Aroma lem kitchen set bercampur kopi hitam membuntuti pria tinggi dan langsing itu sampai ke dalam kabin Innova perak keluaran beberapa tahun lalu. Dikelilinginya sejenak kendaraan tersebut sebelum memasukinya, lalu menyalakan mesin dengan hati-hati–memastikan bahwa sang empunya tidak akan mendapati masalah pada mobil yang dipinjamkan itu.
Pria itu menyandarkan kepala sejenak ke kemudi, mencoba menghalau kantuk yang mulai menghalangi untuk mengemudi pulang sepanjang dua puluh menit. Hari ini sungguh melelahkan, tetapi ia cukup senang dengan penyelesaian sebuah sketsa panggung dan pemasangan interior dapur tepat sebelum tenggat.
Begitu tiba di apartemen—sebuah unit tipe studio berukuran sedang, dan ditata dengan estetika yang hangat—ia melempar kunci ke atas meja dapur. Tanpa melepas kemeja kerja yang gulungan lengannya sudah kusut, ia merebahkan diri di sofa berbahan kanvas abu-abu, meraih remot, lalu membiarkan tayangan Netflix berputar hanya sebagai suara latar untuk mengusir sunyi. Tangannya kemudian bergerak di layar ponsel, memesan makan malam tercepat yang bisa ia temukan di GoFood.
Lima belas menit kemudian pintu apartemen mengeluarkan bunyi berdecit lembut, tanda bahwa seseorang membuka aksesnya. Pria itu memang tidak pernah mengubah sandi untuk satu-satunya tamu yang selalu masuk tanpa mengetuk.
Seorang pria jangkung dengan kemeja rapi berdiri di ambang pintu. Langkahnya teratur, wajahnya tenang, dan di tangannya ada sebuah bungkusan makanan yang terikat kabel ties.
“Eh, makasih, Bro!” sang penghuni kamar menyambar pesanannya sambil nyengir lebar.