SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #20

SUKA DUKA SEATAP

BAB 20

SUKA DUKA SEATAP

          Hari pertama Rezki bekerja di supermarket bahan bangunan itu terasa sangat berbeda. Suasana kamar kost bercat hijau yang biasanya sunyi di pagi hari, kini berubah menjadi penuh dengan kesibukan kecil yang manis. Sejak subuh, aku sudah berkutat di area dapur yang sempit, memastikan setiap suapan yang ia bawa ke tempat kerja adalah hasil masakanku sendiri. Aku ingin memberikan yang terbaik, meski hanya dengan bahan-bahan sederhana yang bisa kubeli di pasar dekat kost. Kucium aroma tumis sayur yang mengepul saat aku menyusunnya ke dalam kotak bekal berwarna biru. Rasanya, aku sedang menjalankan sebuah peran yang selama ini hanya bisa kuimpikan: seorang istri yang menyiapkan segala kebutuhan suaminya sebelum ia berangkat mencari nafkah.

​      Saat Rezki keluar dari kamar mandi dengan kemeja yang sudah kusetrika rapi semalam, ia terdiam melihatku yang sedang sibuk membungkus bekalnya. Ia mendekat, lalu dengan lembut memelukku dari belakang, menaruh dagunya di bahuku.

​"Nadiah, kamu tidak perlu repot-repot setiap pagi," bisiknya lembut.

​Aku hanya tersenyum, berbalik menatap matanya yang memancarkan ketulusan luar biasa. "Ini bukan repot, Rezki. Ini caraku mendukungmu. Lagipula, makan masakan rumah jauh lebih hemat daripada kamu harus jajan di luar setiap hari. Kita perlu menabung lebih banyak untuk biaya persalinan nanti."

​Aku menyodorkan kotak bekal itu ke tangannya. Ia menerimanya, lalu mengecup keningku lama sekali. Ada rasa hangat yang menjalar di hatiku, namun di saat yang sama, rasa perih menyusup pelan. Aku melayaninya dengan sepenuh hati, menyemir sepatunya hingga mengkilap, merapikan kerah bajunya, dan memastikan tas kerjanya sudah lengkap dengan dokumen yang ia perlukan. Aku melakukannya selayaknya istri yang berbakti, seolah ikatan kami adalah sesuatu yang abadi, padahal aku tahu betul bahwa peran ini hanyalah sandiwara yang memiliki masa kedaluwarsa.

​       Saat ia akhirnya melangkah keluar pintu, ia mengecup keningku dan kedua pipiku, lalu sebelum berangkat ia menoleh kembali padaku dan melambaikan tangan dengan senyum yang begitu cerah. Aku berdiri di depan pintu, menyaksikan punggungnya perlahan menjauh hingga hilang di tikungan gang. Aku menutup pintu dengan perlahan, lalu menyandarkan punggungku di baliknya. Keheningan kembali menyergap. Aku telah memulainya dengan sempurna membuatnya merasa dicintai dan dirawat di tengah keterbatasan kami. Namun, semakin baik aku melayaninya, semakin dalam rasa bersalah yang menusuk, karena aku tahu kehangatan yang kubangun hari ini hanyalah bentuk persiapan untuk perpisahan yang akan kuciptakan sendiri nanti. Rezki adalah sosok yang penuh dengan kontradiksi. Di satu sisi, ia adalah pria yang sangat penyayang; ia mampu menatapku selama berjam-jam saat aku terlelap, mengusap perutku dengan kelembutan yang membuatku merasa menjadi wanita paling berharga di dunia. Namun, di balik kehangatan itu, ada sisi gelap yang sering kali membuat suasana di kamar kost hijau ini mendadak mencekam. Ia adalah pria yang sangat pencemburu. Kecemburuannya sering kali tidak masuk akal, meledak tanpa peringatan hanya karena aku terlalu lama membalas pesan atau sekadar menyapa tetangga kost saat menjemur pakaian. Meski ia tidak pernah sekalipun main tangan, ia tidak pernah menyentuhku dengan kasar atau membiarkan amarahnya berubah menjadi kekerasan fisik, emosinya yang tak terkendali adalah belenggu lain yang harus kuhadapi.

​“Jangan ke mana-mana, Nadiah. Cukup di kamar saja,” ucapnya suatu pagi dengan nada yang tidak bisa dibantah.

​Sejak kami memutuskan tinggal bersama dan ia mulai bekerja di supermarket bahan bangunan itu, aturan-aturan tak tertulisnya semakin diperketat. Ia melarangku keluar rumah tanpa izinnya, bahkan untuk urusan belanja kebutuhan dapur yang sederhana. Ia merasa bahwa dengan menjagaku tetap di dalam kamar, ia bisa memilikiku seutuhnya, bebas dari gangguan dunia luar yang menurutnya penuh dengan ancaman terhadap hubungan kami. Aku sering kali merasa terperangkap. Kebebasanku dipangkas, ruang gerakku dibatasi, dan setiap langkahku diawasi oleh rasa posesifnya yang kian hari kian menjadi-jadi. Ia memaksaku untuk sepenuhnya bergantung padanya, tidak mengizinkanku bekerja, meskipun secara fisik aku merasa masih mampu melakukan sesuatu yang ringan.

​“Aku hanya ingin melindungimu,” dalihnya selalu, setiap kali aku mencoba mempertanyakan kebebasanku yang hilang.

​Aku menatapnya saat ia berangkat kerja tadi, merasa bahwa hubungan ini bukan lagi sekadar pelarian atau cinta yang tulus, melainkan sebuah kurungan yang indah namun sesak. Ia mencintaiku dengan caranya yang dominan, memanjakanku dengan perhatian, namun sekaligus memenjarakanku dengan kecemburuan yang mencekik. Di kamar kost yang sempit ini, aku belajar bahwa mencintai Rezki berarti menyerahkan seluruh kedaulatan diriku padanya. Aku tetap melayaninya dengan patuh, menyiapkan bekal, memastikan pakaiannya rapi, karena aku tahu, setiap kali aku melawan, badai emosinya akan jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada sekadar menuruti semua keinginannya yang membatasi.

Meski Rezki adalah pria dengan emosi yang sulit ditebak dan kecemburuan yang sering kali membatasi ruang gerakku, aku tidak bisa memungkiri bahwa ia memiliki cara yang sangat tulus untuk menunjukkan kasih sayangnya. Baginya, kebahagiaanku adalah segalanya, dan ia akan melakukan apa saja untuk melihatku tersenyum, meskipun dengan cara-cara yang sederhana. Seperti sore ini, ketika ia pulang dengan wajah yang berseri-seri. Dengan bangga, ia mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah dari saku kemejanya. “Tadi ada customer yang kubantu mempacking barang belanjaannya dengan rapi, dia memberi uang terima kasih,” ujarnya dengan mata berbinar.

​Tanpa menunggu persetujuanku, ia langsung menarik tanganku. “Ayo, kita makan Coto Makassar yang enak itu. Kamu harus makan yang bergizi untuk si kecil.

​Kami pun menaiki motornya, membelah hiruk-pikuk kota Makassar. Di atas motor, ia sering kali memintaku melingkarkan tangan di pinggangnya, seolah ingin memastikan aku selalu berada dalam dekapannya. Kami berkeliling kota, melewati jalan-jalan yang ramai hingga sudut-sudut kota yang mulai temaram. Bagiku, momen-momen itu adalah pelarian sesaat dari rasa sesak di kamar kost hijau kami. Makan semangkuk Coto yang hangat di pinggir jalan, mendengar celotehnya tentang apa saja yang terjadi di supermarket bangunan itu, semua terasa begitu nyata dan manis.

Lihat selengkapnya