BAB 18
JALAN KELUAR
Usia kehamilanku kini telah memasuki bulan kelima, masa-masa di mana janin di dalam rahimku mulai aktif bergerak, seolah ingin menyapa dunia. Meski jarak antara Bantaeng dan Makassar bukanlah waktu yang singkat, Taufik tak pernah sekalipun membiarkan jarak itu terasa sebagai hambatan bagi janin ini dan aku. Setiap pagi, ia berangkat dengan tekad yang sama, bergelut dengan rutinitas pekerjaannya di Bantaeng dari fajar hingga senja. Namun, tepat ketika matahari mulai terbenam dan bayang-bayang panjang mulai menyelimuti jalanan, aku tahu ia sudah dalam perjalanan pulang. Tak peduli seberapa lelah tubuhnya setelah seharian bekerja, ia akan langsung memacu kendaraannya menuju Makassar untuk menemuiku.
Suara deru mesin motor atau mobilnya di depan kost selalu menjadi musik yang paling kutunggu. Begitu pintu terbuka, ia tidak langsung mengeluh soal kemacetan atau penatnya pekerjaan. Hal pertama yang ia lakukan adalah berjalan mendekatiku, meletakkan tas kerjanya dengan asal, lalu berlutut di depanku. Dengan lembut, ia menyentuh perutku yang mulai membuncit, menempelkan telinganya di sana, seolah ingin mendengarkan detak jantung kecil yang menjadi alasan kami untuk terus bertahan.
"Hari ini dia aktif sekali, ya?" tanyanya dengan senyum yang kelelahan namun tulus.
Melihatnya di sana, setelah menempuh perjalanan jauh hanya untuk memastikan aku baik-baik saja, rasa sesak di dadaku perlahan menguap. Ia memberikan seluruh sisa energinya untuk kami. Di tengah tuntutan pekerjaan yang menguras pikiran dan proses perceraian yang masih menggantung, kehadiran Taufik setiap malam adalah satu-satunya pelabuhan yang membuatku merasa aman. Di saat orang lain mungkin memandang jalan yang kami tempuh ini sebagai kesalahan, di malam-malam itu, saat kami berbincang pelan tentang nama untuk si kecil atau sekadar membahas hal-hal sepele, aku merasa bahwa kami sedang menulis bab paling berani dalam hidup kami. Taufik tidak hanya hadir sebagai pasangan, tetapi sebagai sosok yang sedang menebus waktu, sebuah dedikasi yang perlahan membasuh luka-luka masa lalu kami. Setelah perdebatan panjang, kami mengambil keputusan tetap mempertahankan kehamilanku dan Reski berjanji akan menemaniku hingga bayi ini lahir dan mau tidak mau Kami harus resign dari tempat kerja masing-masing. Keputusan itu menggantung berat di udara, seberat napas yang kian memburu seiring membesarnya perutku. Malam itu, di antara kepulan asap kopi yang mulai mendingin, kami akhirnya menyepakati satu hal yang selama ini kami hindari untuk diucapkan: resah yang harus segera diakhiri.
"Aku akan resign bulan depan" ucapku pelan, memecah hening. Keputusanku untuk meninggalkan pekerjaan di toko retail adalah harga yang harus dibayar demi ketenangan janin ini dari segala tekanan lingkungan. Rezki menatapku dalam-dalam, tangannya tak henti mengusap punggung tanganku, seolah mencoba menyalurkan keberanian yang ia sendiri sedang kumpulkan. "Kalau begitu, keputusanku sudah bulat, Nadiah. Aku juga akan melepaskan pekerjaanku di Bantaeng."
Sebuah hembusan napas lega namun pilu terasa memenuhi ruangan. Rezki menatapku dengan sorot mata yang penuh janji. "Aku akan pindah ke Makassar. Aku akan mencari pekerjaan baru di sini, apa pun itu, asalkan aku bisa berada di sampingmu setiap hari. Kita akan tinggal bersama sampai bayi ini lahir ke dunia."
Keputusan itu terasa seperti melompat dari tebing yang tinggi, meninggalkan kenyamanan finansial yang selama ini kami miliki demi menata hidup yang benar-benar milik kami. Kami memilih untuk menanggalkan jabatan dan rutinitas, memilih untuk hidup dalam kesederhanaan di bawah satu atap, hanya agar kami bisa merajut masa depan yang utuh bagi si kecil. Malam itu, keputusan tersebut menjadi pengikat janji baru. Kami tidak lagi berbicara soal pelarian, melainkan soal keberanian untuk memulai dari nol. Meski bayang-bayang ketidakpastian ekonomi di depan mata, setidaknya kami tidak lagi terpisah oleh jarak. Sambil menatap perutku yang kini menjadi pusat semesta kami, kami tahu satu hal: selama kami berada di rumah yang sama, setiap tantangan yang datang setelah ini adalah sesuatu yang akan kami hadapi dengan tangan yang saling bertaut.