BAB 17
JAWABAN
Setelah mengetahui fakta bahwa taufik berbohong soal identitas aslinya, ketika kami sedang di kostku sepulang bekerja, Aku memberanikan diri bertanya. Suasana di dalam kost ku yang sempit terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Gerah yang menguar dari kipas angin di sudut ruangan seolah tak mampu mengusir hawa dingin yang tiba-tiba menjalar di tengkukku. Taufik atau siapa pun dia sebenarnya, sedang duduk di tepi tempat tidur, sibuk dengan ponselnya, seolah tak ada badai besar yang baru saja menghantam hubungan kami. Aku menarik napas panjang, menahan gemetar di jemariku sebelum akhirnya melangkah mendekat.
"Taufik," panggilku, suaraku terdengar lebih tipis dari yang aku harapkan. Ia mendongak, matanya yang selalu tampak teduh itu kini justru membuatku merasa seperti orang asing.
"Ya? Kenapa, Nadiah?"
"Cukup," sahutku tegas, meski suaraku masih sedikit bergetar. "Berhenti pura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku sudah tahu semuanya. Soal identitasmu, soal alasan kenapa kau selalu menghindar saat aku bertanya tentang keluargamu, dan tentang kebohongan yang kau susun rapi selama ini."
Taufik terdiam. Ia meletakkan ponselnya, namun tidak ada raut terkejut atau panik di wajahnya. Hanya ada kelelahan yang luar biasa, seolah-olah topeng yang ia pakai selama ini memang sudah terlalu berat untuk ia pikul.
"Kenapa, Fik?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. "Kenapa harus berbohong? Apa arti kejujuran buatmu selama ini?"
Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap langit-langit kamar kost yang catnya mulai mengelupas.
"Karena aku takut, Nadiah," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. "Aku takut jika kau tahu siapa aku yang sebenarnya, kau akan melihatku dengan cara yang sama seperti dunia melihatku. Aku takut kau pergi, sebelum sempat mengenal hatiku."
Aku terpaku. Fakta bahwa ia berbohong memang menyakitkan, namun melihatnya serapuh ini membuat kemarahanku perlahan berubah menjadi rasa sesak yang lain.
"Lalu sekarang?" suaraku merendah. "Setelah semua kebohongan ini terbuka, apa kau masih pikir aku akan bertahan?"
Taufik akhirnya menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di sana, takut kehilangan satu-satunya orang yang pernah memberinya harapan. Taufik bangkit berdiri, namun ia tidak melangkah mendekat. Ia mematung di antara pintu kamar dan lemari pakaianku, seolah ada garis tak kasat mata yang kini memisahkan kami.
“Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Nadiah,” suaranya serak. Ia membuang muka, menatap buku-buku yang tersusun rapi di rak milikku, buku-buku yang selama ini menjadi saksi bisu perkembangan draf novelku. “Tapi kebenaran itu... ia memiliki harga yang mahal. Dan aku tidak yakin apakah saat itu aku mampu membayarnya.”
Aku tertawa getir, sebuah suara yang terdengar asing di telingaku sendiri.
“Harga? Jadi, hubungan kita ini bagimu hanyalah sebuah transaksi yang harus disembunyikan di balik identitas palsu? Apakah selama ini kau hanya sedang memerankan naskah yang kau buat sendiri, sementara aku hanyalah tokoh pelengkap yang kau bohongi?”
“Bukan begitu!” sergahnya cepat, kali ini ia menatapku tajam. “Nadiah, dengarkan aku. Jika aku jujur sejak awal, aku tidak akan pernah bisa berada di posisi ini, di kamarmu, berbicara tentang masa depan, atau sekadar menatap matamu tanpa rasa takut akan penghakiman.”
Aku merasakan panas di pelupuk mataku. Kebohongan yang selama ini terkubur dalam-dalam kini meledak, menghancurkan fondasi kepercayaan yang kubangun dengan begitu sabar. “Ketakutanmu itu egois, Fik. Kau melindungi dirimu sendiri dengan mengorbankan perasaanku. Kau membiarkanku jatuh pada seseorang yang ternyata tidak pernah ada.”