SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #28

DILEMA SETELAH PERPISAHAN

BAB 28

DILEMA SETELAH PERPISAHAN


      Sehari setelah pintu mobil itu tertutup dan membawa Allea pergi, duniaku mendadak kehilangan gravitasi. Aku terbangun di kamar kost Kak Niswah dengan perasaan hampa yang begitu mencekam. Refleks tanganku langsung meraba perut yang kini telah mengempis, lalu beralih mencari-cari suara rengekan halus yang biasanya memecah sunyi. Namun, yang kudengar hanyalah detak jam dinding yang seolah mengejek kesendirianku. Aku hanya bisa menangis. Air mata itu mengalir tanpa permisi, terus menerus hingga kulit di sekitar mataku terasa perih dan panas. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan Allea yang terlelap dalam dekapan ibu Fitria kembali muncul, menyayat ulu hatiku. Mataku sudah sangat sembab, bengkak hingga nyaris sulit untuk dibuka, namun isak tangis itu tak kunjung usai.

​      Dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel. Hanya satu yang kuinginkan: mengetahui apakah Allea sudah menyusu dengan baik? Apakah dia menangis semalaman? Apakah dia merasa asing di rumah megah itu? Apakah dia cocok dengan susu formula mahal yang di belikan Fitria?

​Kucoba mengirim pesan pada Fitria. “Kak, bagaimana kabar Allea? Apa dia sudah minum susu?”

​Satu jam berlalu. Tidak ada balasan. Centang satu.

​     Aku mencoba menelepon, namun nada sambung itu tidak pernah terdengar. Hatiku mencelos. Aku mencoba mengirim pesan melalui aplikasi lain, namun profilnya mendadak hilang. Saat itulah kenyataan pahit itu menghantamku: Fitria telah menutup semua akses. Dia benar-benar memutus jembatan itu. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, setelah selembar kertas tanpa materai itu kutandatangani dalam kondisi tak berdaya, dia tidak lagi merasa perlu menganggapku ada. Aku yang kemarin dia sanjung sebagai ibu yang mulia karena mau berkorban, kini diperlakukan layaknya orang asing yang berbahaya bagi masa depan putrinya sendiri. Bahkan untuk menanyakan kabarku saja, sepertinya dia sudah tidak peduli.

​"Kenapa secepat ini, Kak?" bisikku lirih di tengah isak yang kian menyesakkan. "Aku hanya ingin tahu kabarnya... aku hanya ibunya..."

​       Rasa sesak itu kian memuncak saat aku menyadari bahwa aku kini berada di posisi yang sama dengan Rezki. Aku telah memblokir Rezki, dan sekarang Fitria memblokirku. Ini adalah hukum tabur tuai yang paling instan dan paling menyakitkan yang pernah kurasakan. Aku meringkuk di atas kasur, memeluk bantal erat-erat, mencoba mencari sisa-sisa aroma bayi yang mungkin masih tertinggal di dasterku. Namun yang tercium hanyalah bau obat rumah sakit dan aroma duka yang pekat. Di luar, matahari bersinar terik menyinari Makassar, namun di dalam kamar ini, aku merasa sedang terkubur hidup-hidup dalam penyesalan yang tak punya ujung. Aku kehilangan anakku, aku kehilangan Rezki, dan sekarang, aku bahkan kehilangan hak untuk sekadar mendengar kabar napas putriku sendiri.

      Di tengah isak tangis dan rasa sepi yang menghimpit, ponselku tiba-tiba bergetar. Sebuah nomor baru yang tidak kukenal muncul di layar. Dengan harapan kecil bahwa itu mungkin kabar dari Fitria, aku segera mengangkatnya.

​"Nadiah..."

​Suara itu. Suara parau yang sangat kukenali, suara yang selama setahun ini menjadi tempatku bersandar. Itu Rezki. Rupanya ia tidak menyerah begitu saja; ia menggunakan nomor baru demi bisa menembus dinding blokir yang kubangun.

​"Nadiah, aku mohon, kembalilah. Kita cari Allea sama-sama. Aku tidak bisa hidup tanpamu dan anak kita. Aku akan urus semuanya, aku akan cari jalan keluarnya," bujuknya dengan nada yang sangat putus asa. Mendengar suaranya, pertahananku nyaris runtuh. Ada bagian dari diriku yang ingin menjerit, memintanya datang dan membawaku pergi dari lubang hitam ini.

​       Namun, di tengah rasa perih itu, akal sehatku tiba-tiba menghantam dengan keras. Aku teringat pada kenyataan pahit yang selama ini kucoba tutupi dengan cinta: Rezki bukan milikku seutuhnya. Di luar sana, ada seorang istri dan dua anak yang juga membutuhkannya. Ada sebuah rumah tangga yang akan hancur jika aku membiarkan diriku egois.

​"Cukup, Rezki. Cukup," bisikku dengan suara bergetar. "Allea sudah pergi. Dan kita... kita memang tidak seharusnya bersama sejak awal."

​"Tapi aku mencintaimu, Nadiah! Aku mencintai Allea!" teriaknya dari seberang telepon.

Lihat selengkapnya