itu luruh, berganti dengan keberanian baru. Aku mulai menata masa depan, bukan lagi sebagai aku yang sendirian, melainkan sebagai kami yang akan menyambut satu nyawa baru. Taufik membuktikan bahwa tanggung jawab bukanlah soal kata-kata manis di awal, melainkan soal kesetiaan untuk tetap berdiri di tempat yang sama, bahkan saat badai paling kencang sekalipun datang menerjang. Setiap Sepulang kerja, Taufik selalu menungguku di atas motornya, entah berapa kali juga ia bolos masuk kerja hanya karna mengkhawatirkan keadaanmu bahkan kudengar sering kali ia di tegur atasan. Melihat wajahnya yang lelah namun tetap berusaha tersenyum lebar menyambutku, separuh beban di pundakku seolah luruh. Di sepanjang jalan membelah kemacetan Makassar, aku memeluk pinggangnya erat, menyandarkan pipiku di punggungnya yang kokoh.

"Sayang," panggilku lirih di balik deru angin.

"Iya, Nad?"

"Bagaimana kalau nanti orang-orang tahu? Bagaimana kalau Bapak dan Ibu di kampung dengar?"

Taufik terdiam sejenak, namun genggamannya pada tanganku yang melingkar di perutnya semakin mengencang. "Kita akan hadapi satu-satu, Nad. Aku tidak akan membiarkanmu berdiri sendirian di depan mereka. Kalau mereka harus marah, biarlah mereka marah padaku juga. Kita fokus dulu ke kesehatanmu dan si kecil, ya?"

Aku mengangguk, motor melaju menuju kostku. Taufik memutuskan untuk mengantarku pulang karena kondisi ku yang sering kali pusing dan mmual Suasana kamar kos yang biasanya terasa tenang setelah seharian bekerja, tiba-tiba berubah menjadi sunyi yang mencekam. Taufik baru saja masuk ke kamar mandi, meninggalkan jaket dan dompet kulitnya tergeletak begitu saja di atas kasur. Entah dorongan apa yang merasuki pikiranku, mungkin sekadar iseng atau ingin merapikan uang yang terlihat menyembul keluar,aku meraih dompet itu.

Tanganku bergetar saat jemariku menarik sebuah kartu tipis dari selipan plastik bening. Mataku terpaku pada deretan huruf yang tercetak tegas di sana.

Nama: Muhammad Reski

Duniaku seolah berhenti berputar. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, berharap aku salah baca atau itu hanyalah KTP milik kerabatnya yang tertinggal. Namun, foto yang tertera di sana tidak bisa berbohong. Itu adalah wajah yang sama yang baru saja mencium keningku dengan lembut. Wajah yang selama ini kukenal sebagai Taufik, pria yang berjanji akan menjadi ayah dari anakku.

Kenapa namanya Reski?” bisikku pelan, hampir tak terdengar oleh telingaku sendiri.

Rasa dingin mulai merayap dari ujung kaki hingga ke dada. Nama adalah identitas paling mendasar, dan jika itu pun palsu, apa lagi yang selama ini dia sembunyikan dariku? Apakah asalnya dari Bulukumba juga sebuah karangan? Ataukah janji-janjinya selama ini hanyalah bagian dari skenario yang lebih besar?

       Suara kucuran air dari dalam kamar mandi tiba-tiba terdengar seperti dentum martil di kepalaku. Setiap detik yang berlalu terasa menyiksa. Aku masih memegang KTP itu saat pintu kamar mandi terbuka dan uap air tipis keluar menyertai langkahnya. Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sempit. Aku menanti jawaban, sementara jantungku berdegup kencang, takut bahwa pria yang kuanggap sebagai jangkar dalam badai ini ternyata adalah badai itu sendiri. Aku segera memasukkan kembali kartu itu ke tempat asalnya dengan gerakan secepat kilat. Jantungku berpacu begitu kencang hingga rasanya ingin melompat keluar, namun aku berusaha mengatur napas saat mendengar suara pintu kamar mandi berderit tterbuka

       Ternyata, selama ini aku terlalu naif. Sejak awal perkenalan kami melalui aplikasi jodoh itu, aku memang tipe orang yang tidak pernah mau ambil pusing soal detail administratif. Bagiku, kenyamanan dan kehadirannya di sisiku sudah lebih dari cukup. Aku tidak pernah meminta melihat KTP-nya, tidak pernah menyelidiki latar belakang keluarganya secara mendalam, apalagi sampai menyentuh ponselnya. Aku percaya bahwa kepercayaan adalah fondasi, dan mengecek privasi pasangan adalah hal yang tidak penting. Namun, sekeping kartu di dalam dompetnya malam ini meruntuhkan seluruh rasa percaya yang kubangun setinggi langit.

        Aku segera menyelipkan kembali dompet itu ke posisi semula sebelum dia keluar dari kamar mandi. Aku duduk di pinggir kasur, berusaha menormalkan detak jantungku yang berdegup liar. Saat pintu terbuka dan dia melangkah keluar dengan wajah tanpa dosa, aku hanya bisa terdiam.

Kenapa, Nad? Kok mukanya pucat gitu?” tanyanya lembut, tangannya terulur hendak mengusap rambutku.

Aku menghindar secara halus, berpura-pura memperbaiki posisi duduk. “Hanya lelah fik... eh, maksudku, sayang. Pekerjaan di toko hari ini benar-benar menguras energi.”

Aku sengaja tidak meledak. Aku tidak ingin dia tahu bahwa rahasianya sudah terkelupas sedikit demi sedikit di tanganku. Jika aku bertanya sekarang, dia pasti punya seribu alasan untuk mengelak. Aku harus bermain cantik. Aku butuh bukti lain yang lebih kuat dari sekadar nama di KTP.

Lihat selengkapnya