Satu: Berkah Keracunan Seafood
“Atas nama Nona Narina Cahaya Tresna!” panggil juru rawat berseragam hijau lembut dari balik pintu ruang praktek yang tiba-tiba terbuka.
Narina, yang sejak tadi duduk meringkuk di kursi tunggu pasien, menegakkan tubuhnya perlahan. Perempuan muda dengan rambut layered yang panjangnya sedikit melebihi bahu itu bangkit sambil menekan perutnya dengan bantal panas elektrik untuk mengurangi rasa melilit di perut. Tersangka utama penyebab penyakit ini ia duga adalah makan malamnya.
“Nona Narina ada …?”
“Ada, Sus ….” Narina memasuki ruangan dan langsung duduk di kursi, berhadapan dengan seorang pria muda yang memakai jas putih.
Wajah Narina pucat pasi, tatapannya sayu dan napasnya pendek-pendek karena menahan nyeri. Ia benar-benar sakit—tidak ada keraguan soal itu. Namun, ketika suara bariton yang tenang itu menyapanya, ada perasaan lain yang seketika menyaingi rasa melilit di perutnya.
“Ada keluhan apa, Mbak?” tanya dokter berhidung mancung dan berwajah bersih itu. Sorot matanya tajam tetapi memancarkan kehangatan yang menenangkan.
“Mm, saya rasa, saya keracunan seafood, Dok,” jawab Narina lirih