SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #19

KEHARUSAN

Bab 19

KEHARUSAN

        Hari-hari berikutnya diisi dengan kesibukan baru yang cukup menyita perhatian. Rezki mulai serius menyisir informasi lowongan kerja di Makassar. Pilihannya jatuh pada sebuah supermarket bahan bangunan dan perlengkapan rumah terbesar di Sulawesi. Toko itu adalah raksasa di industri tersebut; sebuah destinasi one-stop shopping yang menyediakan segalanya, mulai dari semen dan besi untuk konstruksi dasar, keramik lantai yang estetik, perlengkapan kamar mandi modern, hingga peralatan rumah tangga canggih.

​"Nadiah, lihat ini," tunjuknya pada layar ponsel suatu malam. "Mereka sedang membuka posisi sales. Dengan luasnya area toko dan ribuan produk yang mereka pajang, kurasa ini tempat yang tepat untukku. Mereka menawarkan konsep renovasi hingga konstruksi dalam satu atap, jadi pasarnya sangat luas."

​Aku melihat antusiasme di matanya, meski aku tahu ada rasa cemas yang ia sembunyikan. Selama beberapa hari, ia sibuk merapikan berkas-berkas lamaran, mencetak sertifikat pengalaman kerjanya, dan memastikan setiap detail pengalaman retailnya tertulis dengan menonjol. Aku membantunya menyiapkan pakaian yang paling rapi, kemeja  yang ia setrika hingga tidak ada satu pun lipatan, meskipun sebenarnya hatiku terasa sedikit nyeri setiap kali kami membahas masa depan yang ia rancang.

​       Hari wawancara tiba. Aku bersikeras untuk ikut menemaninya. Sepanjang perjalanan menuju toko yang megah itu, aku bisa merasakan tangannya yang dingin di balik kemudi. Begitu sampai di depan gedung besar yang memamerkan berbagai desain interior dan eksterior di etalase kacanya, Rezki menarik napas panjang.

​"Tunggu aku di sini," katanya sebelum melangkah masuk ke ruang HRD.

​Aku menunggunya di area tunggu yang berdekatan dengan deretan contoh lantai granit dan perlengkapan dapur modern. Di sekelilingku, para pelanggan terlihat sibuk memilih material bangunan, mulai dari cat dinding hingga lampu gantung yang estetik. Aku memperhatikan Rezki dari kejauhan saat ia masuk ke ruangan wawancara, tampak percaya diri namun tetap rendah hati. Aku duduk di salah satu kursi, tanganku mengusap perut yang semakin buncit, membayangkan apakah di masa depan, tempat seperti ini akan menjadi saksi tempat tinggal impian yang ia rancang bukan bersamaku, melainkan bersama keluarganya yang asli. Satu jam berlalu dengan terasa sangat lambat. Akhirnya, pintu ruangan terbuka. Rezki keluar dengan wajah yang sulit ditebak, namun langkahnya terasa lebih ringan. Saat ia sampai di hadapanku, ia tidak langsung bicara, hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya memegang bahuku.

​"Mereka tertarik dengan pengalamanku di tempatku sebelumnya," bisiknya penuh rasa syukur.

​Malam harinya, saat kami sedang duduk di teras kecil kontrakan yang mulai kami tempati bersama, ponsel Rezki bergetar. Sebuah notifikasi email masuk. Matanya membelalak, lalu ia membacakan isinya dengan suara bergetar karena senang. Ia diterima. Mulai minggu depan, ia akan resmi menjadi bagian dari tim sales di sana.

​"Kita berhasil, Nadiah," ujarnya, suaranya penuh haru.

​Ia memelukku erat, merayakan pencapaian kecil yang baginya adalah langkah besar menuju kehidupan baru kami. Aku membalas pelukannya, memejamkan mata rapat-rapat. Ia menganggap ini adalah awal dari masa depan kami, sementara aku tahu, ini hanyalah satu langkah kecil lagi menuju garis finish yang sudah kususun diam-diam. Aku tersenyum tipis, membiarkan kebahagiaannya menjadi milikku sesaat, sebelum perpisahan itu nanti benar-benar menjemput.

         Malam itu, setelah kabar baik tentang pekerjaan Rezki, suasana di dalam kamar kost yang sempit terasa menyesakkan. Aku menatap tas-tas yang belum tersentuh, lalu beralih pada Rezki yang tampak begitu lega. Di sela-sela kebahagiaannya, aku memberanikan diri mengucapkan kalimat yang sudah kupendam sepanjang sore.

​"Rezki, aku juga memutuskan berhenti hari ini," ucapku pelan, mataku tertuju pada lantai. "Aku tidak sanggup lagi, fisikku sudah tidak bisa diajak kompromi. Besok, aku ingin kita segera pindah."

Lihat selengkapnya