SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #21

MENCARI PENGADOPSI

BAB 21

MENCARI PENGADOPSI

    Aku bertanya pada dinding-dinding kamar kost yang lembap ini, apakah dosa mencintai milik orang lain? Jika iya, mungkin ia adalah sesak yang selalu kurasakan setiap kali matahari terbit di balik atap seng Seringkali Makassar. Aku, Nadiah, kini hidup dalam simulasi sebuah keluarga. Di siang hari, aku adalah selayaknya pemeran istri yang menyiapkan bekal dengan tangan gemetar; di malam hari, aku adalah seorang ibu yang sedang merajut perpisahan paling sunyi di dunia. Rezki adalah pria yang mencintaiku dengan cara yang menyesakkan, ia menuntut seluruh waktuku, menutup aksesku ke dunia luar, dan memenjarakanku dalam kecemburuan yang ia sebut sebagai pelindung. Ia bekerja keras di supermarket bahan bangunan, membawa pulang keringat dan harapan, percaya bahwa kamar sempit ini adalah fondasi yang kokoh untuk masa depan kami. Ia tidak tahu bahwa setiap kali ia menutup pintu kost dan melangkah pergi, aku tidak sedang menunggu kepulangannya dengan rasa rindu yang murni. Aku sedang menatap jendela, bukan untuk mencari pemandangan, melainkan untuk mencari jalan keluar bagi nyawa kecil yang kini menendang-nendang di dalam perutku.

Bayi perempuan ini. Cahaya kecil di tengah kegelapan dosa kami. Rezki mencintainya dengan obsesi yang menakutkan, ia membayangkan masa depan yang gemilang untuk anak itu di sampingnya. Namun, aku adalah orang yang realistis, mungkin terlalu realistis hingga terasa kejam. Aku tahu bahwa di kamar ini, dengan Rezki yang masih terikat masa lalu dan aku yang tak punya apa-apa, anak kami hanya akan mewarisi kepahitan.

Dunia Rezki mungkin dibangun di atas kerja kerasnya, namun duniaku dibangun di atas fondasi yang lebih rapuh. Aku tidak bisa membiarkan putriku tumbuh di sini, melihat bagaimana ayahnya berjuang menutupi kebohongan dan bagaimana ibunya hancur perlahan. Aku harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang akan membuat Rezki membenciku seumur hidupnya, namun akan membuat putriku berterima kasih di masa depan. Saat Rezki melangkah pergi pagi ini, meninggalkan aroma maskulin yang tertinggal di bantal, aku menyalakan ponselku. Layar yang retak itu menjadi satu-satunya jembatan menuju dunia yang lebih baik bagi anakku. Dengan napas yang tertahan, aku mulai masuk ke aplikasi, menyaring setiap profil orang asing yang menawarkan masa depan. Inilah saatnya aku berhenti menjadi istri yang berbakti dan mulai menjadi seorang ibu yang siap melepaskan segalanya demi satu tujuan: memastikan putriku tidak pernah harus mencicipi rasa lapar akan kasih sayang yang mapan atau beban hidup yang tak tertanggungkan.

Begitu pintu kamar kost tertutup rapat dan deru motor Rezki menjauh di ujung gang, napasku yang tadinya tertahan perlahan terlepas. Inilah saatnya. Di balik layar ponsel yang retak, aku tidak lagi mencari lowongan pekerjaan atau hiburan. Jemariku dengan teliti menyusuri forum-forum adopsi yang tersembunyi, grup-grup komunitas, dan kontak-kontak yang menjanjikan kerahasiaan.bAku tidak mencari sembarang orang. Aku mencari kehidupan baru bagi putriku, sebuah kehidupan yang tidak akan pernah ia dapatkan jika bersamaku atau jika harus memikul beban rahasia masa lalu Rezki. Setiap kali ada yang merespons pesanku, jantungku berdegup kencang. Aku meminta foto rumah mereka, menanyakan apa pekerjaan mereka, dan yang paling penting, apa visi mereka terhadap pendidikan. Ada banyak pasangan yang menghubungiku dengan janji manis, namun saat kulihat latar belakang mereka, ada yang tidak stabil secara emosional, ada yang hanya menginginkan anak sebagai pengikat hubungan hingga kadang aku langsung memblokir mereka. Aku tidak akan membiarkan putriku jatuh ke tangan yang salah.

Aku berupaya keras mencari sosok orang tua yang mapan. Aku ingin ia tumbuh di rumah dengan rak buku yang penuh, di mana diskusi tentang masa depan adalah hal biasa, bukan diskusi tentang bertahan hidup di petak kamar hijau yang pengap ini. Aku mendambakan sosok orang tua yang memiliki finansial yang aman, yang mampu memberikan pendidikan terbaik agar kelak ia tidak perlu bergantung pada siapa pun, apalagi merepotkan orang lain.

"Kamu harus menjadi orang hebat," bisikku pada perutku yang mulai terasa berat. "Ibu tidak bisa memberimu nama belakang yang bisa kau banggakan, tapi Ibu akan memastikan kau mendapatkan lingkungan yang bisa membentukmu menjadi perempuan yang tangguh."

Satu per satu profil kupelajari. Aku mencatat nama-nama mereka, menelusuri jejak digital mereka jika bisa, memastikan bahwa mereka bukanlah orang yang hanya sekadar "ingin". Aku mencari keluarga yang benar-benar mendambakan seorang anak untuk dicintai, bukan sekadar pelengkap status. Terkadang, saat aku sedang asyik memilah kandidat, Rezki tiba-tiba mengirim pesan singkat atau menelepon, menanyakan apakah aku sudah makan siang. Aku akan segera menutup aplikasi itu, membersihkan riwayat pencarian, lalu menjawab dengan suara yang dibuat seceria mungkin agar ia tidak curiga. Perasaan bersalah terkadang menghantamku sekuat ombak. Rezki mungkin sedang memeras keringat di supermarket bangunan sana, membayangkan masa depan putrinya di bawah asuhannya, sementara aku diam-diam sedang menyusun skenario untuk "menghilangkan" bayi ini dari jangkauannya setelah lahir nanti.

Aku tahu, ini adalah pengkhianatan yang paling kejam terhadap Rezki. Namun, bagiku, ini adalah satu-satunya bentuk kasih sayang tertinggi yang bisa kuberikan pada bayi ini. Aku sedang menyiapkan jaring pengaman agar ia tidak jatuh terlalu dalam ke jurang yang sama dengan orang tuanya. Aku sedang merajut jalan keluar, bahkan saat Rezki sedang sibuk menenun mimpi-mimpi yang sebenarnya sudah mulai kubakar pelan-pelan di belakang punggungnya. Malam-malam di kamar kost bercat hijau itu selalu menjadi panggung sandiwara yang paling melelahkan. Saat Rezki pulang kerja, tubuhnya mungkin lelah, namun matanya selalu berbinar saat menatap perutku. Namun, alih-alih menyembunyikan rencanaku, aku justru memilih cara yang lebih menyakitkan: aku melibatkan Rezki dalam setiap detail pencarianku, meski dengan memutarbalikkan fakta.

"Sayang, tadi aku melihat profil keluarga baru lagi di grup," ucapku pelan saat kami duduk di lantai, menyantap sisa bekal makan siangnya yang kubuat lebih banyak tadi pagi.

Rezki meletakkan sendoknya, perhatiannya langsung terpusat padaku. "Keluarga yang seperti apa lagi, Nadiah?"

Aku menunjukkan layar ponselku, sebuah foto profil keluarga yang tampak mapan, dengan latar belakang rumah yang asri dan detail pendidikan yang mengagumkan. "Lihat ini. Mereka dokter. Finansialnya sangat stabil, mereka punya visi pendidikan yang luar biasa untuk anak. Aku merasa... mungkin mereka adalah jawaban atas doa-doaku agar anak kita nanti tidak kekurangan apa pun."

Rezki terdiam. Ia menatap layar ponsel itu dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada gurat ketidaksukaan yang tersirat, namun aku segera mendekatinya, mengusap lengannya dengan lembut. "Sayang, aku hanya ingin yang terbaik. Aku tidak ingin dia hidup susah seperti kita sekarang. Aku tidak ingin dia merasakan beratnya hidup tanpa kepastian."

Setiap malam, aku selalu membacakan daftar "kandidat" orang tua angkat itu kepadanya. Aku menceritakan betapa berpendidikannya mereka, betapa amannya kondisi finansial mereka, dan bagaimana mereka bisa memberikan jaminan masa depan yang cerah. Aku memposisikan pencarian ini seolah-olah kami sedang "merencanakan masa depan" anak kami secara kolektif, padahal aku tahu betul bahwa Rezki sebenarnya menelan kepahitan setiap kali aku menyebut kata 'adopsi'.

Lihat selengkapnya