BAB 23
KABAR DUKA DI
KEHAMILAN 7 BULAN
Kehamilan tujuh bulan yang harusnya menghindari segala pikiran dan prasangka buruk terasa seperti musim dingin yang berkepanjangan di dalam rumah kontrakan kami yang sempit. Perutku semakin membuncit, membawa beban kehidupan yang kian nyata, namun di saat yang sama, rasa rindu pada rumah di kampung mulai menggerogoti jiwaku setiap malam. Aroma tanah basah setelah hujan di kampung halaman, suara deburan arus sungai yang samar dari kejauhan, hingga tawa khas Bapak di meja makan, semuanya kini hanyalah memori yang menyiksa.
Seperti rutinitas pelarianku, aku membuka aplikasi Instagram lewat akun fake yang selama ini menjadi jendelaku menuju dunia yang telah kutinggalkan. Aku tidak berani menggunakan akun utamaku; terlalu banyak risiko, terlalu banyak pertanyaan yang tak ingin kujawab. Dengan jari gemetar, aku mencari akun Kak Niswah dan Ibu. Aku hanya pengamat bayangan di sini, seorang buronan dari takdirnya sendiri. Awalnya, semua tampak biasa. Foto-foto pemandangan, unggahan makanan, atau sekadar kutipan bijak. Namun, sebuah unggahan di story Kak Niswah dua hari lalu membuat jantungku berhenti berdetak. Itu adalah foto suasana kamar nenek yang remang-remang, botol infus yang menggantung, dan jemari renta yang tampak begitu kurus memegang tasbih. Tidak ada wajah, namun aku mengenali selimut cokelat itu. Itu selimut rajutan Nenek.
Nenek sakit.
Duniaku seolah berputar. Aku segera mengirim pesan singkat pada Kak Niswah melalui akun fake itu, bertanya dengan menyamar sebagai teman lama yang sekadar ingin tahu kabar. Jawaban yang kudapat menghancurkan pertahanan terakhirku: Nenek sudah kritis, dan yang paling menyakitkan, Kak Niswah dan Ibu dengan sengaja merahasiakan kondisi nenek dan keberadaanku dari Bapak serta keluarga lainnya di kampung. Mereka takut Bapak yang masih murka karena pelarianku akan semakin tersulut jika mengetahui aku mengirim kabar, atau justru malah menambah beban pikiran bagi Nenek yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Mereka takut Nenek akan pergi dengan membawa penyesalan tentang anak perempuannya yang memilih jalannya sendiri.
Tiga hari berlalu dalam kecemasan yang mencekik. Aku terus memantau setiap update dengan napas tertahan, berharap ada keajaiban. Aku tidak bisa makan, hanya bisa menatap langit-langit, membayangkan wajah Nenek yang keriput namun teduh. Rezki mencoba memberikan perhatian lebih. Ia sering kali mendapati aku sedang menangis diam-diam di sudut kamar. Ia akan membelai perutku, mencoba menenangkan Allea yang seolah merasakan kegelisahan ibunya, namun ia pun tak tahu harus berkata apa. Kami berdua sama-sama terjepit dalam realita yang kejam.
Tepat pada dini hari, ketika hujan turun dengan menderu di luar jendela, notifikasi itu muncul di layar ponselku. Sebuah unggahan foto kain kafan dengan tulisan singkat di latar hitam: Selamat jalan, Nek. Terima kasih atas segala cinta dan pelajaran hidup.
Dunia seolah runtuh tepat di atas kepalaku. Aku tidak menjerit. Suaraku tercekat, seolah ribuan jarum menusuk kerongkonganku. Aku hanya bisa terduduk di lantai, mendekap perutku erat-erat sementara air mata mengalir deras tanpa suara. Isak tangis itu keluar begitu saja, memilukan, menghancurkan keheningan malam yang sunyi. Rezki terbangun karena guncangan tubuhku yang tak terkontrol. Ia mendekat, memelukku dari belakang, mencoba meredam getaran hebat di bahuku. "Nadiah... tenanglah," bisiknya, suaranya parau menahan tangis. Ia tahu arti Nenek bagiku. Ia tahu bahwa ini bukan sekadar kehilangan seorang kerabat, melainkan kehilangan separuh jiwaku yang tersisa di kampung halaman.
"Nenek, Rezki... Nenek sudah pergi," suaraku hanya berupa bisikan patah-patah yang tertelan isak. "Dia pergi tanpa aku bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Mereka tidak memberitahuku, mereka membiarkanku seperti orang mati bagi keluarga sendiri."
Aku ingin pulang. Aku ingin sekali berlari ke kampung halaman, menempuh jarak ratusan kilometer, bersimpuh di kaki Bapak, memohon maaf di depan pusara Nenek, dan memeluk Ibu untuk terakhir kalinya. Namun, aku tak bisa. Kehamilanku yang menginjak tujuh bulan, kondisi keuangan kami yang compang-camping, serta ketakutan akan amarah Bapak yang belum juga reda dan kenyataan bahwa kini aku harus menyiapkan diri untuk menyerahkan Allea, putriku menjadi tembok raksasa yang mustahil kulewati.
Aku terjebak. Di dalam ruangan sempit ini, aku hanya bisa menangisi kepergian orang yang paling menyayangiku, tanpa bisa memberikan penghormatan terakhir secara langsung. Aku membayangkan suasana di sana: Bapak yang mungkin terduduk kaku dengan mata sembab, Ibu yang menangis tersedu, dan saudara-saudaraku yang sibuk mengurus pemakaman, sementara aku, anak perempuan yang mereka anggap telah pergi, hanya bisa meratap di depan layar ponsel yang dingin. Rezki memelukku semakin erat, membiarkan dadanya menjadi tempatku menumpahkan segala sesak. "Kita akan berdoa, Nadiah. Kita akan kirimkan doa terbaik untuk beliau. Aku tahu ini sakit, tapi Allea di dalam sana... dia butuh ibunya yang kuat."