BAB 22
ALLEA QUEENSHA XHAVIERRA. R
Langit sore itu berwarna jingga yang memudar, seolah ikut meredup bersama keputusanku yang baru saja tuntas. Rezki masih terduduk diam di sudut ruang, punggungnya bergetar samar. Sisa isak tangis yang ia coba redam sejak kami menyetujui kesepakatan itu dengan Fitria dan Surya. Aku melangkah mendekati meja kayu tua tempat buku catatan kecilku bersandar. Di sinilah, di tengah keheningan yang menyiksa, aku harus mencari nama untuk malaikat kecil yang bahkan belum kunjung menyapa dunia. Nama yang tidak hanya sekadar panggilan, melainkan sebuah doa dan sebuah perpisahan yang sudah diatur sejak awal.
Jemariku membolak-balik lembaran kertas, mencari susunan huruf yang terasa lembut namun punya kekuatan.
Arumi. Nama itu terlintas pertama kali. Arumi, yang berarti harum atau wangi. Aku ingin ia tumbuh membawa kebaikan ke mana pun ia melangkah, menebarkan ketenangan layaknya bunga yang mekar di musim kemarau, meski ia tidak akan tumbuh di bawah atap yang sama denganku.
Kanaya. Aku menuliskan nama itu perlahan. Kanaya, yang berarti seseorang yang memiliki jalan hidup yang tenang. Sesuatu yang sangat kuharapkan bagi putriku kelak, hidup yang jauh dari badai yang kini sedang aku dan Rezki arungi. Ia berhak mendapatkan kehidupan yang damai, yang mungkin tidak bisa kami janjikan jika ia tetap bersamaku.
Salsabila. Nama yang selalu mengingatkanku pada mata air di surga. Aku ingin putriku menjadi sumber kesejukan bagi Fitria dan Surya, menjadi jawaban atas doa-doa yang mungkin mereka panjatkan selama bertahun-tahun lamanya.
Aku menatap tulisan tanganku sendiri. Setiap coretan tinta hitam di atas kertas putih itu terasa seperti beban yang perlahan berpindah. Nama-nama ini bukan sekadar identitas, tapi adalah bentuk kasih sayang terakhir yang bisa aku berikan sebelum aku harus belajar melepaskan.
Rezki mendekat, bayangannya jatuh di atas meja. Ia tidak bertanya, hanya meletakkan tangannya di bahuku, mencoba menyalurkan kekuatan di tengah keputusan yang merobek hati kami ini.
“Mana yang menurutmu paling pas untuknya?” suaraku tercekat, berusaha menjaga agar air mataku tidak jatuh membasahi daftar nama yang baru saja kubuat.
Rezki menarik napas panjang, tatapannya lekat menatap punggungku sebelum akhirnya ia meletakkan kedua tangannya di bahuku dengan lembut. Suaranya rendah, nyaris berbisik namun sarat akan kepasrahan yang mendalam.
“Nadiah,” ucapnya pelan. “Untuk urusan nama, aku berikan kuasa sepenuhnya padamu. Kamu yang mengandungnya, kamu yang merasakan detaknya setiap hari. Pilihlah nama yang menurutmu terbaik, yang bisa menjadi doa paling tulus untuknya saat ia melangkah jauh dari kita nanti.”
Mendengar itu, hatiku mencelos. Tanggung jawab ini terasa begitu berat, namun juga menjadi cara bagiku untuk mencurahkan semua harapan yang tersisa.