BAB 29
AKANKAH KAU KEMBALI NAK?
Setelah Aku kembali ke kostan hijau ini, Aku Kerala seperti memasuki ruang waktu yang berbeda. Rezki membuktikan kata-katanya; ia memperlakukanku dengan sangat luar biasa. Ia menyiapkan air hangat untukku mandi, membelikan makanan bergizi, dan memastikan aku tidak mengangkat beban berat sedikit pun. Melihat ketulusannya merawat lukaku, demi Tuhan, aku percaya dia teramat mencintaiku. Di matanya, aku melihat penyesalan sekaligus keinginan besar untuk menebus semua kekacauan kemarin. Siang itu, udara Makassar terasa sangat terik, menambah rasa lemas di tubuhku yang masih dalam masa pemulihan. Karena pengaruh obat dan kelelahan batin yang luar biasa, aku jatuh tertidur dengan sangat lelap di kamar kost. Aku tidak sadar bahwa ponselku dalam mode diam, dan beberapa panggilan dari Rezki tak terjawab.
Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka dengan kasar mengejutkanku. Aku tersentak bangun dengan jantung berdebar kencang. Di ambang pintu, berdirilah Rezki. Napasnya memburu, peluh membanjiri wajahnya, dan seragam kerjanya tampak kusut. Rupanya, ia nekat pulang di jam istirahat kantornya hanya karena aku tidak mengangkat telepon.
Ia menatapku lekat-lekat, tanpa suara. Dalam diamnya itu, aku melihat sesuatu yang sangat rapuh: ketakutan yang teramat dalam. Tatapan matanya seolah-olah baru saja melihat hantu, atau lebih tepatnya, seolah ia baru saja kehilangan dunianya untuk kedua kali. Ia mengira aku telah kabur lagi, meninggalkannya sendirian di tengah puing-puing kenangan kami. Aku terduduk di pinggir kasur, menatap balik lelaki itu dengan penuh tanda tanya. "Ada apa? Kenapa pulang?" tanyaku lirih.
Rezki tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mendekat dan terduduk lemas di lantai dekat kakiku, seolah kekuatannya baru saja pulih setelah melihatku masih ada di sana.
Di saat itulah, sebuah pikiran pahit melintas di kepalaku. Aku menatap pantulan diriku di cermin lemari yang kusam. Aku melihat wanita yang menyedihkan, wajahku pucat, mataku sembab permanen, dan tubuhku kurus kering karena beban pikiran yang tak kunjung usai. Aku merasa tidak ada lagi sisa-sisa kecantikan atau daya tarik dalam diriku.
Apa yang sebenarnya ia pertahankan dariku? tanyaku dalam hati.
Dunia Rezki di luar sana luas. Di tempat kerjanya, di jalanan kota ini, ia bisa dengan mudah menemukan wanita lain yang jauh lebih cantik, lebih segar, dan pastinya tidak membawa beban masa lalu serumit aku. Namun, ia justru berdiri di sini, gemetar ketakutan hanya karena aku tidak menjawab telepon selama satu jam. Ia mempertahankan aku seolah-olah aku adalah harta paling berharga, padahal aku merasa seperti rongsokan yang sudah hancur. Saat itu aku menyadari, bagi Rezki, aku bukan sekadar wanita; aku adalah satu-satunya saksi hidup dari cinta dan kehilangan yang kami lalui bersama. Aku adalah satu-satunya orang yang memegang potongan hatinya yang tersisa dari Allea.
"Aku cuma ketiduran, Rezki," ucapku pelan, sambil mengulurkan tangan menyentuh bahunya yang masih naik-turun.
Ia hanya memegang tanganku erat-erat, seolah takut jika ia melepasnya sedetik saja, aku akan menguap bersama udara siang itu. Di kamar kost yang sunyi itu, aku mulai mengerti bahwa cinta Rezki mungkin memang sudah melampaui logika tentang kecantikan fisik. Ia mencintai lukaku, karena luka itu juga miliknya. Namun, di tengah perhatian manis itu, kenyataan pahit tetap berdiri kokoh seperti tembok raksasa. Bayangan bahwa dia adalah pria beristri dan ayah dari dua anak lainnya selalu menghantuiku setiap kali ia terlelap di sampingku. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungku berdegup kencang karena takut itu adalah panggilan dari dunianya yang "asli". Aku merasa seperti pencuri yang menikmati kebahagiaan di atas reruntuhan hidup wanita lain.
Hingga suatu pagi, ketika Rezki sudah berangkat bekerja ke supermarket bangunan, aku memantapkan hati. Aku membuka Facebook dan mencari akun kakak kandung perempuan Rezki. Dengan jemari gemetar, aku mengirimkan pesan panjang, sebuah pengaduan sekaligus pengakuan dosa. Aku menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Aku menceritakan hubungan kami, kesalahan yang kami perbuat, hingga puncaknya: bagaimana aku rela menyerahkan Allea kepada orang lain semata-mata karena aku tidak ingin merusak rumah tangga Rezki dan istrinya. Aku ingin dia membantuku lepas dari lingkaran ini. Aku sudah siap jika kakak Rezki akan memaki, menghujat, atau mengutukku sebagai perusak hubungan orang.
Namun, balasan yang kuterima justru membuat pertahananku runtuh seketika.
"Nadiah... kenapa kamu tidak bicara dari awal? Di mana anak itu sekarang? Ke mana kalian memberikannya?
Bukannya amarah, aku justru merasakan empati yang luar biasa dari ketikannya. Kakaknya sama sekali tidak menghakimiku. Ia justru terkejut dan merasa sangat sedih mendengar keberadaan darah daging adiknya ada di tangan orang asing.