SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA

Khaerun Nadiah
Chapter #30

IKHLAS YANG DI PAKSAKAN

BAB 30

IKHLAS YANG DI PAKSAKAN

     Setelah kami semua sepakat untuk mengambil Allea kembali. Aksi keluarga Rezki semakin gencar. Setelah Ibu dan Kakaknya, kini adik Rezki yang juga sudah berkeluarga turut turun tangan. Ia menghubungi Fitria secara pribadi, berbicara dari hati ke hati sebagai sesama wanita yang sudah merasakan kehidupan berumah tangga.

​"Mbak Fitria, saya mohon dengan sangat," pinta adik Rezki dengan nada rendah namun tegas. "Tolong carikan bayi lain yang memang tidak diinginkan orang tuanya. Keponakan saya ini sangat dinanti oleh seluruh keluarga besar kami. Rezki dan Nadiah ingin bertanggung jawab. Tolong, jangan pisahkan darah daging kami."

​Namun, tembok yang dibangun Fitria dan Surya terlalu tinggi. Mereka seolah telah menutup telinga dan hati nurani. Bagi mereka, Allea bukan sekadar bayi, melainkan simbol pelengkap kebahagiaan yang selama tiga tahun ini tidak mereka dapatkan. Mereka tetap kekeh, bersikap seolah-olah merekalah orang tua yang paling berhak karena merasa memiliki kemapanan finansial.

​Hingga suatu sore, sebuah pesan masuk dari Fitria langsung ke ponselku. Kalimat-kalimatnya terasa seperti sembilu yang sengaja disayatkan ke luka lamaku.

​"Nadiah, pikirkan baik-baik kalau kalian mau lapor polisi atau ke pengadilan," tulisnya dengan nada dingin yang mengancam. "Status bayi ini di dokumen rumah sakit dan secara hukum adalah anak yang lahir tanpa ayah. Secara administrasi, dia hanya anakmu sendirian. Kalau masalah ini sampai ke meja hijau dan prosedur adopsimu dianggap cacat, bayi ini tidak akan otomatis kembali ke tanganmu."

​Jantungku berdegup kencang membaca baris selanjutnya.

​"Begitu kasus ini mencuat, Dinas Sosial akan turun tangan. Karena statusnya dianggap 'terlantar' atau dalam sengketa hukum, Allea akan diambil paksa oleh negara dan ditahan di panti asuhan atau rumah perlindungan sosial sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Apa kamu tega melihat anakmu hidup di panti asuhan daripada hidup mewah bersama kami? Kamu tidak akan pernah mendapatkan dia kembali karena rekam jejakmu yang dianggap tidak mampu dan tidak stabil secara ekonomi."

​Pesan itu adalah teror mental yang luar biasa. Fitria tahu persis titik lemahku sebagai seorang ibu. Ia menggunakan hukum bukan untuk mencari keadilan, tapi untuk menakut-nakutiku bahwa pilihannya hanya dua: Allea tetap bersamanya atau Allea menderita di panti asuhan negara. Aku terduduk lemas, gemetar hebat. Bayangan Allea berada di sebuah ruangan dingin di panti asuhan, dirawat oleh orang asing tanpa kasih sayang khusus, jauh lebih mengerikan daripada membayangkannya tinggal di rumah mewah Fitria. Fitria seakan ingin menegaskan bahwa di mata hukum, aku adalah ibu yang "cacat" karena melahirkan di luar nikah, dan ia menggunakan status itu untuk menyanderaku agar berhenti berjuang.

​"Rezki..." panggilku parau saat ia pulang kerja. "Fitria bilang kalau kita lapor, Allea akan dibawa ke Dinas Sosial. Dia bilang aku tidak akan pernah bisa memeluk Allea lagi karena statusnya..."

Lihat selengkapnya