BAB 27
PERPISAHAN YANG MENYAKITKAN
Hari ketiga di rumah sakit seharusnya menjadi hari yang membahagiakan, hari di mana seorang ibu melangkah keluar dengan bayi dalam dekapan. Namun bagiku, setiap langkah menuju pintu keluar adalah langkah menuju kehampaan yang nyata. Tubuhku memang sudah diizinkan pulang, tapi jiwaku tertinggal di boks bayi yang kini kosong itu. Allea, putri kecilku yang baru menghirup udara dunia selama tiga hari, kini sudah berada dalam gendongan Fitria. Aku melihat betapa sigapnya Fitria mengemas perlengkapan bayi yang mewah itu ke dalam mobil Surya. Mereka bergerak dengan efisiensi yang dingin, seolah-olah sedang membereskan urusan administrasi yang sudah selesai, bukan sedang membawa pergi separuh nyawaku.
Semenjak malam yang penuh ketegangan itu, malam di mana Rezki diusir dengan tuduhan asap rokok yang keji, ia tak pernah lagi muncul di rumah sakit. Berkali-kali aku menatap pintu kamar, berharap sosoknya yang lelah namun penuh kasih itu muncul, tapi yang ada hanyalah kekosongan. Aku tahu dia sakit hati. Dia tidak hanya terluka oleh kata-kata Fitria dan Surya, tapi mungkin dia juga kecewa padaku yang tak berdaya mempertahankan posisinya sebagai seorang ayah. Rasa perih di jahitan fisikku tak sebanding dengan perih yang menyayat dada saat menyadari satu hal: Allea akan dibawa pergi jauh dari jangkauanku, dan ia pergi tanpa pernah merasakan ciuman pertama sekaligus terakhir dari ayah kandungnya. Rezki tidak sempat membisikkan kata perpisahan, tidak sempat menghirup aroma rambut bayinya, dan tidak sempat membuktikan bahwa ia sangat mencintainya meski dunia menganggapnya tak layak.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Makassar, suasana terasa begitu menyesakkan. Fitria dan Surya terus berbicara, memberikan saran yang lebih terdengar seperti titah yang tak bisa dibantah. Mereka memintaku untuk tidak kembali ke kostan hijau itu. Mereka menyarankan atau lebih tepatnya mendesak agar aku tinggal di kost Kak Niswah saja, menjauh dari Rezki, dan memulai hidup yang “bersih” seolah sembilan bulan kemarin tidak pernah terjadi.
( Ket : dulu seminggu sebelum aku meninggalkan kost kak Niswah dia sedang di kampung karena sakit yang di derita, tetapi mendengar kabar akan kepergianku, karna kondisinya sudah membaik, dia memutuskan bekerja kembali. Aku masih bisa bersyukur karena ketika aku harus berhenti bekerja dan pergi dari kost, kak Niswah langsung di beri kesehatan seolah-olah Tuhan memberkatinya kesembuhan untuk mengganti peran ku).
(Lanjutan)
Aku hanya bisa terdiam, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tubuhku terlalu lelah untuk melawan, dan batinku terlalu hancur untuk sekadar berargumen. Mau tidak mau, aku mengikuti kemauan mereka. Aku membiarkan mereka mengantarku menuju kost kakakku, meninggalkan sisa-sisa hidup yang kubangun bersama Rezki. Namun, ada satu hal yang membuat hatiku benar-benar seperti disayat sembilu di sepanjang perjalanan itu. Di kursi tengah, bukan aku yang mendekap Allea. Bukan pula Fitria yang sedang menimang-nimangnya. Sosok yang menggendong putriku dengan begitu erat adalah ibu dari Fitria. Aku duduk tak jauh dari mereka, namun rasanya ada jarak ribuan kilometer yang memisahkan aku dengan darah dagingku sendiri.
Setiap kali Allea menggeliat kecil atau mengeluarkan suara halus, ibu Fitria akan mengusap pipinya dengan penuh kasih sayang, seolah itu adalah cucu kandungnya sendiri. Pemandangan itu sungguh ironis. Di saat aku, ibu biologisnya, masih merasakan nyeri di sekujur tubuh karena melahirkannya, hak untuk memangkunya pun seakan sudah dirampas bahkan sebelum kami sampai di tujuan. Aku merasa seperti orang asing di dalam mobil itu. Aku hanya “perantara” yang baru saja menyelesaikan tugasnya dan kini sedang diantarkan pulang ke tempat asalku. Melihat bagaimana Allea didekap oleh orang lain, sementara Rezki bahkan tidak tahu ke mana aku akan dibawa pergi, membuat dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas.
“Sabar ya, Nadiah. Ini semua demi kebaikanmu juga. Di tempat Kak Niswah, kamu akan lebih terjamin,” suara Fitria memecah keheningan, namun tak sedikit pun memberikan ketenangan.
Suara deru mesin mobil yang halus seolah menjadi latar belakang yang kontras dengan hiruk-pikuk pikiranku. Di sepanjang jalan menuju kost Kak Niswah, suasana di dalam kabin mobil itu mendadak berubah menjadi penuh rencana masa depan, masa depan yang tak lagi melibatkan aku.
Fitria menoleh ke arah ibunya yang masih setia mendekap Allea, lalu beralih menatap Surya dengan mata yang berbinar. "Mas, nanti sore atau besok kita langsung ke mall ya? Kita harus beli baju-baju baru yang lebih bagus untuk Allea. Aku sudah lihat-lihat koleksi bayi di Uniqlo, bahannya lembut sekali, pasti cocok untuk kulit Allea yang bersih ini," ucapnya dengan nada penuh semangat.
Surya mengangguk setuju, sesekali melirik ke arah kaca spion tengah. "Iya, Sayang. Kita beli semua kebutuhannya. Allea ini spesial sekali. Di keluargaku, dia akan jadi anak pertama, cucu pertama, dan keponakan pertama. Ibuku sudah tidak sabar ingin membelikan macam-macam di rumah nanti."
Fitria menyahut dengan bangga, "Sama, Mas. Di keluargaku pun begitu. Dia akan jadi pusat perhatian semua orang. Semua orang akan memanjakannya."