BAB 31
MUARA YANG BARU
Waktu perlahan merayap, membawa pergi sisa-sisa badai yang sempat meluluhlantakkan duniaku. Sejak keputusan besar itu kuambil, aku benar-benar menarik diri. Tidak ada lagi pesan singkat yang kukirim pada Fitria, tidak ada lagi pencarian sembunyi-sembunyi di media sosial. Aku membiarkan Allea menjadi bagian dari masa lalu yang kusimpan dalam kotak suci di sudut hati. Kabar burung mengatakan ia telah dibawa ke Kalimantan, jauh dari jangkauanku di Makassar. Aku telah kehilangan akses sepenuhnya, namun anehnya, ada ketenangan yang menyusup di antara rasa kehilangan itu. Aku telah menyerahkannya pada Tuhan, dan itu sudah cukup. Aku melepas putriku dalam penjagaan-NYA. Meskipun Allea tidak berada dalam dekapanku, ada satu sudut di hatiku yang tetap menjadi miliknya, putri pertamaku. Tanggal dan bulan kelahirannya telah terpatri permanen dalam ingatanku, melampaui segala catatan di atas kertas. Bagiku, waktu seolah berhenti di momen saat aku pertama kali mendengar tangisnya.
Setiap tanggal tersebut tiba, duniaku mendadak melambat. Di saat MMaysarah (begitu Fitria memanggilnya) bertambah usia sebulan, aku selalu merasakan getaran hebat di dadaku. Karena aku tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa mencium aromanya, aku melampiaskan rindu itu melalui layar ponsel. Aku sering mengunggah ucapan selamat bertambah usia di media sosialnya yang pengikutnya hanya akun realku. Kadang hanya berupa gambar langit atau kutipan doa yang tulus, berharap angin membawa pesan itu sampai ke Kalimantan. Aku ingin dunia tahu, atau setidaknya aku ingin mencatat untuk diriku sendiri, bahwa di sana, ada separuh nyawaku yang sedang tumbuh besar.
Namun, ada hari-hari di mana rindu itu terlalu berat untuk ditanggung secara anggun. Ada saat-saat di mana aku hanya bisa duduk di sudut kamar, menatap pakaian bayi yang gagal kubawa pulang, dan menangis hingga dadaku sesak. Di momen seperti itu, aku pernah mengunggah foto wajahku dengan mata yang sangat sembab, merah, dan bengkak. Aku tidak peduli jika orang menganggapku terlalu mendramatisir keadaan. Mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memberikan jantung hatimu kepada orang asing demi sebuah "keikhlasan". Foto mata sembab itu adalah bukti bahwa meskipun aku sudah bahagia bersama Rezki, luka itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya belajar untuk hidup berdampingan denganku. Setiap kali aku mengunggah rindu itu, Rezki biasanya akan datang mendekat tanpa banyak bicara. Ia akan memelukku dari belakang, menyandarkan dagunya di bahuku, dan ikut menatap layar ponsel yang menampilkan doa-doa untuk putri pertama kami.
"Dia pasti baik-baik saja di sana, Nadiah. Dia anak yang kuat, seperti ibunya," bisiknya menenangkan.
Aku tahu, di Kalimantan sana, mungkin tidak ada yang merayakan tanggal lahirnya dengan rasa sesak seperti ini. Namun di sini, di setiap napasku, Allea yang pertama akan selalu punya perayaan sendiri. Sebuah perayaan sunyi yang dirayakan dengan doa, air mata, dan harapan bahwa suatu hari nanti, mata sembab ini akan berganti dengan tatapan langsung ke dalam matanya yang indah.
~
Kini, aku fokus menata kepingan hatiku yang terserak. Aku memutuskan untuk tetap berdiri di samping Rezki, lelaki yang menjadi saksi sekaligus kawan dalam duka yang paling dalam. Namun, aku bukan lagi Nadiah yang lemah dan pasrah. Aku menetapkan satu syarat mutlak: ia harus menyelesaikan masa lalunya. Aku tidak ingin lagi menjadi bayang-bayang di atas kebahagiaan orang lain. Rezki harus meresmikan perpisahan dengan istrinya, mengakhiri pernikahan yang memang sudah lama mati suri itu. Keluarga Rezki, yang kini telah menganggapku sebagai bagian dari mereka, mendukung penuh langkah ini. Mereka tidak ingin kami terus terjebak dalam lingkaran dosa yang sama. Mereka ingin kami memulai lembaran baru dengan cara yang diridhai.
Tepat di bulan Februari 2026, di bawah langit yang mulai cerah, sebuah akad sederhana namun sakral dilangsungkan. Meskipun surat cerai resmi dari pengadilan belum turun ke tangan, karena proses hukum yang memakan waktu, orang tua Rezki bersikeras agar kami segera menikah secara agama. Mereka ingin melindungi martabatku dan memastikan bahwa langkah kami ke depan tidak lagi digelayuti beban moral yang berat. Saat kalimat kabul itu terucap mantap dari lisan Rezki, ada air mata yang jatuh, namun kali ini bukan air mata kepedihan. Ini adalah air mata penebusan.