BAB 25
SELAMAT DATANG DI DUNIA PUTRI PERTAMAKU
Tanggal 15 September 2025 menjadi hari yang tak akan pernah kulupakan. Setelah beberapa hari ia kukurung dalam kecemburuanku, setelah berhari-hari aku memintanya langsung pulang demi meredam rasa takut dan sepiku, Rezki akhirnya meminta izin dengan sangat halus. Ia ingin sedikit menghirup udara luar bersama teman-teman kerjanya dari supermarket bangunan. Melihat wajahnya yang lelah namun penuh harap, aku luluh. Aku mengiyakan, meski ada secuil firasat yang tak enak di sudut hati. Begitu deru motornya menjauh, kesunyian kamar kost kembali menyergap. Untuk menenangkan batin yang bergejolak karena duka atas kepergian Nenek yang masih basah di ingatan, aku menyalakan ponsel. Suara merdu murrotal Surah Yusuf dan Maryam memenuhi ruangan, mengalun lembut menjadi doa-doa yang kupanjatkan untuk bayi perempuan di rahimku. Aku berharap, kelak ia memiliki kemuliaan dan ketabahan seperti nama-nama dalam surah tersebut.
Namun, sekitar jam 10 malam, ketenangan itsebelumn Sebuah rasa sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya mendadak menghujam pinggang bawahku, menjalar hingga ke perut bagian depan. Perutku mengencang hebat, sekeras batu. Aku mencoba mengatur napas, berpikir mungkin ini hanya kontraksi palsu. Tapi tidak. Rasa itu datang lagi, lebih tajam, lebih teratur. Aku mengerang, mencengkeram sprei ranjang kusam kami hingga jemariku memutih. Aku gemetar. Tanganku meraih ponsel, mencoba menghubungi Rezki berkali-kali. Namun, tempat nongkrongnya berada di pinggiran Makassar yang cukup jauh, dan kebisingan tawa bersama teman-temannya pasti menenggelamkan nada dering dariku. Setiap menit terasa seperti satu jam. Aku sendirian di kamar ini, berteman dengan rasa sakit yang kian memuncak, sementara pria yang kuharapkan menjadi pelindungku sedang asyik dengan dunianya di luar sana. Namun Aku tak menyalahkannya, Berhati-hari priaku itu menemani ku tanpa henti, kebetulan saja pas Malam ini dia keluar, Aku harus merasakan kontraksi.
Aku terus meringkuk, keringat dingin membasahi dasterku. Kontraksi itu kini datang setiap sepuluh menit sekali. Aku hanya bisa berbisik lirih menyebut nama Tuhan, memohon agar bayi ini bertahan sampai ayahnya pulang. Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika aku mendengar suara kunci diputar dengan terburu-buru. Pintu terbuka, dan Rezki masuk dengan wajah pucat pasi. Ia baru menyadari puluhan panggilan tak terjawab dariku. Saat ia melihatku tergeletak lemas di lantai dengan napas tersengal, semua kegembiraannya sirna, digantikan oleh ketakutan yang luar biasa.
"Nadiah! Maafkan aku, sayang... maafkan aku!" teriaknya panik. Ia segera mengangkat tubuhku yang terasa sangat berat karena beban kehamilan tujuh bulan dan rasa sakit yang luar biasa.
Tanpa sempat berganti pakaian, ia membawaku keluar dari kost. Di bawah langit malam Makassar yang dingin dan sepi, ia memacu motornya secepat yang ia bisa menuju rumah sakit terdekat. Aku mendekap perutku erat-erat, di antara rasa sakit yang menyiksa, aku hanya bisa melihat punggung Rezki yang gemetar karena rasa bersalah. Di balik rasa sakit ini, aku menyadari satu hal: waktu yang kutakutkan itu akhirnya tiba lebih cepat dari yang kurencanakan. Perjalanan menuju rumah sakit ini bukan hanya perjuangan untuk kelahiran, tapi awal dari babak akhir kebersamaan kami.Di tengah hantaman gelombang sakit yang kian menderu, jemariku yang gemetar mencari satu nama di kontak ponsel: Fitria. Aku menekan tombol panggil berkali-kali. Dalam setiap nada sambung yang terdengar, aku berbisik dalam hati, Tolong angkat, ini waktunya. Di panggilan ketiga, suara lembut Fitria menyahut, terdengar cemas sekaligus terjaga. Aku hanya mampu mengerang lirih, “Kak... saya di rumah sakit. Bayinya mau keluar.”
Setelah itu, duniaku seolah berputar cepat. Rezki membantuku turun di lobi IGD dengan wajah yang sangat pucat. Aku melihat ketakutan yang hebat di matanya, namun ada sesuatu yang lebih pahit dari sekadar rasa takut: rasa rendah diri. Begitu perawat datang membawa kursi roda dan menanyakan identitas serta kartu keluarga, Rezki tertegun. Ia mundur selangkah. Ia tahu benar posisinya. Di mata hukum dan rumah sakit ini, dia bukan siapa-siapa bagiku.
“Aku tunggu di luar, Nadiah,” bisiknya parau, suaranya nyaris tenggelam oleh bising suara petugas medis. “Aku di parkiran. Panggil aku kalau ada apa-apa.”
Aku menatap punggungnya yang menjauh, sosok pria yang telah menemaniku di kamar kost hijau itu kini tampak begitu asing dan kecil di koridor rumah sakit yang luas. Dia memilih menepi ke kegelapan parkiran, menyembunyikan diri dari tatapan menghakimi dunia, sementara aku harus menghadapi pertarungan ini sendirian di dalam. Di ruang observasi, seorang perawat dengan cekatan melakukan pemeriksaan dalam. Rasa tidak nyaman yang tajam membuatku memejamkan mata erat-erat.
“Sudah pembukaan empat, Bu,” ujar perawat itu tenang. “Ketubannya sudah mulai merembes. Kita harus segera bersiap, apalagi ini sudah bulannya. Kita harus bergerak cepat
Mendengar kata “pembukaan empat”, jantungku mencelos. Segalanya terjadi begitu cepat. Di usia delapan bulan, putriku sudah tidak sabar ingin melihat dunia yang penuh noda ini. Aku berbaring di atas ranjang rumah sakit yang dingin, menatap langit-langit putih yang silau, sementara di luar sana, Rezki mungkin sedang mondar-mandir di antara deretan motor, tidak tahu bahwa proses ini sudah berjalan sejauh ini. Aku kembali meraih ponsel, mengirim pesan singkat pada Fitria dan Surya.”Saya sudah di ruang bersalin. Pembukaan empat.”
Setiap tarikan napasku kini adalah doa. Doa agar Fitria dan Surya segera tiba untuk menjemput masa depan putriku, dan doa agar Rezki diberikan kekuatan untuk melepaskan apa yang sebenarnya sejak awal tidak pernah bisa ia miliki. Di ruang yang sunyi ini, aku menyadari bahwa detik-detik menuju kelahiran adalah detik-detik menuju akhir dari segala sandiwara yang kupendam di kamar kost hijau kami. Tak lama kemudian, sosok yang kunantikan muncul di ambang pintu ruang perawatan. Fitria datang dengan gurat cemas yang tak bisa disembunyikan, didampingi Surya yang tampak sigap membawa tas besar berisi perlengkapan bayi yang telah mereka siapkan jauh-jauh hari. Melihat mereka, ada rasa lega yang aneh menjalar di dadaku, sebuah kepastian bahwa di tengah kekacauan ini, ada tangan-tangan yang siap menyambut putriku dengan layak.
Sesuai kesepakatan rahasia kami, mereka langsung mengambil alih urusan administrasi dan segala keperluan medis. Fitria mendekat, menggenggam tanganku yang dingin. “Tenang, Nadiah. Kami sudah di sini. Semuanya akan baik-baik saja,” bisiknya menguatkan.
Aku teringat pada Rezki. Pria itu masih di luar, meringkuk di antara deretan motor di parkiran rumah sakit, terombang-ambing dalam rasa bersalah dan ketidakpastian. Aku tidak ingin dia melihat proses ini lebih jauh. Aku tidak ingin dia semakin terikat secara emosional pada momen yang seharusnya menjadi awal perpisahan kami. Aku meraih ponselku dan mengirimkan pesan singkat kepadanya.
“Sayang, pulanglah ke kost. Istirahatlah. Di sini sudah ada teman yang menemaniku dan mengurus administrasi. Tidak usah menunggu di parkiran, udara malam tidak baik untukmu. Nanti kalau ada kabar terbaru, aku beritahu.”
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar. Rezki membalas dengan nada ragu, “Benarkah? Aku merasa tidak tenang meninggalkanmu sendirian di sana, Nadiah.”
“Tidak apa-apa, Sayang. Kamu perlu tenaga untuk bekerja besok. Pulanglah,” balasku tegas.
Aku tahu dia merasa kalah. Pulang ke kamar kost yang kosong dalam kondisi seperti ini pasti sangat menyiksanya. Namun, bagiku, ini adalah cara untuk mulai memutus ikatan itu secara perlahan. Aku ingin dia menjauh dari hiruk-pikuk persalinan ini agar ia tidak terlalu hancur saat kenyataan pahit itu benar-benar tiba. Setelah Rezki mengabarkan bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang, aku menarik napas panjang, mencoba fokus pada pembukaan yang kian bertambah. Di ruangan ini kini hanya ada aku, Fitria, dan Surya, tiga orang yang sedang berkonspirasi melawan takdir demi satu nyawa kecil.
“Terima kasih, Kak, Mas,” ucapku lirih di tengah kontraksi yang kembali datang.
Fitria hanya tersenyum tulus sambil mulai mengeluarkan baju-baju bayi mungil dari tasnya, baju-baju mahal yang harum, yang jauh lebih bagus dari apa pun yang pernah kubayangkan di kost sempit kami. Saat itu, aku tahu keputusanku sudah bulat. Biarlah Rezki tidur di kostan dengan mimpinya, sementara di sini, aku sedang menyerahkan seluruh duniaku kepada orang yang lebih mampu menjaganya. Lampu ruang persalinan yang benderang terasa begitu menyilaukan mata, kontras dengan suasana hatiku yang kian meredup. Fitria setia di sampingku, menggenggam tanganku erat, membantuku mengatur napas yang kian pendek dan tersengal. Kontraksi itu datang lagi dan lagi, lebih dahsyat dari sebelumnya, seolah-olah tubuhku sedang dihancurkan dari dalam.
Di antara erangan kesakitan, bibirku tak berhenti melafazkan ayat-ayat dari Surah Maryam. Aku membayangkan ketabahan Maryam saat menghadapi ujiannya sendirian, mencoba mencari kekuatan yang sama. Namun, kelelahan yang teramat sangat mulai mengambil alih. Tenagaku habis, tubuhku terasa lumpuh, dan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Jam demi jam berlalu, tapi putriku seolah masih enggan untuk menyapa dunia yang rumit ini.