BAB 24
PERTEMUAN DENGAN
FITRIA DAN SURYA
Bulan ini, bulan yang seharusnya membawa musim semi bagi hidupku, kini terasa seperti penghitungan mundur menuju sebuah perpisahan yang tak terelakkan. Perutku sudah sangat besar, menegang setiap kali Allea bergerak, seolah ia pun tahu bahwa waktunya untuk "pindah rumah" semakin dekat. Sesuai janji, Fitria dan suaminya, Surya, telah mengabarkan akan datang tepat dua minggu sebelum hari perkiraan lahir.
Siang ini, denting notifikasi ponselku berbunyi. Pesan dari Fitria masuk dengan nada yang ceria: “Nadiah, kami sudah sampai di area kontrakannmu.
Jantungku berdegup kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena rasa sesak yang luar biasa menghimpit dada. Aku melirik ke arah pintu. Rezki sudah berangkat kerja sejak pagi tadi. Ia tidak bisa mengambil off hari ini; beban pekerjaan di tempat kerjanya sedang menumpuk, dan setiap rupiah yang ia hasilkan adalah napas bagi kehidupan kami yang serba terbatas. Aku benar-benar harus menghadapi mereka sendirian. Aku bergegas merapikan ruangan yang sempit itu. Memastikan debu di meja hilang, melipat kain sarung yang berantakan, dan mencoba menyulap tempat ini agar tampak layak bagi seorang tamu yang akan membawa pergi harta paling berharga dalam hidupku. Tak lama, ketukan di pintu terdengar, ketukan yang mantap dan penuh antusiasme.
Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, aku membukanya.
Di sana, Fitria berdiri dengan senyum yang begitu tulus, didampingi Surya yang membawa beberapa tas besar berisi perlengkapan bayi yang tampak premium. Mereka tampak sangat bersiap, sangat penuh harapan, dan jujur saja, mereka tampak sangat... berhak.
"Nadiah, ya ampun, akhirnya kita bertemu langsung," ujar Fitria dengan suara lembut yang menenangkan, langsung meraih tanganku dengan hangat. Sentuhannya terasa begitu halus, kontras dengan jemariku yang kasar karena pekerjaan rumah tangga. Surya mengangguk sopan di belakangnya, matanya sempat menatap perutku yang membuncit dengan tatapan yang sulit kuartikan, campuran antara haru, rasa tidak sabar, dan sebuah komitmen yang mendalam.
"Silakan masuk, Mbak Fitria, Mas Surya," ucapku, suaraku sedikit bergetar. Aku berusaha keras untuk tidak membiarkan getaran itu terdengar seperti isak tangis.
Mereka masuk ke ruang tamu yang hanya seluas beberapa langkah itu. Kontras sekali melihat mereka, yang berpakaian rapi dan harum, berdiri di dalam ruangan yang sederhana dan pengap ini. Fitria segera duduk di sampingku, menatapku dengan perhatian yang belum pernah kudapatkan selama kehamilanku.
"Maaf ya, Rezki sedang kerja. Dia benar-benar tidak bisa meninggalkan shift hari ini," jelasku, merasa perlu memberi alasan atas ketidakhadiran suamiku. Aku merasa bersalah membiarkannya pergi, karena setidaknya, keberadaan Rezki bisa menjadi perisai bagiku.
Fitria tersenyum maklum, matanya menyiratkan pengertian yang dalam. "Tidak apa-apa, Nadiah. Kami mengerti. Lagipula, justru lebih baik kita bisa bicara berdua, ya kan? Dari hati ke hati."
Aku mengangguk kaku, berusaha menahan air mata yang mendesak di pelupuk mata. Di depan mereka, aku merasa begitu kecil, begitu rapuh, seolah-olah aku hanyalah sebuah wadah yang sedang dipinjam oleh semesta untuk kemudian diambil isinya. Mereka datang sebagai "penyelamat" bagi putriku, orang-orang yang mampu memberikan kehidupan jauh lebih baik daripada yang bisa kuberikan tapi bagi diriku, mereka adalah malaikat maut yang akan membawa pergi bagian dari nyawaku.
Fitria mulai mengeluarkan beberapa baju bayi kecil dari tas yang mereka bawa. Warna-warnanya lembut: putih tulang, merah muda pastel, dan kuning gading. Ia memegang satu baju kecil itu dengan jemari yang gemetar karena haru. "Allea," bisiknya lembut, menyebut nama yang kuberi untuk bayiku. "Kami sudah menyiapkan segalanya untuknya. Kami ingin dia merasa sangat dicintai sejak hari pertama dia menghirup napas dunia."
Mendengar nama itu disebut oleh orang lain, nama yang kurangkai dengan air mata, yang kupilih setelah berjam-jam menatap video kecerdasan Xhavierra di layar ponsel membuat dadaku terasa sesak. Aku hanya bisa mengangguk, berusaha tersenyum, meski di dalam hati aku sedang menjerit. Hari ini, perpisahan itu bukan lagi sekadar wacana. Ia sudah ada di depan mata, duduk di sofa yang sama denganku, membawa perlengkapan yang nantinya akan dikenakan oleh putriku.
Surya mencoba mencairkan suasana dengan obrolan ringan tentang cuaca dan perjalanan mereka, namun aku hanya bisa menjawab sekenanya. Pikiranku melayang ke masa depan, di mana Allea tidak lagi menendang di rahimku, melainkan tertidur di dekapan Fitria. Aku menatap perutku sendiri, membisikkan kata maaf tanpa suara pada bayi yang tidak tahu apa-apa itu.
"Nadiah," panggil Fitria pelan, menyentuh lututku. "Kamu tidak perlu takut. Kami tahu ini keputusan yang sangat berat. Tapi percayalah, Allea akan tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah. Kami sudah menganggapnya sebagai putri kami sendiri sejak hari pertama kami setuju untuk menjadi orang tua angkatnya."
Aku menelan ludah yang terasa pahit. Putri kalian. Kata itu menghantam telak. Aku tersesat dalam keheningan yang menyiksa, menyadari bahwa tak lama lagi, ruang sempit ini akan kembali sunyi, dan rahimku akan kembali hampa. Aku hanyalah perantara. Aku hanyalah jalan bagi Allea untuk sampai pada orang yang tepat. Aku berusaha menguatkan diri. Aku tidak boleh hancur di depan mereka. Aku tidak boleh membiarkan mereka merasa bersalah atas kesepakatan yang telah kami buat. Aku memaksakan sebuah senyuman, meski terasa sangat kaku di wajahku. "Terima kasih, Mbak Fitria. Saya tahu... saya tahu kalian akan menjadi orang tua yang luar biasa untuknya."
Saat itu, aku menyadari satu hal: menjadi seorang ibu bukan hanya tentang melahirkan, tapi juga tentang keberanian untuk melepaskan demi kebaikan yang lebih besar. Meskipun hatiku hancur berkeping-keping, aku harus tetap teguh, demi Allea, dan demi janji yang telah kutuliskan di akun Instagramku yang sunyi itu. Hari ini adalah awal dari akhir, dan aku harus melaluinya dengan kepala tegak. Suasana di dalam ruang tamu yang sempit itu seketika berubah menjadi lebih serius namun penuh perhatian. Fitria menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah perpaduan antara kecemasan dan kasih sayang yang mendalam.
"Nadiah," ucap Fitria pelan sambil menggenggam tanganku, "Bagaimana kalau hari ini kita ke dokter? Kami ingin memastikan kondisi kamu dan Allea benar-benar sehat sebelum hari besar itu tiba. Kami ingin menemanimu melakukan USG terakhir."
Aku sempat ragu. Selama ini, aku hanya memeriksakan kandungan di bidan dekat kontrakan karena keterbatasan biaya. Membayangkan masuk ke rumah sakit besar dengan peralatan canggih membuatku merasa rendah diri. Namun, Surya meyakinkanku dengan suara yang kebapakan. "Jangan khawatir soal biayanya, Nadiah. Kami hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua."
Akhirnya aku setuju. Kami bertiga berangkat menuju salah satu rumah sakit swasta ternama di kota ini. Sepanjang perjalanan di dalam mobil mereka yang nyaman dan sejuk, aku hanya terdiam menatap ke luar jendela, memikirkan Rezki yang sedang bekerja keras tanpa tahu bahwa hari ini Aku sedang dikelilingi oleh calon orang tua angkat anaknya. Sesampainya di rumah sakit, aroma khas obat-obatan dan kesibukan lorong putih menyambut kami. Fitria dengan sigap mengurus semua administrasi, sementara aku hanya duduk menunggu di kursi tunggu yang empuk, merasa asing dengan kemewahan ini. Saat namaku dipanggil, jantungku berdegup kencang.
Di dalam ruang periksa, aku berbaring di atas ranjang. Dokter mulai mengoleskan gel dingin di perutku yang besar, lalu menggerakkan alat pemindai itu. Di layar monitor, siluet Allea muncul. Dia tampak begitu tenang, detak jantungnya terdengar seperti suara derap kuda yang gagah, begitu kuat dan berirama.
"Lihat itu, Mbak Fitria, Mas Surya," dokter itu tersenyum sambil menunjuk ke layar. "Bayinya sangat aktif dan posisinya sudah sangat bagus."