SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #26

KETERPAKSAAN KAMI

BAB 26

KETERPAKSAAN KAMI

      Setelah merasa sedikit bertenaga, hal pertama yang kulakukan adalah meraih ponsel. Dengan jemari yang masih gemetar, kukirimkan satu foto Allea yang baru saja tertidur pulas. Tak butuh waktu lama, ponselku bergetar. Rezki menelepon dengan suara yang pecah oleh tangis haru. "Dia cantik sekali, Nadiah... mirip sekali denganku," bisiknya parau. Aku bisa merasakan kebanggaan dan kerinduan yang meluap dari balik speaker itu. Tanpa menunggu lama, ia bergegas kembali ke rumah sakit, mengabaikan rasa lelahnya demi melihat keajaiban yang selama ini kami nantikan. Namun, suasana hangat yang kubayangkan akan tercipta saat Rezki tiba, justru berubah menjadi beku.

​     Begitu Rezki melangkah masuk ke ruangan dengan wajah yang berseri-seri sekaligus cemas, aku melihat perubahan raut wajah Fitria dan Surya. Tidak ada senyum sambutan. Yang ada hanyalah tatapan dingin dan gestur tubuh yang seolah ingin membatasi ruang gerak Rezki. Saat Rezki mendekat ke arah ranjang bayi dengan mata berkaca-kaca, ia membungkuk kecil, hendak mendaratkan ciuman pertama yang sangat ia dambakan di kening putrinya. Namun, belum sempat bibirnya menyentuh kulit lembut Allea, Fitria tiba-tiba bergerak maju dan menarik bedong bayi itu menjauh.

​"Jangan dekat-dekat dulu!" sentak Fitria dengan nada yang tajam, membuat kami semua tersentak.

​"Kenapa, Kak?" tanya Rezki bingung, tangannya masih menggantung di udara.

​"Kamu bau asap rokok! Bahaya sekali untuk bayi yang baru lahir seperti ini. Kamu tidak tahu apa kalau residu rokok itu mematikan buat paru-paru bayi?" Fitria menatap Rezki dengan pandangan menghakimi, seolah Rezki adalah pembawa wabah di ruangan itu.

​Aku tertegun. Dadaku berdenyut sakit melihat wajah Rezki yang seketika berubah pasi. Aku tahu persis, Rezki sama sekali bukan perokok. Bahkan menyentuh batang rokok pun tidak pernah karena ia sangat menjaga staminanya untuk bekerja. Tuduhan itu bukan hanya salah sasaran, tapi terasa seperti cara yang sengaja dibuat-buat untuk merendahkan harga diri Rezki di depan anak kandungnya sendiri. Rezki hanya bisa terdiam, tangannya perlahan turun dan mengepal di sisi tubuhnya. Ia menunduk, tampak begitu kecil dan terhina di hadapan pasangan "sempurna" ini.

​Saat itulah, rasa syukurku terhadap Fitria mulai terkikis oleh rasa tidak suka yang baru. Aku mulai melihat sisi lain darinya, sebuah rasa memiliki yang melampaui batas, hingga ia merasa berhak menghapus keberadaan ayah biologis bayi ini. Harusnya ia mengerti, meski kontrak adopsi akan segera berjalan, Rezki adalah pria yang telah menjagaku dan bayi ini selama sembilan bulan di kamar kost yang sempit. Rezki adalah alasan bayi ini ada di dunia.

​      Melihat Fitria yang terus bersikap protektif secara berlebihan dan memandang rendah Rezki, hatiku mulai berontak. Aku sadar, kecerdasan dan gelar sarjana yang ia miliki ternyata tidak menjamin adanya empati. Ia ingin mengambil Allea, tapi ia tidak mau menerima kenyataan dari mana Allea berasal. Di detik itu, aku mulai meragu; apakah benar aku telah menyerahkan putriku ke tangan yang tepat, atau aku baru saja menyerahkannya pada seseorang yang akan menghapus sejarah hidup anakku dengan cara yang kejam?

    Rezki yang semula diam dengan kepala tertunduk, tiba-tiba mendongak. Sorot matanya yang sembab kini memancarkan kemarahan yang tenang namun sangat tajam. Tuduhan palsu soal asap rokok itu rupanya menjadi batas akhir kesabarannya sebagai seorang lelaki.

Lihat selengkapnya